Pontjo Sutowo Tegaskan Pentingnya Kesadaran Baru Hadapi Ancaman Amuk Alam
Sumber Foto: Smart Newsroom
Perspektif

Pontjo Sutowo Tegaskan Pentingnya Kesadaran Baru Hadapi Ancaman Amuk Alam

Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak mengabaikan potensi besar ancaman bencana alam yang kini semakin nyata dan kompleks. Ancaman tersebut meliputi banjir bandang, longsor, gempa megathrust, gelombang panas, kenaikan permukaan laut, abrasi pantai, krisis air bersih, hingga kekeringan panjang yang berdampak pada gagal panen.

Menurut Pontjo, kerusakan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas manusia seperti penebangan hutan, pengerukan gunung, penyempitan sungai, penimbunan rawa, dan penggunaan beton secara berlebihan telah mengganggu keseimbangan alam. Kondisi ini memperbesar risiko terjadinya bencana yang tidak hanya mengancam lingkungan hidup, tetapi juga keselamatan manusia, ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi, dan masa depan bangsa.

Indonesia berada di wilayah rawan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan aktivitas gunung berapi, termasuk zona megathrust yang berpotensi menimbulkan gempa besar. Selain itu, perubahan iklim global memperparah intensitas cuaca ekstrem. Fenomena gelombang panas yang melanda Eropa dan Amerika pada pertengahan 2026, dengan suhu mencapai 42,2 hingga 44 derajat Celsius, serta kebakaran hutan yang meluas, menjadi peringatan serius bagi Indonesia. Gelombang panas di Amerika bahkan diperkirakan melampaui 37,8 derajat Celsius di banyak wilayah, menandakan bahwa "amuk alam" bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung.

Pontjo menegaskan bahwa menghadapi ancaman ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan rapat, seminar, slogan, atau seremoni Hari Lingkungan Hidup. Diperlukan gerakan nyata yang masif, sistematis, dan berkelanjutan. Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan adalah gerakan nasional menanam dan merawat pohon. Ia menekankan pentingnya kata "merawat" yang harus menyertai kata "menanam", karena selama ini banyak kegiatan penghijauan yang berhenti setelah penanaman tanpa perawatan sehingga pohon-pohon tersebut mati. Keberhasilan gerakan ini harus diukur dari jumlah pohon yang hidup dalam jangka waktu panjang dan partisipasi masyarakat yang luas, sehingga menjadi budaya bangsa.

Pontjo mengingatkan bahwa alam adalah rumah bersama yang harus dijaga. Hutan berperan sebagai penjaga air, pohon melindungi tanah, sungai menjadi urat nadi kehidupan, dan laut sebagai sumber pangan serta pengatur iklim. Menanam pohon bukan sekadar menanam batang dan daun, melainkan menanam air, udara bersih, keselamatan, pekerjaan, dan harapan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah harus bersatu membangun kesadaran baru untuk berdamai dengan alam demi masa depan bangsa yang lebih baik.