Penelitian Vaksin Nusantara Kembali Dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Internasional
JAKARTA - Penelitian mengenai Vaksin Nusantara yang dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan, Dr. Terawan Agus Putranto, kembali menarik perhatian setelah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Penelitian tersebut dimuat di website National Library of Medicine dengan judul "A personal COVID-19 dendritic cell vaccine made at point-of-care: Feasibility, safety, and antigen-specific cellular immune responses".
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Vox Point Indonesia, Handoyo Budi Sedjati, mengungkapkan bahwa publikasi ini menunjukkan pengakuan internasional terhadap karya anak bangsa. Ia berharap pemerintah Indonesia dapat segera merumuskan regulasi yang memungkinkan masyarakat untuk mengakses vaksin COVID-19 pertama di dunia yang menggunakan sel dendritik ini, mengingat tingkat keberhasilan Vaksin Nusantara dalam melindungi dari berbagai varian virus corona.
Handoyo juga menambahkan bahwa vaksin ini telah terbukti membantu sejumlah anggota masyarakat yang mengalami inflamasi pasca COVID-19. Menurut data dari jurnal tersebut, efikasi dan efektivitas vaksin berbasis sel dendritik mencapai 96,8%.
Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kelayakan vaksin sel dendritik terhadap protein lonjakan SARS-CoV-2, memastikan keamanan injeksi subkutan tunggal, serta menilai respons imun spesifik antigen setelah vaksinasi. Dalam fase pertama penelitian, 31 subjek dibagi ke dalam sembilan formulasi sel dendritik dan limfosit (DCL) yang diinkubasi dengan berbagai dosis protein lonjakan SARS-CoV-2 rekombinan.
Setelah injeksi, penelitian melanjutkan dengan penilaian keamanan dan respons humoral. Pada fase kedua, 145 subjek diacak ke dalam tiga formulasi yang telah ditentukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa 46,4% subjek mengalami efek samping ringan, sementara tidak ada kasus alergi akut atau efek samping serius yang dilaporkan.
Di akhir penelitian, disebutkan bahwa pembuatan vaksin pribadi dapat dilakukan di titik perawatan, namun pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk vaksin khusus subjek tersebut.




