Kemendikdasmen Targetkan 289 Ribu Layar Sentuh untuk Digitalisasi Pendidikan
Sumber Foto: Iconomics
Teknologi

Kemendikdasmen Targetkan 289 Ribu Layar Sentuh untuk Digitalisasi Pendidikan

Jurnal Indonesia - Pemerintah menargetkan sekitar 289 ribu sekolah mendapatkan perangkat layar sentuh interactive flat panel (IFP), untuk mendorong digitalisasi pada satuan pendidikan. Hingga 15 Oktober 2025, sekitar 51 ribu perangkat telah tiba di sekolah, dan yang sudah bisa digunakan sekitar 43 ribu perangkat.

Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artificial Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Muhammad Muchlas Rowi mengatakan, pemenuhan perangkat tersebut dilakukan untuk mempercepat transformasi digital, dan memperkuat kedaulatan bangsa melalui sistem pendidikan berbasis data.

“Digitalisasi kami tempatkan sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan, menjamin keamanan, dan kedaulatan data pendidikan nasional, serta membangun kompetensi teknologi generasi Indonesia,” kata Muchlas dalam acara The Iconomics Digital Day 2026 di Auditorium LPP RRI, Jakarta, Kamis (26/2).

Melalui program digitalisasi sekolah, kata Muchlas, pemerintah ingin menjadikan pendidikan dasar dan menengah sebagai fondasi utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga menjadi pemain utama dalam ekosistem digital. Secara konsep, Kemendikdasmen membangun kedaulatan pendidikan berdasarkan 3 pilar utama yang diperkuat dengan kebijakan.

Baca Juga : Anggota Komisi VII Minta Semua Pihak Cari Solusi soal Kelangkaan Batubara untuk PLN

“Kemendikdasmen mengimplementasikannya melalui sistem data pokok pendidikan sebagai basis data nasional satuan pendidikan. Penguatan itu selaras dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, Perpres Nomor 82 Tahun 2023 tentang Percepatan Transformasi Digital dan SPBE, serta PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Sistem Elektronik Dalam Perlindungan Anak,” ujarnya.

Selain itu, kata Muchlas, digitalisasi pendidikan pun diimplementasikan melalui interaksi pengkodean (coding) dan kecerdasan buatan (AI) pada kurikulum sekolah. Tujuannya untuk membekali siswa/siswi agar memahami kekurangan dan kelebihan teknologi informasi dan digital.

“Tujuan akhirnya jelas, Indonesia membangun creator of technology. Bukan sekedar consumer of technology. Transformasi ini berjalan dan pencapaiannya nyata,” ujar Muchlas.

Selain itu, kata Muchlas, pemerintah telah mengalokasikan anggaran senilai Rp 16,97 triliun pada 2025 untuk merevitalisasi sekolah, utamanya untuk ruang kelas, laboratorium, UKS, dan toilet. Dari anggaran itu, pemerintah menargetkan peningkatan hingga mencapai sekitar 16 ribu satuan pendidikan.

Seluruh upaya tersebut, kata Muchlas, dilakukan untuk memastikan generasi muda Indonesia dibangun di atas fondasi data yang aman, infrastruktur yang mandiri, dan kemampuan teknologi yang berdaya saing global.

Baca Juga : OJK Arahkan Sektor Keuangan dan Perbankan Berbasis Digital

“Karena masa depan bangsa tidak hanya ditentukan siapa yang memiliki teknologi, tetapi siapa yang mampu mengarahkan teknologi untuk kemajuan manusia, dan peradaban,” tutur Muchlas.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:

Instagram: the.iconomics

TikTok: @theiconomics

YouTube: @theiconomics

X: theiconomic

LinkedIn: The Iconomics