Wakil Ketua MPR Dukung Pembangunan Jembatan di Sulteng
PALU, KAIDAH.ID – Wakil Ketua MPR RI, Abcandra M. Akbar Supratman, memastikan tiga lokasi di Sulawesi Tengah yang tidak mengalami persoalan akses jembatan, telah dilaporkan dan diteruskan ke Satuan Tugas (Satgas) Jembatan, untuk segera ditindaklanjuti.
Ketiga lokasi tersebut berada di Kabupaten Tolitoli, di wilayah Sojol Kabupaten Donggala, serta Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong.
“Tolitoli yang sebelumnya jenazah diusung menyeberang sungai, kemudian di wilayah Sojol Kabupaten Donggala dan di Bainaa Barat Parigi Moutong. Ini sudah masuk datanya dan insya Allah segera dieksekusi,” kata Abcandra M. Akbar Supratman.
Ia juga mengajak masyarakat, untuk aktif berbagi informasi terkait kondisi infrastruktur yang membutuhkan perhatian pemerintah. Menurutnya, kolaborasi informasi akan memudahkan Satgas bergerak cepat sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kalau ada info lainnya bisa saling berbagi, agar tim satgas pun bisa bergerak sesuai kebutuhan yang ada di Sulteng,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, mengatakan pihaknya telah mengusulkan pembangunan sejumlah jembatan ke kementerian terkait.
“Sudah kami usulkan ke menteri. Lebih kurang sebanyak 10 jembatan di Sulteng kondisinya seperti itu,” kata Gubernur Anwar.
Merespons hal tersebut, Wakil Ketua MPR meminta agar usulan yang telah dikirim ke menteri, dapat juga disampaikan kepadanya agar bisa ikut membantu menindaklanjutinya.
Seperti diberitakan sebelumnya, SD Negeri Terpencil Bainaa Barat berada di pelosok Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong. Akses menuju sekolah tersebut masih sangat terbatas. Para guru dan murid harus menyeberangi sungai setiap hari untuk sampai ke sekolah. Saat musim hujan, debit air kerap meningkat dan menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan mereka.
Kondisi memprihatinkan juga terjadi di Kabupaten Tolitoli. Jembatan titian di kompleks belakang Rumah Adat, Jalan Hanjala, yang menjadi akses utama bagi sekitar 15 kepala keluarga, kini dalam kondisi rapuh dimakan usia. Dengan panjang sekitar 100 meter, jembatan tersebut tak lagi mampu menahan beban berat. Bahkan, warga terpaksa menyeberangi sungai saat mengantar jenazah ke pemakaman karena kondisi jembatan yang tidak layak dilalui.
Warga Sulteng berharap, percepatan pembangunan jembatan di sejumlah titik tersebut dapat segera terealisasi demi menjamin keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat. (*)
(Ruslan Sangadji)




