Pertumbuhan Pasar Kecantikan Dorong E-Commerce Indonesia Naik 204,5%
Jurnal Indonesia - Industri fast-moving consumer goods (FMCG) di e-commerce Indonesia mencatat pertumbuhan kuat dalam empat tahun terakhir, dengan kenaikan 168,7%. Berdasarkan data Compas.co.id, nilai transaksi FMCG meningkat dari Rp48 triliun pada 2022 menjadi Rp129 triliun pada akhir 2025.
Di tengah tantangan ekonomi global, pasar e-commerce domestik menunjukkan resiliensi yang solid. Sektor perawatan dan kecantikan masih menjadi motor utama, ditopang dominasi kategori kecantikan serta tren produk multifungsi. Sejak 2022, pertumbuhan di segmen ini tercatat mencapai 204,5%.
Salah satu yang paling mencolok adalah kategori parfum, yang melonjak 306,7%. Di dalamnya, segmen parfum pria tumbuh 70% pada 2025, didorong munculnya merek lokal yang makin inovatif.
Di luar kecantikan, kategori makanan dan minuman juga tumbuh 147%. Tren belanja grosir atau “kartonan” bahkan melesat 563%, mengindikasikan pergeseran perilaku konsumen menjadi semakin “ smart consumer ” yang mengejar efisiensi harga per unit lewat pembelian dalam jumlah besar.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, terjadi “seleksi alam” yang ketat. Tercatat lebih dari 1.900 merek lintas sektor FMCG keluar (exit) dari pasar karena gagal beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan dinamika platform.
CEO Compas.co.id, Hanindia Narendrata, menilai kunci bertahan pada 2026 adalah kemampuan brand menyesuaikan strategi dengan karakter dan fitur tiap platform. “Brand perlu memahami bahwa Shopee kini berperan sebagai Efficiency Hub, yaitu platform yang digunakan konsumen untuk belanja rutin secara cepat, praktis, dan hemat,” ujar Narendrata, Jumat (20/2/2026).
Dalam laporan yang sama, Shopee masih memimpin pangsa pasar dengan porsi 55,9%. Namun, Shop Tokopedia Group (STG) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 59% pada 2025 pascamerger dengan TikTok Shop, jauh di atas rata-rata pertumbuhan industri.
Compas.co.id juga memproyeksikan permintaan produk multifungsi akan semakin menguat seiring preferensi konsumen terhadap efisiensi belanja. Salah satu indikasinya terlihat dari lonjakan penjualan suplemen kesehatan berkandungan astaxanthin yang meningkat 477%, mencerminkan pergeseran ke produk dengan manfaat ganda dalam satu pembelian. (*)




