Prospek Penurunan BI Rate di 2026: Pandangan Lima Ekonom
Jakarta, CNBC Indonesia - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 16-17 Desember 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Keputusan ini juga mencakup suku bunga Deposit Facility yang tetap di 3,75% dan suku bunga Lending Facility yang ditetapkan di 5,50%.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa keputusan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Bank Indonesia juga berupaya untuk memperkuat efektivitas pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah diterapkan untuk mendukung perekonomian nasional.
Dalam konteks ke depan, Bank Indonesia akan terus memantau potensi penurunan suku bunga BI-Rate, dengan proyeksi inflasi yang berada dalam sasaran 2,5±1% pada 2026. Berikut adalah pandangan dari lima ekonom terkait keputusan ini:
1. Bank Permata
Kepala Riset Makroekonomi & Pasar Keuangan Permata Bank, Faisal Rachman, menyatakan bahwa keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar di tengah tanda-tanda moderasi pertumbuhan ekonomi domestik. Dia memperkirakan ada ruang untuk penurunan suku bunga BI pada 2026, meskipun tidak sebesar tahun sebelumnya, dengan pelanggaran kumulatif diperkirakan sekitar 50 basis poin.
2. Bank Central Asia (BCA)
Kepala Ekonom BCA, David E. Sumual, menilai keputusan tersebut sejalan dengan perkembangan inflasi dan variabel keseimbangan eksternal lainnya. Dia menegaskan bahwa meskipun masih ada ruang penurunan suku bunga, hal ini sangat bergantung pada arah kebijakan moneter di Amerika Serikat.
3. Bank Mandiri
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebutkan bahwa keputusan untuk menahan suku bunga bertujuan untuk memprioritaskan stabilitas Rupiah dan menarik masuknya portofolio asing. Dia berharap Bank Indonesia akan terus mempertimbangkan ruang untuk penurunan suku bunga di masa mendatang.
4. Bank Danamon
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang, menilai bahwa kebijakan moneter menunjukkan perbaikan meskipun intermediasi perbankan masih kaku. Dia menyebutkan bahwa Bank Indonesia akan memprioritaskan stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek, namun masih ada ruang untuk penurunan suku bunga jika stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi terjaga.
5. Maybank Indonesia
Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpendapat bahwa hingga saat ini belum ada tekanan signifikan dari sisi harga energi maupun inflasi impor, sehingga ruang penurunan suku bunga BI masih cukup lebar. Dia menekankan bahwa kebijakan juga akan dipengaruhi oleh langkah The Federal Reserve di AS.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat pandangan optimis mengenai potensi penurunan suku bunga BI-Rate di tahun 2026, banyak faktor eksternal dan internal yang akan mempengaruhi keputusan tersebut. Para ekonom sepakat bahwa pemulihan kredit dan pertumbuhan ekonomi akan menjadi pertimbangan penting dalam kebijakan moneter ke depan.




