Wakil Ketua MPR Serukan Peningkatan Kesadaran Mitigasi Bencana
Jurnal Indonesia - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menggarisbawahi pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait edukasi mitigasi bencana. Hal ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana di Indonesia.
Awal Kejadian
Pernyataan tersebut disampaikan Lestari saat berbicara dalam diskusi daring bertema 'Peningkatan Aktivitas Seismik di Pasifik: Implikasi dan Langkah Antisipatif Bagi Indonesia', yang diselenggarakan oleh Forum Diskusi Denpasar 12. Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai lembaga, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Perkembangan
Lestari Moerdijat menyatakan bahwa aktivitas kegempaan di Cincin Api Pasifik menunjukkan peningkatan yang signifikan. Menurutnya, ancaman bencana harus diantisipasi melalui penguatan infrastruktur, optimalisasi teknologi, dan kesiapsiagaan masyarakat. Ia juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk membangun kesiapsiagaan yang lebih baik.
Wijayanto dari BMKG mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, Indonesia mengalami 43.439 kejadian gempa yang tidak dapat diprediksi. Sumber gempa berasal dari subduksi lempeng dan patahan aktif, yang berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo di atas 8,5. Oleh karena itu, perlu ada langkah-langkah antisipatif seperti pemanfaatan peta rawan bencana dan sistem informasi bencana yang efektif.
Widjo Kongko, peneliti senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menambahkan bahwa 60% tsunami disebabkan oleh gempa tektonik. Ia juga mengingatkan bahwa 60% kota-kota di Indonesia terletak di pesisir yang rentan terhadap tsunami, sehingga pemahaman masyarakat tentang risiko dan sistem peringatan dini harus diperkuat.
Kondisi Terakhir
Dari hasil diskusi, disimpulkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana sangat bergantung pada pemahaman dan sistem peringatan dini yang efektif, serta perhatian terhadap infrastruktur penting yang berada di kawasan rawan bencana.




