Dwi Ajeng Ajak Muslimat NU Batam Jaga Nilai Kebangsaan Melalui Empat Pilar
Sumber Foto: Ulasan.co
Nasional

Dwi Ajeng Ajak Muslimat NU Batam Jaga Nilai Kebangsaan Melalui Empat Pilar

BATAM – Anggota DPD RI Komite IV sekaligus Anggota MPR RI dari Kepulauan Riau, Dwi Ajeng Sekar Respaty, mengajak ratusan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Batam untuk proaktif menjaga nilai-nilai kebangsaan melalui Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Perwakilan DPD RI Kepulauan Riau, Batam Center, Jumat 6 Februari 2026 tersebut menjadi ruang dialog kebangsaan yang hangat dan partisipatif.

Selain Dwi Ajeng Sekar Respaty, acara dihadiri Ketua PC Muslimat NU Kota Batam Munawarotun Nasichah, S.Pd, yang memberikan pengarahan, Ustadah Siti Nur Latifah, S.Pd.I, serta pendalaman materi oleh akademisi Universitas Batam (Uniba) Dr. H. Ngaliman, S.E., M.Si.

Dalam kesempatan itu, Dwi Ajeng Sekar Respaty menekankan pentingnya peran perempuan dalam merawat warisan kebangsaan yang diteladankan oleh tokoh pendiri NU sekaligus Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy’ari dan Proklamator Ir Soekarno.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, tercermin kuat dalam Empat Pilar MPR RI dan harus dihidupkan mulai dari keluarga hingga komunitas perempuan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar konsep konstitusional. Namun, nilai tersebut harus menjadi pedoman hidup sehari-hari, terutama melalui keteladanan para ibu dalam membentuk karakter anak dan lingkungan sosial.

“Ibu-ibu Muslimat NU memiliki peran penting sebagai penjaga nilai, pendidik pertama dalam keluarga, sekaligus perekat sosial di masyarakat. Penguatan Empat Pilar harus dimulai dari ruang-ruang paling dasar, yaitu keluarga dan komunitas,” ujar Dwi Ajeng Sekar Respaty.

Selain itu, senator perempuan satu-satunya asal Kepulauan Riau ini menyoroti tantangan kebangsaan yang semakin kompleks. Menurutnya, penguatan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus dilakukan secara kontekstual. Agar mampu menjawab dinamika zaman, khususnya di wilayah multikultural seperti Batam.

Oleh karena itu, Muslimat NU dinilai memiliki posisi strategis dalam merawat tradisi Islam moderat yang sejalan dengan semangat persatuan nasional. Terlebih, mobilitas masyarakat Kepulauan Riau yang tinggi menuntut peran aktif komunitas perempuan dalam menjaga harmoni sosial.

Sekar, sapaan akrabnya, menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan sosialisasi Empat Pilar MPR RI secara inklusif dan membumi. Ia berharap Muslimat NU Batam mampu menjadi agen penguat nilai kebangsaan yang menyejukkan, moderat, serta berorientasi pada persatuan bangsa.

Sementara itu, materi sosialisasi diperdalam oleh Dr. H. Ngaliman, S.E., M.Si. yang mengingatkan pesan Presiden Ir Soekarno tentang pentingnya tidak melupakan sejarah atau Jasmerah. Ia menjelaskan bahwa seluruh capaian bangsa Indonesia saat ini tidak terlepas dari kebijaksanaan para pendiri bangsa dalam merumuskan konsensus bernegara melalui Empat Pilar MPR RI.

Lebih lanjut, Ngaliman menekankan bahwa para pendiri bangsa menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Konsensus tersebut menjadi perekat kebhinekaan yang menjaga persatuan dalam bingkai NKRI hingga hari ini.

Ia juga menyoroti kontribusi besar tokoh pendiri NU dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satunya melalui Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Kemudian digelorakan Bung Tomo dan memicu perlawanan rakyat terhadap penjajah. Momentum heroik tersebut dikenal luas melalui peristiwa 10 November 1945.

Menurutnya, kesadaran sejarah seperti itu penting untuk menumbuhkan tanggung jawab generasi masa kini dalam merawat konsensus kebangsaan Empat Pilar MPR RI sebagai warisan luhur para pendiri bangsa.