Pasar Takjil Ramadhan Meriah di Kampung Kue Surabaya, Libatkan Ratusan Pedagang
Sumber Foto: Kompas.com
Ekonomi

Pasar Takjil Ramadhan Meriah di Kampung Kue Surabaya, Libatkan Ratusan Pedagang

SURABAYA, KOMPAS.com - Berburu takjil di waktu ngabuburit menjadi suatu tradisi khas Indonesia yang selalu ditunggu-tunggu selama bulan Ramadhan.

Kehadiran berbagai pasar takjil di setiap sudut kota ikut mewarnai semarak Ramadhan dengan ciri khas di masing-masing daerah.

Salah satunya, Kampung Kue yang terletak di Jalan Rungkut Lor, Kecamatan Rungkut, Surabaya, yang dalam dua tahun terakhir menjadi tempat jajan bagi pemburu takjil saat bulan puasa.

Sejak sekitar pukul 16.00 WIB, deretan pedagang mulai memenuhi area ini, menawarkan aneka kue tradisional, seperti lemper, kue lumpur, risoles, hingga kue modern. Beragam minuman juga tersedia mulai dari es kopyor, es cincau, dan es buah.

Arus lalu lintas terpantau sedikit merambat karena dipenuhi dengan pedagang dan pembeli di sisi kanan dan kiri jalan.

Masyarakat dari berbagai daerah langsung memenuhi area dagangan tersebut memborong jajanan dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 1.500 hingga Rp 5.000.

Pendiri Kampung Kue, Choirul Mahpuduah, menyebut lokasi ini muncul berawal dari inisiatif paguyuban Kampung Kue untuk mulai mengadakan takjil di sepanjang Jalan Rungkut Lor pada 2023.

Kini, penjual yang ikut berpartisipasi mencapai lebih dari 100 pedagang dari enam kelurahan di Kecamatan Rungkut. Mulai dari kelurahan Kali Rungkut, Medokan Ayu, Wonorejo, Penjaringan Sari, Rungkut Kidul, dan Kedung Baruk.

“Saya kira itu pertama kali adalah ketika kampung kue mencoba berjualan keluar, tapi sekarang sudah karena banyak peminat dan itu terbaca oleh teman-teman UKM yang lain, akhirnya kemudian ke kiri dan ke kanan itu menjadi bertambah banyak,” kata Irul, sapaan akrabnya, saat ditemui Kompas.com, Kamis (19/2/2026).

“Ada juga UMKM lain yang tidak ikut paguyuban pun juga boleh ikut, biasanya karena mereka tidak dapat tempat di kelurahan masing-masing,” sambung dia.

Irul menuturkan, persiapan pasar takjil tersebut sudah dilakukan sejak dua minggu sebelum memasuki Ramadhan.

“Karena banyaknya pedagang di sini juga punya usaha masing-masing, jadi biasanya sejak dua minggu sebelumnya mereka sudah persiapan,” tutur dia.

Menurut Irul, dengan adanya pasar takjil yang menjadi agenda tahunan di kampung kue turut mendukung perekonomian masyarakat sekitar, terutamanya dalam menyambut hari raya Idul Fitri.

“Ini masyarakat yang betul-betul ingin merayakan Idul Fitri bagaimana mereka mempunyai penghasilan tambahan karena situasi ekonominya sekarang sedikit lesu kalau saya bilang, makanya kemudian ibu-ibu bersemangat,” ucapnya.

Ia juga memastikan agar para pedagang tidak mengganggu arus lalu lintas dan kenyamanan pengendara dengan hanya berjualan di atas trotoar dan tidak sampai meluber ke jalanan.

“Jadi, teman-teman yang di sana itu hanya berjualan di atas trotoar, tidak ada yang turun ke jalan. Bahwasanya yang beli sampai ke jalan, pastilah yang namanya orang beli kan di jalan, ya kan, itu pasti,” sebut dia.

Mengingat memasuki puncak musim hujan seperti sekarang, Irul juga selalu mengimbau para pedagang untuk mempersiapkan payung-payung yang memadai dengan ukuran kurang lebih dua meter.

“Seperti tadi siang kan hujan sampai jam 15.00 WIB, ada beberapa yang nekat buat tetap buka karena payungnya cukup mengakomodir, tapi ada juga yang menunggu hujan reda,” kata dia.