Probolinggo Resmi Luncurkan Digitalisasi Posyandu untuk Tingkatkan Layanan Kesehatan
Kanigaran, InfoPublik – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo resmi meluncurkan Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan Terintegrasi untuk Monitoring dan Evaluasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat (KGM) 2026 di Ruang Puri Manggala Bhakti Kantor Wali Kota Probolinggo, pada Kamis (5/2/2026).
Kepala Dinas Kesehatan P2KB Kota Probolinggo, Intan Sudarmadi, menjelaskan bahwa Posyandu yang dahulu dikenal sebagai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) kini telah berkembang menjadi Posyandu 6 Standar Minimal (SM).
Enam bidang dasar tersebut meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, serta ketenteraman dan ketertiban umum.
“Perkembangan layanan Posyandu kini mencakup seluruh siklus hidup melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Digitalisasi melalui aplikasi Siskia Mobile menjadi solusi untuk memudahkan pendataan dan pelaporan secara real time oleh kader,” jelasnya.
Menurutnya, digitalisasi Posyandu berperan penting dalam pengambilan keputusan berbasis data dan penurunan angka kematian ibu (AKI). Saat ini terdapat 219 Posyandu di 29 kelurahan yang seluruhnya akan difasilitasi tablet digital untuk mendukung pengelolaan data kesehatan.
Selain itu, Pemkot juga memperkenalkan jam tangan kesehatan bagi ibu hamil untuk memantau kondisi ibu dan anak secara berkelanjutan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga pertumbuhan balita.
Langkah ini dinilai efektif mempercepat deteksi dini risiko kehamilan sekaligus membantu tenaga kesehatan dalam memberikan intervensi cepat guna menekan angka kematian ibu dan bayi.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, menyampaikan bahwa Kota Probolinggo menjadi kota kedua di Indonesia setelah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang menerapkan program digitalisasi Posyandu terintegrasi.
“Pembangunan harus dimulai dari data yang kuat. Digitalisasi Posyandu ini menjadi instrumen penting untuk monitoring, evaluasi, dan pengawasan kesehatan masyarakat. Seluruh Posyandu kita fasilitasi tablet agar pelaporan dan komunikasi semakin efektif,” tegasnya.
Aminuddin juga mengapresiasi penurunan angka kematian ibu yang signifikan pada tahun 2025, yakni 82,37 per 100.000 kelahiran hidup, turun drastis dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, capaian ini merupakan hasil kerja keras Dinas Kesehatan, kader Posyandu, dan tenaga medis di lapangan.
Salah satu kader Posyandu penerima bantuan tablet menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah daerah.
“Terima kasih kepada Bapak Wali Kota atas bantuan tablet. Ini sangat membantu kami dalam penginputan data dan pelaporan kegiatan Posyandu,” ujarnya.
Melalui program Digitalisasi Posyandu dan Jam Tangan Kesehatan Terintegrasi, Pemerintah Kota Probolinggo berharap kualitas layanan kesehatan masyarakat semakin meningkat. Program ini juga menjadi upaya strategis untuk memperkuat pencegahan stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi secara berkelanjutan.
(es/pin)




