Iran Tawarkan Investasi Migas untuk Ciptakan Kesepakatan Nuklir dengan AS
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Iran Tawarkan Investasi Migas untuk Ciptakan Kesepakatan Nuklir dengan AS

JENEWA, KOMPAS.com - Pemerintah Iran mulai melancarkan strategi baru untuk membujuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar bersedia mencabut sanksi ekonomi yang melumpuhkan Teheran.

Iran menawarkan peluang investasi menggiurkan di sektor minyak dan gas sebagai "umpan" dalam kesepakatan nuklir yang baru, sebagaimana dilansir RFE/RL.

Langkah ini dilakukan menjelang pertemuan antara negosiator Iran dan AS yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026).

Perundingan tersebut bertujuan untuk membatasi program nuklir Teheran sekaligus mencegah pecahnya perang di tengah meningkatnya kehadiran militer Washington di Timur Tengah.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Diplomasi Ekonomi Hamid Qanbari mengungkapkan bahwa paket investasi di sektor energi, pertambangan, hingga pengadaan pesawat terbang telah disiapkan untuk dibahas bersama AS.

"Agar kesepakatan ini berkelanjutan, penting bagi AS untuk juga mendapatkan keuntungan di sektor-sektor dengan pengembalian ekonomi yang tinggi dan cepat," ujar Qanbari di hadapan Kamar Dagang Iran, Sabtu (15/2/2026).

Strategi serupa sebenarnya pernah dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada April 2025.

Lihat Foto

Saat itu, dia mempromosikan ekonomi Iran sebagai peluang investasi bernilai triliunan dollar AS.

Namun, upaya tersebut gagal membuahkan hasil manis. Beberapa pekan setelah tawaran itu, AS justru bergabung dengan kampanye militer Israel dengan mengebom tiga situs nuklir utama Iran.

Sejumlah pengamat meragukan efektivitas "umpan" ekonomi Iran ini.

Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, menilai ada ketidakcocokan mendasar antara tawaran Teheran dengan gaya kebijakan luar negeri Trump.

Menurut Vaez, Trump tidak terlalu tertarik pada investasi perusahaan AS di luar negeri.

Sebaliknya, Trump lebih menyukai aliran dana asing yang masuk ke dalam ekonomi AS, seperti yang dilakukan negara-negara Teluk tahun lalu.

"Iran mencoba memainkan kartu ini tahun lalu juga, tetapi itu menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuhnya memahami gaya Trump," kata Vaez kepada Radio Farda.

"Menggunakan investasi ekonomi sebagai daya tawar mungkin menarik bagi (Trump), tetapi tidak dengan cara yang dilakukan oleh Iran sejauh ini," tambahnya.

Hambatan transparansi dan tekanan regional

Di sisi lain, posisi tawar Iran semakin terjepit.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa AS dan Israel telah sepakat untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran, terutama dengan memperketat pengawasan terhadap penjualan energi ke China, yang menyerap hampir 80 persen ekspor minyak Iran.

Raz Zimmt, pemimpin Program Iran di Institute for National Security Studies, Tel Aviv, menekankan bahwa tawaran investasi tersebut sulit terwujud tanpa reformasi internal yang drastis di Iran.

Dia menyoroti dalamnya keterlibatan Korps Garda Revolusi (IRGC) dalam ekonomi Iran serta masalah transparansi.

Sebagai catatan, Iran merupakan satu dari hanya tiga negara yang masuk dalam daftar hitam Satuan Tugas Aksi Keuangan (FATF), sebuah lembaga pengawas pencucian uang global.

"Tidak ada alasan bagi (tawaran investasi Iran) untuk mendapatkan resonansi dengan AS," tegas Zimmt.