Studi Harvard: Diet Sehat Tetap Perbaiki Metabolisme Meski Berat Badan Tak Turun
Diet sering kali terjebak sekadar untuk menurunkan berat badan. Padahal, banyak manfaat kesehatan penting bakal didapat.
Oleh Ester Lince Napitupulu
13 Jun 2025 11:21 WIB · Kesehatan
Penerapan pola makan sehat sering kali dikaitkan untuk menurunkan berat badan. Ada perasaan gagal dan stres jika jarum timbangan tidak juga bergeser ke kiri saat seseorang menjalani diet. Padahal, manfaat diet bagi kesehatan tubuh tetap didapat.
Studi baru yang dipimpin para peneliti di Harvard TH Chan School of Public Health, Amerika Serikat, dan Ben Gurion University, Israel, menunjukkan sepertiga orang yang mematuhi pola makan sehat tidak mengalami penurunan berat badan, tetapi tetap menuai banyak manfaat kesehatan.
Terlepas dari penurunan berat badan, peserta studi menunjukkan peningkatan signifikan dalam penanda kardiometabolik, termasuk kolesterol HDL lebih tinggi (jenis kolesterol sehat), kadar leptin lebih rendah (hormon yang memberi sinyal lapar), dan lebih sedikit lemak visceral (lemak perut jauh di dalam rongga perut, terkadang membungkus organ).
”Kita telah dikondisikan untuk menyamakan penurunan berat badan dengan kesehatan. Individu yang menolak penurunan berat badan sering dicap sebagai pecundang,” kata penulis utama Anat Yaskolka Meir, peneliti pascadoktoral di Departemen Epidemiologi di Harvard Chan School.
Temuan yang dipublikasikan di European Journal of Preventive Cardiology, Kamis (5/6/2025), tersebut dapat mengubah cara kita mendefinisikan keberhasilan klinis. Orang yang tidak menurunkan berat badan dapat meningkatkan metabolisme mereka dan mengurangi risiko jangka panjang terhadap penyakit.
”Itu adalah pesan harapan, bukan kegagalan,” kata Meir.
Baca Juga Sehat dan Lezat dalam Satu Piring, Rasa Enak Tak Perlu Tinggi Gula, Garam, dan Lemak
Para peneliti menganalisis perubahan berat badan dan kesehatan di antara 761 individu, mayoritas pria, dengan obesitas perut di Israel yang berpartisipasi dalam tiga uji klinis nutrisi berbasis tempat kerja yang penting (DIRECT, CENTRAL, dan DIRECT-PLUS) dengan tingkat kepatuhan tinggi dan profil metabolik komprehensif.
Kita telah dikondisikan untuk menyamakan penurunan berat badan dengan kesehatan. Individu yang menolak penurunan berat badan sering dicap sebagai pecundang.
Pada setiap uji klinis, peserta secara acak ditugaskan untuk mengadopsi dan mematuhi diet sehat, termasuk diet rendah lemak, rendah karbohidrat, Mediterania, dan Mediterania hijau, antara 18 dan 24 bulan.
Penelitian tersebut menemukan, di semua uji klinis dan semua diet, 36 persen dari jumlah total peserta mencapai penurunan berat badan yang signifikan secara klinis.
Penurunan berat badan secara klinis ini didefinisikan sebagai kehilangan lebih dari 5 persen dari berat badan awal mereka; 36 persen mencapai penurunan berat badan sedang (kehilangan hingga 5 persen dari berat badan awal mereka); dan 28 persen resistan terhadap penurunan berat badan, tidak kehilangan berat badan atau bertambah sedikit.
Padahal, selama ini penurunan berat badan dikaitkan dengan berbagai perbaikan kesehatan. Para peneliti menghitung tiap kilogram yang hilang dikaitkan peningkatan 1,44 persen dalam kolesterol HDL, penurunan 1,37 persen dalam trigliserida, penurunan 2,46 persen dalam insulin, penurunan 2,79 persen dalam leptin, dan pengurangan 0,49 unit dalam lemak hati, bersama dengan penurunan tekanan darah dan enzim hati.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan peserta yang resisten terhadap perubahan berat badan, yang cenderung berusia lebih tua dan/atau wanita tetp menunjukkan banyak perbaikan yang sama.
