Perang Sarung di Grobogan Tewaskan Pelajar, Polisi Selidiki Kasusnya
Jurnal Indonesia - Liputan6.com, Jakarta - Tren perang sarung saat malam hari memicu tawuran antar remaja membuat miris di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Aksi ini bahkan diyakini telah merenggut korban jiwa.
Pelajar SMP berinsial ZMR (16) meregang nyawa, usai mendapat pukulan keras di bagian leher belakang. Peristiwa meninggalnya korban terjadi saat almarhum terlibat perang sarung bersama teman-temannya pada Rabu, 25 Februari 2026 pukul 23.00 WIB.
Dalam praktiknya, ujung sarung diikat mirip bola kecil yang diisi besi. Perang sarung pun pecah di lapangan sepak bola Desa Termas, Kecamatan Karangrayung, hingga menggegerkan warga Grobogan.
Berhembusnya kabar kematian remaja yang sempat dirawat di Puskesmas ini awalnya disebut akibat kecelakaan di jalan raya. Namun kemudian mencuat informasi lain, bahwa korban tewas usai terlibat perang sarung.
Informasi tersebut pun dibenarkan oleh Guntur, salah seorang tokoh warga desa setempat. Dugaan akibat perang sarung disebutnya lantaran melihat keramaian warga dan kedatangan aparat kepolisian di lokasi kejadian.
“Saya dengar kabar awalnya karena kecelakaan. Namun setelah ada keluarga korban berkumpul dan mobil polisi datang ke lokasi, ternyata tempat kejadiannya di lapangan desa,” ungkap Guntur kepada wartawan, dikutip Kamis (26/2/2026).
Ia mengaku tidak memahami secara jelas bagaimana kronologi kejadian tersebut. Selain itu, Guntur juga tidak mengetahui siapa saja pelaku yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Hanya saja, dia sempat melihat korban langsung dibawa ke Puskesmas sebelum akhirnya meninggal dunia.
“Saya tahunya korban sudah di Puskesmas. Waktu saya ke sana, memang sudah dinyatakan meninggal. Untuk pelaku atau bagaimana kejadiannya, saya belum tahu persisnya,” tukas Guntur.
Buka Bersama Berujung Perkelahian
Tentu saja kejadian ini membuat heboh warga desa setempat. Sebab selama ini daerah tersebut relatif aman dan jarang terjadi aksi tawuran dan kekerasan yang melibatkan remaja.
“Selama ini di sini (Desa Termas) aman-aman saja. Lapangan biasanya digunakan bermain voli atau nongkrong saat sore hari. Kalau malam biasanya sepi, karena lampunya sudah tidak menyala,” imbuhnya.
Tak hanya itu, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mencari tahu penyebab kematian korban. Sejumlah saksi pun telah dimintai keterangan terkait kronologi kejadian itu.
Dikonfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Rizky Ari Budiyanto membenarkan adanya warga Desa Termas yang meninggal dunia. Namun, dia masih mendalami penyebab meninggalnya korban.
Informasi yang Rizky dapatkan dari keterangan sejumlah saksi, bahwa korban berkelahi satu melawan satu.
"Kalau perang kan jumlahnya banyak. Tetapi saat itu, korban dan teman-temannya memang memakai sarung," ujar Rizky saat di konfirmasi melalui sambungan telepon pada Kamis (26/2/2026).
Rizky menyebut bahwa korban sudah saling kenal dengan teman-teman lainnya yang berjumlah tujuh orang itu.
"Informasi yang kami temukan, awalnya korban dan teman-temannya iseng saja. Tidak ada notifikasi khusus. Mereka habis buka bersama terus pulang, sepakat berkelahi di lapangan sepak bola," terang Rizky.
Diduga karena mendapat pukulan bertubi tubi, hingga membuat korban pun ambruk di tengah kegelapan malam lapangan sepak bola Desa Termas.
Dugaan Rekayasa oleh Teman Korban
Perbesar
Selanjutnya, korban sempat dibawa ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUD dr Soedjati Purwodadi. Namun, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Rizky mengaku masih mendalami penyebab kematian korban. Sebab dari tubuh korban, ditemukan luka di bagian tengkuknya.
"Kami masih menunggu keterangan dari dokter forensik untuk informasi lebih lengkapnya," imbuh Rizky.
Sebab, kabar yang santer berkembang di beberapa media sosial bahwa rekan-rekan korban diduga merekayasa bahwa korban meninggal karena kecelakaan.
"Soal informasi rekayasa tersebut kurang tahu. Kemungkinan itu yang menyampaikan pihak keluarga. Kalau kami masih melakukan penyelidikan," ungkapnya.
Saat ini, Polres Grobogan telah mengamankan tujuh anak. Mereka adalah teman-teman korban yang malam itu sempat bersama. Selain itu, penyidik juga menyita sejumlah alat bukti berupa beberapa lembar sarung dan lainnya.
"Tim penyidik Polres Grobogan pun masih mendalami peran masing-masing dari tujuh anak tersebut. Dari keterangan mereka, diharapkan polisi bisa mengetahui kronologinya. Alat bukti juga kami kumpulkan," jelasnya.
Kejadian yang diduga perang sarung yang merenggut korban jiwa, baru pertama terjadi di Desa Termas saat malam Ramadan ini.
Polisi pun segera memperketat patroli di beberapa lokasi rawan. Patroli ini bertujuan mencegah terjadinya pegang sarung, tawuran, perang air dan hal lainnya.




