Homo Deus: Benarkah Kelaparan, Wabah, dan Perang Telah Berakhir?
Sumber Foto: khittah.co
Internasional

Homo Deus: Benarkah Kelaparan, Wabah, dan Perang Telah Berakhir?

Jurnal Indonesia - Buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia karya Yuval Noah Harari mengklaim bahwa manusia telah berhasil mengubah kelaparan, wabah, dan perang dari ancaman takdir menjadi persoalan yang dapat dikelola. Namun, pertanyaan timbul mengenai kebenaran pernyataan tersebut di tengah realitas yang masih menyaksikan jutaan orang kelaparan, pandemi COVID-19 yang melumpuhkan, serta konflik yang terus berlangsung.

Awal Kejadian

Harari menyatakan bahwa selama ribuan tahun, ketiga persoalan utama umat manusia adalah kelaparan, wabah, dan perang. Ia berargumen bahwa dalam satu abad terakhir, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengurangi dampak dari ketiga ancaman tersebut, sehingga manusia mulai berfokus pada tujuan baru seperti umur panjang dan kebahagiaan.

Perkembangan

Namun, kritik dari Amartya Sen menantang pandangan ini. Dalam karyanya, Sen menjelaskan bahwa kelaparan sering kali disebabkan oleh kegagalan institusi sosial dan politik dalam memberikan akses pangan, bukan hanya kekurangan makanan. Johan Galtung juga menambahkan bahwa kekerasan struktural menciptakan ketidakadilan, yang berdampak pada kelaparan dan layanan kesehatan. Pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa meskipun teknologi berkembang pesat, solidaritas manusia dan kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan justru menurun. Hans Jonas mengingatkan bahwa tanggung jawab moral harus sejalan dengan kemajuan teknologi.

Kondisi Terakhir

Perang pun tidak hilang, melainkan berganti bentuk menjadi perang ekonomi, siber, dan informasi. Zygmunt Bauman menggambarkan masyarakat modern sebagai 'Liquid Modernity', di mana hubungan antarmanusia semakin rapuh. Hannah Arendt mengingatkan bahwa kejahatan kemanusiaan seringkali dilakukan oleh orang-orang biasa yang tidak berpikir secara moral. Dalam konteks ini, kelaparan, wabah, dan perang memiliki akar yang sama: ketimpangan. Pendidikan yang membangun kesadaran kritis diperlukan untuk menghadapi ketidakadilan ini. Ukuran kemajuan peradaban bukan hanya dari teknologi, tetapi dari bagaimana ilmu pengetahuan memuliakan manusia.