Mereka memiliki lebih banyak kolesterol baik, kadar leptin lebih rendah yang menyebabkan lebih sedikit rasa lapar, dan lemak visceral yang kurang berbahaya. ”Ini adalah perubahan metabolisme mendalam dengan konsekuensi kardiometabolik nyata. Riset kami menunjukkan diet sehat berhasil, bahkan saat berat badan tidak berubah,” kata Meir.
Para peneliti juga memakai alat omics mutakhir dan menemukan 12 situs metilasi DNA spesifik yang memprediksi penurunan berat badan jangka panjang. Temuan baru ini menunjukkan beberapa orang secara biologis memiliki kecenderungan merespons berbeda terhadap diet yang sama.
”Ini bukan hanya tentang kemauan keras atau disiplin, ini tentang biologi. Sekarang kita hampir memahaminya,” kata penulis korespondensi Iris Shai yang juga associate professor nutrisi di Harvard Chan School.
Penuaan yang sehat
Menjalani pola makan sehat juga dapat berdampak pada penuaan yang sehat. Perempuan yang mengonsumsi makanan kaya akan karbohidrat bermutu tinggi (termasuk buah-buahan dan sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan) lebih mungkin tetap sehat seiring bertambahnya usia dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi asupan itu.
Hal ini didapat dari studi terkini yang dipimpin para peneliti dari Jean Mayer USDA Human Nutrition Research Center on Aging (HNRCA) di Tufts University, Amerika Serikat, dan Harvard TH Chan School of Public Health yang dipublikasikan di JAMA Network Open.
Para peneliti juga menemukan bahwa mengonsumsi makanan yang tinggi akan karbohidrat berkualitas rendah, seperti gula tambahan, biji-bijian olahan, dan kentang, menurunkan kemungkinan perempuan untuk tetap sehat seiring bertambahnya usia.
Pada penelitian ini, penuaan sehat didefinisikan sebagai terbebas dari 11 penyakit kronis utama, termasuk kanker, diabetes tipe 2, dan gagal jantung, tidak mengalami gangguan fungsi kognitif dan fisik, serta menjaga kesehatan mental yang baik.
Para peneliti menggunakan data kesehatan lebih dari 47.000 wanita yang berpartisipasi dalam Studi Kesehatan Perawat antara tahun 1984 dan 2016.
”Hasil kami konsisten dengan bukti lain yang menghubungkan konsumsi buah dan sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan dengan risiko penyakit kronis lebih rendah. Kini kami melihat hubungannya dengan hasil fungsi fisik dan kognitif,” kata penulis senior Qi Sun, associate profesor madya di departemen nutrisi dan epidemiologi di Harvard Chan School.
Andres Ardisson Korat, ilmuwan di HNRCA Tufts University, mengatakan, sudah sering diungkapkan karbohidrat berbeda dapat memengaruhi kesehatan secara berbeda, baik untuk berat badan, energi, maupun kadar gula darah.
”Namun, daripada hanya melihat efek langsung zat gizi makro ini, kami ingin memahami apa artinya bagi kesehatan yang baik 30 tahun kemudian. Temuan kami menunjukkan kualitas karbohidrat mungkin merupakan faktor penting dalam penuaan yang sehat,” kata Korat.
Baca Juga Diversifikasikan Sumber Karbohidrat
Analisis menunjukkan asupan karbohidrat total, karbohidrat bermutu tinggi dari biji-bijian utuh, buah-buahan, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan, serta serat makanan total di usia paruh baya dikaitkan dengan kemungkinan penuaan sehat 6-37 persen lebih besar dan beberapa area kesehatan mental dan fisik positif.
Di sisi lain, asupan karbohidrat olahan (karbohidrat dari gula tambahan, biji-bijian olahan, dan kentang) dan sayuran bertepung dikaitkan dengan kemungkinan penuaan sehat sebesar 13 persen lebih rendah.
Ardisson Korat juga mencatat bahwa penelitian tambahan diperlukan untuk memahami mekanisme potensial yang menghubungkan serat makanan dan karbohidrat bermutu tinggi dengan penuaan yang sehat.
”Penelitian mulai menemukan hubungan antara pilihan makanan di usia paruh baya dan kualitas hidup di tahun-tahun berikutnya. Semakin banyak yang dapat kita pahami tentang penuaan yang sehat, makin banyak ilmu pengetahuan yang dapat membantu orang hidup lebih sehat lebih lama,” katanya.
diet kesehatan pola hidup sehat diet menurunkan berat badan
Kerabat Kerja
Penulis:
Ester Lince Napitupulu
|
Editor:
Evy Rachmawati
|
Penyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari




