Kesenjangan Literasi Digital Dalam Transformasi Teknologi di Bali
DENPASAR, NusaBali.com — Jempol-jempol tangan lincah mengetik komentar di telepon pintar. Berlomba dengan waktu menjadi yang pertama hingga menarik perhatian. Mereka ingin unjuk diri sebagai orang yang paling tahu dan update.
Fenomena ini kerap terjadi belakangan di tengah masifnya pemanfaatan platform media sosial sebagai alat bantu penetrasi pengaruh ke masyarakat. Nyatanya, komentar tanpa konfirmasi maupun data akurat yang diketik di kolom komentar membawa sesat pembaca awam, pemula hingga emak-emak Facebook.
Mereka membentuk opini baru yang akhirnya diyakini sebagai kebenaran baru. Pola ini bisa saja mencederai upaya jurnalistik yang telah susah payah dilakukan demi membantu masyarakat menemukan kebenaran.
Kondisi ini tak terlepas dari literasi digital yang belum mapan terbangun di masyarakat. Ketika publik kerap mengira kesenjangan digital Bali hanya berkutat di wilayah kota dan pusat pariwisata, data justru berbicara lain. Data Telkom menyebutkan bahwa indeks masyarakat digital tertinggi di Bali justru terjadi di Jembrana dan Buleleng.
Namun, data Indeks Literasi Digital masyarakat di Provinsi Bali berdasarkan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 per kabupaten/kota yang disusun oleh Badan Pengembangan SDM Kominfo menyebutkan, nilai IMDI Kota Denpasar dan Buleleng menunjukkan kategori sangat tinggi yaitu 54,71 dan 52,76. Sementara Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, Bangli masuk kategori tinggi dengan indeks 47,89 sampai 51,87 sedangkan Jembrana, Karangasem masuk kategori cukup.
Sangat Tinggi menunjukkan masyarakat digital relatif lebih siap dalam pemanfaatan teknologi — termasuk penggunaan layanan digital, keterampilan digital, dan partisipasi dalam ekosistem digital. Tinggi menunjukkan tingkat literasi digital di atas rata-rata nasional atau provinsi pada umumnya. Cukup berarti masih berada di level menengah dan perlu penguatan literasi digital.
Dalam paparannya, General Manager Telkom Witel Bali Ismono Adi Jatmiko mengatakan, alih- alih Badung yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan IPM tertinggi kedua, indeks literasi digital yang tinggi muncul dari daerah lain.
Pernyataan itu membuka diskusi lebih luas tentang wajah transformasi digital Bali. Infrastruktur, yang kerap dianggap masalah utama, justru telah mencapai 63,98 persen. Di balik angka tersebut, terselip tantangan lain yang tak kalah besar, yaitu literasi digital yang baru menyentuh 50,97 persen.
“Infrastruktur masih bisa ditingkatkan, dan itu menjadi tugas kami. Tapi literasi, pemberdayaan, dan pekerjaan digital, ini bukan hanya pekerjaan Telkom. Ini kerja bersama, masyarakat, dunia pendidikan, dan tentu saja media,” tegasnya, Kamis (5/2/2026).
Salah satu upaya konkret meningkatkan literasi digital adalah Wifi Voucher. Skemanya sederhana, namun berdampak luas: akses internet berbasis waktu, mulai dari Rp500 per jam. “Bayangkan jurnalis yang harus mengunggah foto besar. Daripada kuota habis, cukup pakai Wifi Voucher. Hemat dan fleksibel,” ujarnya.
Dengan biaya instalasi dan bulanan gratis, Wifi Voucher dirancang untuk ruang publik, alun-alun, kawasan wisata, hingga pusat komunitas. Bahkan, voucher yang dibeli di Bali bisa digunakan di daerah lain secara nasional. “Anak sekolah bisa belajar. Masyarakat bisa terkoneksi. Ini soal akses,” katanya.
Pengalaman Telkom mengelola ribuan titik wifi di ajang besar seperti G20, World Water Forum, dan Indonesia - Africa Forum menjadi modal utama untuk memperluas layanan ini. Di luar infrastruktur, Telkom juga mendorong aktivasi event berbasis komunitas.
Dari Sanur Half Marathon, pameran kerajinan, hingga kolaborasi dengan asosiasi hotel dan pariwisata, Telkom melihat keramaian sebagai bagian dari ekosistem digital. “Event tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau BUMN. Harus digerakkan komunitas. Kalau Bali ramai, hotel hidup, UMKM jalan, media punya cerita, semua senang,” ujarnya.
Komisaris Telkom Rizal Mallarangeng, Jumat (6/2/2026) menyebut Telkom mengarah ke transformasi digital dengan peningkatan infrastruktur. Sebagai salah satu BUMN, Telkom mampu bertahan dan tumbuh di tengah perubahan besar industri digital. Namun, Rizal menegaskan tantangan ke depan tidak ringan.
“Tantangannya justru lebih berat karena teknologi berubah setiap tiga sampai lima tahun. Kalau tidak adaptif, kita bisa tertinggal,” ujarnya.
Dalam jangka menengah, Telkom membidik optimalisasi bisnis data center, infrastruktur menara, layanan satelit, serta penguatan segmen B2B ICT. Transformasi juga dilakukan melalui penyederhanaan struktur anak usaha dan penguatan bisnis inti agar perusahaan tetap lincah dan kompetitif. *may




