Strategi Investasi 2026 Standard Chartered di Tengah Gejolak Pasar Global
Standard Chartered mengidentifikasi tiga tema utama investasi 2026.
Red: Satria K Yudha
Foto: Standard Chartered
Forum World of Wealth (WoW) ke-23 yang digelar Standard Chartered di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Standard Chartered Indonesia membahas prospek investasi 2026 di tengah dinamika pasar global melalui forum World of Wealth (WoW) ke-23 yang digelar di Jakarta, Kamis (5/2/2026). Forum ini menyoroti peluang aset berisiko, strategi diversifikasi, serta arah ekonomi Indonesia di tengah valuasi pasar yang relatif tinggi.
Diskusi menghadirkan praktisi investasi dan ekonom untuk mengulas perkembangan ekonomi global dan regional, peluang lintas kelas aset, serta pendekatan penyusunan portofolio yang lebih terstruktur dan resilien.
Baca Juga
MoU dengan Australia, Danantara Perkuat Investasi dan SDM
BKPM Pede Target Investasi Rp 13.032 Triliun Dapat Tercapai
Rosan: Kepercayaan Pasar Modal Kunci Tarik Investasi Asing Langsung
Forum tersebut menghadirkan Managing Director and Senior Portfolio Manager Asia Pacific Equity Strategies Manulife Investment Management Marco Giubin, Presiden Direktur Schroders Indonesia Michael T. Tjoajadi, serta Senior Economist Standard Chartered Indonesia Aldian Taloputra.
Pembahasan mengacu pada laporan Global Market Outlook 2026 – Blowing Bubbles? dari Standard Chartered. Laporan ini menilai kenaikan valuasi sejumlah aset belum menunjukkan karakteristik gelembung sistemik seperti pada periode sebelumnya.
Dalam laporan tersebut, Standard Chartered memproyeksikan aset berisiko, khususnya ekuitas, masih berpotensi mencatat kinerja positif pada 2026. Proyeksi tersebut didukung oleh pertumbuhan laba perusahaan serta tema struktural, termasuk adopsi teknologi dan kecerdasan buatan.
Standard Chartered mengidentifikasi tiga tema utama investasi 2026, yakni ekuitas dengan fokus pada pasar yang ditopang pertumbuhan laba, instrumen pendapatan terutama obligasi pasar berkembang, serta aset diversifikasi seperti emas dan strategi alternatif untuk meredam volatilitas portofolio.
Pendekatan investasi tersebut menekankan pentingnya diversifikasi lintas kelas aset dan kawasan, dengan struktur alokasi yang mencakup komponen inti, taktis, dan oportunistik guna menyeimbangkan potensi imbal hasil dan risiko jangka panjang.
CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro OBE mengatakan, di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan, pihaknya tetap optimistis terhadap potensi investasi jangka panjang Indonesia. “Langkah-langkah reformasi yang cepat dari regulator, serta fokus yang berkelanjutan pada fundamental ekonomi, menjadi fondasi penting untuk pemulihan,” kata Donny dalam siaran pers, Sabtu (7/2/2026).
Sementara itu, Senior Economist Standard Chartered Indonesia Aldian Taloputra menyampaikan, riset Standard Chartered memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,2 persen pada 2026, meningkat dari proyeksi 5 persen pada 2025. Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia diperkirakan tetap berhati-hati dengan menyeimbangkan stabilitas eksternal dan dukungan terhadap pertumbuhan domestik.
Selain membahas strategi investasi, forum ini juga diisi dengan penyerahan donasi kepada Plan International Indonesia untuk mendukung pemulihan pascabencana banjir di sejumlah wilayah Sumatra. Donasi sebesar Rp250 juta difokuskan pada pemulihan kesejahteraan masyarakat terdampak.
Ikuti Whatsapp Channel Republika
Advertisement
standard chartered indonesia
world of wealth 2026
strategi investasi 2026
pasar global
diversifikasi investasi
ekuitas
obligasi emerging markets
emas
ekonomi indonesia 2026
bank indonesia
global market outlook
Berita Terkait
Visual - 4 jam yang lalu
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital, BI Resmi Luncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia
Ekonomi - 18 jam yang lalu
Antusiasme Penukaran Uang Baru Tinggi, BI Tambah Jadwal
Ekonomi - 20 February 2026, 19:20
BI Optimalkan Insentif bagi Bank yang Turunkan Suku Bunga Kredit
Ekonomi - 20 February 2026, 15:12
BI Catat Modal Asing Masuk ke Indonesia 1,6 Miliar Dolar AS, Rupiah Terdorong Lebih Stabil
Ekonomi - 20 February 2026, 13:50
QRIS Sudah Bisa Digunakan di China dan Korsel Awal April 2026
Ekonomi Syariah - 20 February 2026, 07:00
Sektor Halal Indonesia Tumbuh 6,2 Persen di 2025
Ekonomi - 19 February 2026, 20:44
Kredit Nganggur per Januari 2026 Naik Jadi Rp2.506 Triliun, Thomas Bicara Likuiditas
Ekonomi - 19 February 2026, 20:10
Nilai Tukar Rp 16.880 per Dolar AS, BI Ungkap Faktor Tekanan Rupiah
Berita Lainnya
News - Selasa , 24 Feb 2026, 00:30 WIB
Kakorlantas Polri Tegaskan Keselamatan Mudik Lebaran 2026 Jadi Prioritas
News - Selasa , 24 Feb 2026, 00:27 WIB
Survei Median: Ada 78,8 Persen Masyarakat Tahu Dewan Perdamaian
News - Selasa , 24 Feb 2026, 00:15 WIB
PSIM Yogyakarta Bangkit dari Ketertinggalan Tiga Gol, Tahan Imbang Bali United
News - Selasa , 24 Feb 2026, 00:00 WIB
Pembangunan Huntara di Aceh Barat Hampir Rampung
News - Senin , 23 Feb 2026, 23:09 WIB
Teheran Siapkan Draf Negosiasi dengan AS




