Pola Makan Sehat untuk Pencegahan Kanker dan Peningkatan Kualitas Hidup
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Pola Makan Sehat untuk Pencegahan Kanker dan Peningkatan Kualitas Hidup

RRI.CO.ID, Surakarta - Pola makan sehat dinilai memiliki peran penting dalam upaya pencegahan kanker sekaligus mendukung kualitas hidup pasien dan penyintas kanker.

Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, pada Rabu, 4 Februari 2026 bersama Dietisien RS Dr. Moewardi, Wiwik Ekorinawati, S. Gz., R.D dan Setyaningrum Rahmawaty, M.Kes., Ph.D., Dosen Gizi Klinik Prodi Ilmu Gizi UMS (Ema), yang membahas pentingnya diet kanker sebagai bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.

Menurut Ema, kanker menduduki peringkat kedua terbesar penyebab kematian setelah penyakit kardiovaskuler. Kanker bukan merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sebagainya, sehingga bisa dicegah dari pola gaya hidup yang sehat.

“Menurut data dari Global Burden of Disease (GBD), saat ini setidaknya ada 50 tipe kanker,” ujarnya.

Sementara itu Wiwik, seorang dietisien menyampaikan bahwa penyebab kanker tidak hanya dipengaruhi faktor genetik. Tetapi juga sangat berkaitan dengan pola hidup sehari-hari, terutama pola makan.

"Konsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan makanan olahan disebut dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker," katanya.

Ia menambahkan, diet kanker itu bukan sekadar pantangan, tetapi strategi untuk menjaga keseimbangan tubuh. Pola makan sehat bisa membantu mencegah kanker sekaligus mendukung proses pengobatan.

Diet kanker tidak dapat disamaratakan karena sangat bergantung pada organ yang terdampak penyakit tersebut. Secara umum diet kanker terbagi menjadi dua pendekatan, yakni diet pencegahan (prevention) dan diet bagi pasien yang sudah terdiagnosis kanker.

“Kalau pencegahan, prinsipnya sederhana. Dengan menerapkan konsep Isi Piringku, ditambah aktivitas fisik, cukup minum, dan meminimalkan paparan lingkungan berisiko, insyaallah kanker bisa dikendalikan,” katanya, menjelaskan.

Dalam prinsip Isi Piringku, setengah piring diisi sayur dan buah, sementara setengah lainnya terdiri dari karbohidrat dan lauk berprotein. Pola ini dinilai efektif sebagai langkah awal pencegahan kanker yang dapat diterapkan seluruh lapisan masyarakat.

Sementara pada pasien kanker, pendekatan diet menjadi lebih kompleks. Hal itu terjadi karena adanya perubahan metabolisme tubuh atau hipermetabolisme.

“Pasien kanker itu kebutuhannya meningkat, tapi sering justru nafsu makannya turun, baik karena penyakitnya maupun efek samping terapi seperti kemoterapi,” ujarnya

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pasien dianjurkan menerapkan pola makan porsi kecil tetapi sering, dengan asupan tinggi energi dan tinggi protein. Jika asupan makanan tidak mencukupi, pasien dapat diberikan dukungan nutrisi berupa makanan cair bernilai gizi tinggi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Ema menambahkan, diet pasien kanker juga bergantung pada organ yang terkena dampak lanjutan.

“Kalau misalnya kanker sudah bermetastasis ke ginjal, maka dietnya akan menyesuaikan prinsip diet ginjal. Jadi memang tidak bisa disamaratakan, semuanya berdasarkan hasil asesmen,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan saluran cerna melalui asupan serat dan pangan fermentasi seperti tempe. Keseimbangan bakteri baik di usus dinilai berpengaruh terhadap daya tahan tubuh dan proses pemulihan.

Terkait penggunaan herbal, masyarakat diimbau untuk tidak menjadikannya sebagai pengganti pengobatan medis.

“Herbal boleh digunakan sebagai pendamping, tetapi tidak menggantikan terapi utama. Penggunaannya tetap harus dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Selain pola makan, faktor psikologis dan dukungan keluarga juga memegang peranan penting. Dengan pola hidup sehat, pengelolaan stres, serta asupan gizi seimbang, risiko kanker dapat ditekan dan kualitas hidup pasien maupun penyintas kanker dapat terus ditingkatkan. (Hil)