Firman Soebagyo Dorong Pancasila Sebagai Landasan Kehidupan Masyarakat Pati
WARTAPHOTO.net. PATI — Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, H. Firman Soebagyo, S.H., M.H., menggelar Sosialisasi MPR RI tentang Pemantapan Wawasan Kebangsaan dan Empat Konsensus Dasar di Balai Desa Lengkong, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Sabtu (7/2/2026).
Kegiatan di daerah pemilihan Jawa Tengah III (Pati, Rembang, Grobogan, dan Blora) tersebut dihadiri anggota DPRD Pati Endah Sri Wahyuningati dan Nanda Yahya Prasetya, unsur Muspika Batangan, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga Desa Lengkong.
Kepala Desa Lengkong, Yashadi menyambut positif kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas kehadiran Firman Soebagyo yang kembali turun langsung menyapa masyarakat di wilayah pesisir utara Pati ini.
“Kami mengapresiasi kehadiran Pak Firman di Desa Lengkong. Sosialisasi MPR RI ini sangat penting untuk menguatkan kembali pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila di tengah dinamika sosial yang berkembang,” ujarnya.
Dalam sesi dialog, sejumlah peserta menyampaikan berbagai persoalan kemasyarakatan yang dinilai mulai bergeser dari nilai-nilai Pancasila. Salah satunya terkait fenomena sound horeg yang kerap diputar tidak pada tempat dan waktu yang semestinya sehingga memicu keresahan warga serta mengganggu ketertiban umum.
Selain itu, warga juga menyoroti hiburan dangdut yang dalam beberapa kesempatan berujung pada keributan dan konflik antarwarga. Peserta menilai lemahnya pengendalian sosial dan kurangnya kesadaran kolektif menjadi tantangan serius dalam menjaga harmoni sosial di tingkat desa.
Menanggapi hal tersebut, Firman Soebagyo menegaskan bahwa Pancasila harus hadir sebagai nilai hidup, bukan sekadar slogan.
“Semua bentuk hiburan itu boleh, tapi harus beradab dan menghormati hak orang lain. Ketika hiburan justru menimbulkan konflik, di situlah nilai Pancasila diuji. Saya berterima kasih aspirasi dan usulan yang muncul langsung dari masyarakat ini, InsyaAllah akan saya tindak lanjuti dan kita awali dari Kecamatan Batangan,” tegasnya.
Firman juga menyinggung pentingnya rekonsiliasi sosial pasca gerakan masyarakat Agustus 2025 lalu. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri, saling memaafkan, dan kembali menata kebersamaan demi masa depan Kabupaten Pati yang lebih baik.
“Kita tidak boleh terus terjebak pada konflik masa lalu. Rekonsiliasi adalah kunci agar Pati menjadi daerah yang damai, tertata, dan maju. Jangan sampai perbedaan dimanfaatkan untuk memecah belah persatuan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Firman menguraikan nilai-nilai Pancasila secara kontekstual. Pada Sila Pertama, ia mengajak masyarakat menjaga toleransi antarumat beragama, terutama menjelang bulan Ramadan. Sila Kedua ditekankan melalui kepedulian terhadap warga yang sakit dan kesulitan ekonomi.
“Apa artinya rajin beribadah kalau rasa kemanusiaan kita tumpul,” katanya.
Pada Sila Ketiga, Firman mengingatkan pentingnya gotong royong dan persatuan, khususnya di tengah dinamika sosial yang sensitif. Sementara Sila Keempat ia tekankan melalui pentingnya komunikasi yang sehat antara pemerintah dan masyarakat agar kebijakan tidak disalahpahami dan dipolitisasi.
Melalui sosialisasi ini, Firman Soebagyo berharap nilai-nilai Pancasila dan empat konsensus dasar bangsa dapat kembali menjadi pegangan bersama dalam menyelesaikan persoalan sosial serta membangun Kabupaten Pati yang damai dan berkeadaban.




