Pasar Drama Pendek Global Diprediksi Capai Rp2.100 Triliun
INDORAYA – Minat penonton dunia terhadap drama pendek atau short drama terus melonjak, seiring pertumbuhan pesat nilai industrinya. Format tontonan singkat yang ramah ponsel kini berubah dari sekadar tren menjadi bisnis global bernilai jumbo.
Gelombang ini ditandai dengan kemunculan berbagai platform khusus konten berdurasi pendek. Salah satunya Sero dari Korea Selatan yang resmi diluncurkan Serobonneung pada Kamis (5/2/2026).
Platform ini menyajikan film, drama, dan variety show pendek yang disusun ulang agar tetap utuh secara alur cerita. Sasarannya adalah penonton usia 20–30 tahun yang menonton di sela aktivitas harian.
Dari sisi bisnis, Sero bergerak agresif dengan menyiapkan produksi drama original serta ekspansi ke berbagai negara lewat kemitraan dengan platform lokal. Di pasar domestik Korea, distribusi diperkuat melalui kerja sama dengan KT Genie TV dan KT Studio Genie agar jangkauan konten tidak hanya bergantung pada aplikasi mandiri.
Data riset yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan pasar global konten short form diproyeksikan tumbuh 25,6% per tahun. Nilainya melonjak dari sekitar 60 triliun won atau US$40 miliar (sekitar Rp674,4 triliun) pada 2021 menjadi 187 triliun won atau US$125 miliar (sekitar Rp2.107,5 triliun) pada 2026 – hampir tiga kali lipat.
Secara format, drama pendek identik dengan episode singkat berorientasi vertikal, konflik cepat, penuh twist, dan dirancang khusus untuk konsumsi mobile. Model bisnisnya pun fleksibel, mulai dari gratis di awal hingga sistem berbayar lewat koin, iklan, atau paket langganan.
China menjadi salah satu motor utama pertumbuhan format ini sejak pandemi. Menurut Media Partners Asia, industri micro drama di China sudah bernilai US$8 miliar (sekitar Rp132 triliun) pada 2024. Biaya produksinya relatif rendah, sekitar US$150.000–US$300.000 per seri dengan waktu pengerjaan hanya 8–10 hari, tetapi mampu menghasilkan jutaan penonton dan miliaran tayangan setiap hari.
Lembaga yang sama mencatat pertumbuhan tahunan majemuk di atas 16%, menjadikan micro drama sebagai salah satu segmen hiburan digital dengan pertumbuhan tercepat. Nilai pasar China diperkirakan mencapai US$16,2 miliar pada 2030, sementara pasar luar negeri melonjak hampir sepuluh kali lipat menjadi US$9,5 miliar.
Tren ini memicu lahirnya platform drama pendek dari berbagai negara, mulai Singapura, Hong Kong, Finlandia, hingga Amerika Serikat. Indonesia juga mulai mengikuti arus lewat kehadiran konten drama pendek di sejumlah platform digital, meski hingga kini belum memiliki layanan yang benar-benar khusus dan fokus penuh pada short drama.




