Iran Siap Hadapi Perang Jika Negosiasi di Oman Gagal
Pernyataan tersebut datang hanya sehari sebelum delegasi kedua negara bertemu.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam kondisi siaga tinggi.
Di satu sisi, ancaman militer terus dilontarkan.
Di sisi lain, jalur diplomasi masih dibuka.
Juru bicara militer Iran Brigadir Jenderal Iran Mohammad Akraminia menegaskan kesiapan penuh Teheran menghadapi skenario terburuk.
Pernyataan itu langsung memicu perhatian internasional.
Apalagi, saat ini kekuatan militer AS juga diperkuat di kawasan.
Ketegangan ini menjadi salah satu momen paling krusial dalam hubungan AS-Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Hasil pembicaraan di Oman berpotensi menentukan arah konflik ke depan.
Militer Iran menyatakan siap menghadapi semua kemungkinan.
Pernyataan itu disampaikan secara terbuka menjelang perundingan diplomatik.
Teheran menilai tekanan Washington terus meningkat.
"Kami selalu mengumumkan bahwa kami siap menghadapi pilihan dan skenario apa pun yang dipertimbangkan musuh, dan jika musuh memilih opsi perang, kami siap untuk opsi apa pun dalam kondisi perang."
"Trump harus memilih antara kompromi atau perang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan pengumuman penambahan 1.000 drone ke dalam kekuatan militer Iran.
Langkah ini memperkuat sinyal bahwa Teheran tengah meningkatkan kesiapan pertahanan dan serangan.
Iran juga menegaskan bahwa jika konflik pecah, cakupannya tidak akan terbatas.
"Jika perang pecah, cakupannya akan meliputi seluruh wilayah geografis kawasan dan semua pangkalan AS—dari wilayah pendudukan hingga Teluk Persia dan Laut Oman, tempat AS memiliki pangkalan. Akses kita ke pangkalan AS mudah, dan ini telah meningkatkan kerentanan mereka," paparnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran ingin meningkatkan efek pencegah.
Dengan kata lain, ancaman perang disampaikan sebagai sinyal strategis.
Tujuannya untuk mencegah serangan lebih lanjut sekaligus menekan posisi tawar dalam negosiasi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Iran juga menambah persediaan rudal balistik.
Langkah itu dilakukan setelah serangan militer yang terjadi pada pertengahan tahun lalu.
Teheran menilai kekuatan rudal sebagai komponen utama pertahanan nasional.
Selain itu, IRGC dilaporkan menyita dua kapal tanker minyak di Teluk karena dugaan penyelundupan bahan bakar.
Insiden ini menambah ketegangan maritim di kawasan yang sudah sensitif.
Di sisi lain, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah.
Washington mengirim kapal induk, kapal perang, jet tempur, serta ribuan personel tambahan.
Langkah ini menandakan bahwa opsi militer masih berada di atas meja.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa konsekuensi serius akan terjadi jika kesepakatan nuklir gagal dicapai.
Tekanan tersebut menjadi bagian dari strategi negosiasi Washington.
Namun, Trump juga disebut belum mengambil langkah militer langsung.
Ia tetap menuntut konsesi nuklir dari Iran. Washington ingin kesepakatan mencakup program rudal dan aktivitas regional Teheran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa kesepakatan harus mencakup program rudal dan nuklir Iran.
Selain itu, dukungan Iran terhadap kelompok di kawasan juga menjadi perhatian Washington.
Sementara itu, Israel terus meningkatkan kesiapan militernya.
Kepala Angkatan Udara Israel Mayor Jenderal Tomer Bar menyatakan kesiapan tinggi harus dijaga.
“Angkatan Udara, dan Anda khususnya, diharuskan untuk terus mempertahankan tingkat kesiapan yang tinggi,” kata Bar.
“Setiap hari, kami terus memperkuat kesiapan dan kemampuan baik dalam pertahanan maupun serangan," ujarnya.
Pernyataan Israel menambah tekanan terhadap Iran.
Negara itu menganggap program nuklir Teheran sebagai ancaman eksistensial.
Ketegangan ini membuat kawasan semakin sensitif.
Negosiasi Oman Jadi Penentu Arah Konflik
Di tengah ancaman militer, jalur diplomasi tetap dibuka.
Iran dan AS dijadwalkan bertemu di Oman untuk membahas program nuklir Teheran.
Pertemuan ini dipandang sebagai peluang meredakan ketegangan.
Beberapa negara kawasan mendorong dialog berlanjut.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan upaya diplomasi harus diperkuat.
Ia mengingatkan bahwa konflik terbuka akan menyeret kawasan ke krisis lebih luas.
Erdogan memuji langkah awal kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Ia juga menilai pembicaraan tingkat pemimpin akan bermanfaat setelah dialog awal.
Meski demikian, perbedaan posisi masih tajam. Iran hanya ingin membahas program nuklirnya.
Sementara AS menuntut kesepakatan lebih luas.
Perbedaan ini membuat negosiasi berpotensi berjalan alot.
Teheran menolak syarat agar menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya.
Iran juga menolak permintaan mengekspor seluruh uranium yang telah diperkaya.
Bagi Iran, hal tersebut menyangkut kedaulatan nasional.
Situasi ini menempatkan kedua negara pada titik kritis.
Ancaman perang masih membayangi.
Namun diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Bagi pasar global dan stabilitas kawasan, hasil perundingan di Oman akan sangat menentukan.
Jika negosiasi berhasil, ketegangan bisa mereda.
Jika gagal, risiko konflik terbuka meningkat.
Untuk saat ini, dunia menunggu hasil pertemuan tersebut.
Ancaman militer dan upaya diplomasi berjalan beriringan.




