Pentingnya Karbohidrat Saat Sahur untuk Energi Puasa
Jurnal Indonesia - Dokter tidak merekomendasikan sahur tanpa nasi, karena nasi merupakan sumber karbohidrat yang penting untuk memberikan energi selama bulan Ramadan.
19:55:00
Sahur memiliki peranan yang sangat penting sebagai sumber cadangan energi selama menjalani ibadah puasa. Nasi merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Namun, ada sebagian orang yang sedang menjalani program diet yang memilih untuk menghindari nasi atau sumber karbohidrat lainnya saat sahur.
Menurut dokter dan certified health coach, Dion Haryadi, karbohidrat tetap merupakan kebutuhan penting saat sahur karena berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh selama berpuasa.
"Dari segi gizi, tidak disarankan sahur tanpa karbohidrat karena sahur menjadi cadangan energi selama seharian berpuasa," jelas Dion saat ditemui pada Rabu, 4 Maret 2026 dalam acara "Redefining Obesity: Delivering WHO-Recognized Innovation for Quality Weight Loss" bersama Novo Nordisk di Jakarta.
Hal serupa juga ditegaskan oleh dokter spesialis penyakit dalam, Vardian Mahardika. Ia menekankan bahwa konsumsi nasi atau sumber karbohidrat lain seperti roti dan oatmeal sangat penting dilakukan saat sahur untuk menjaga stamina tubuh.
"Apapun bentuknya, karbohidrat tetap penting sebagai sumber energi dan perlu dibarengi dengan serat, protein, serta vitamin," ujarnya.
Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi utama bagi tubuh. Tanpa asupan karbohidrat yang cukup, seseorang berisiko merasa lemas lebih cepat, sulit berkonsentrasi, serta tidak memiliki cadangan energi yang memadai selama berpuasa.
Asupan Protein juga Penting Kandungan protein juga memiliki fungsi penting sebagai sumber energi, menjaga keseimbangan cairan, serta memperbaiki dan memelihara jaringan tubuh. Oleh karena itu, Dion menyarankan agar kandungan protein diprioritaskan saat sahur.
"Protein itu ada angka yang harus kita penuhi, sehingga penting untuk memenuhi kandungan protein, baru lemak juga diisi," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa bagi orang yang aktif berolahraga, asupan karbohidrat menjadi sangat penting.
"Orang yang suka lari, bersepeda, dan aktivitas lainnya, sebaiknya prioritaskan karbohidrat dulu, lemak tidak perlu terlalu banyak, secukupnya saja, 20 atau 35 persen sudah cukup," jelas Dion.
Vardian menyatakan bahwa bulan puasa merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki pola makan.
"Bulan puasa itu yang ditekankan metabolis resetnya, kurangi gula, perbaiki tensi, emosi dan lain sebagainya untuk pembentukan habits yang lebih baik," katanya. Selain itu, Dion juga memberikan saran untuk menjaga nutrisi selama Ramadan dan memulai kebiasaan sehat yang bermanfaat bagi kesehatan.
"Bangun kebiasaan pola makan yang baik di bulan puasa, dan jangan skip makan, yang penting itu agar habits baik ini bisa dilakukan sampai setelah bulan puasa," ujarnya.
Selama bulan Ramadan, tetap dianjurkan untuk menjaga aktivitas fisik, terutama bagi individu yang ingin mempertahankan kebugaran atau mengontrol berat badan. Namun, penting untuk menyesuaikan waktu berolahraga dengan kondisi tubuh yang sedang menjalani puasa. Waktu olahraga yang tepat dapat memengaruhi efektivitas pembakaran kalori serta kenyamanan tubuh saat berpuasa. Vardian menjelaskan bahwa aktivitas aerobik ringan seperti berjalan cepat atau berlari sebaiknya dilakukan sebelum berbuka puasa. "Kalau kita ngomongin masalah lari, katakanlah lari atau jalan kaki, penelitiannya ternyata pada kondisi sebelum iftar atau sebelum berbuka puasa, itu memiliki efek yang oke, lebih bagus untuk membakar kalori," terangnya.
Ia menambahkan bahwa melakukan aktivitas fisik sebelum berbuka puasa dapat memberikan dampak positif bagi suasana hati.
"Dengan kita olahraga aerobik, pembakaran lemaknya lebih bagus, dan ketika kita olahraga sebelum iftar pun ternyata efeknya bisa sebagai antidepresan alami," ujarnya. Meskipun demikian, waktu berolahraga setelah makan juga perlu diatur dengan baik agar tidak menimbulkan masalah pada tubuh, seperti sakit perut atau kesulitan tidur. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan jarak antara waktu makan, olahraga, dan tidur.
"Berikan jadwal waktu sekitar 1 sampai 2 jam setelah kita makan baru kita olahraga," jelasnya. Selain itu, sebaiknya olahraga tidak dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur. "Kalau misalnya kita jarakin olahraga dengan tidur kita minimal itu tiga jam," tambahnya.




