Pasar Kripto Alami Penurunan Drastis, Kehilangan US$730 Miliar dalam 100 Hari
Jurnal Indonesia - Pasar kripto mengalami kontraksi tajam dalam 100 hari terakhir dengan total kapitalisasi yang menyusut lebih dari US$730 miliar. Data on-chain terbaru menunjukkan arus keluar modal besar-besaran dalam waktu relatif singkat, mencerminkan pergeseran sentimen investor ke mode risk-off di tengah tekanan makro dan volatilitas pasar.
Bitcoin (BTC) menjadi kontributor terbesar secara nominal terhadap penyusutan tersebut. Kapitalisasi pasar BTC turun dari US$1,6968 triliun pada 22 November menjadi US$1,3489 triliun saat ini. Penurunan sebesar US$347,9 miliar atau sekitar 21,62% ini menandai fase pelemahan signifikan pada aset kripto terbesar di dunia.
20 Aset Kripto Terbesar Alami Penurunan
Sementara itu, kelompok 20 aset kripto terbesar di luar Bitcoin dan stablecoin juga mencatat penurunan besar. Kapitalisasi sektor ini turun dari US$1,0706 triliun pada 2 Desember menjadi US$810,65 miliar. Selisihnya mencapai US$259,94 miliar atau turun sekitar 15,17%.
Dilaporkan Crypto Quant, segmen mid-cap dan small-cap tercatat sebagai yang paling terpukul secara proporsional. Kapitalisasi pasar kategori ini menyusut dari US$390,38 miliar pada 11 Desember menjadi US$267,63 miliar. Penurunan sebesar US$122,75 miliar atau sekitar 20,06% menunjukkan tingginya tekanan pada aset berisiko lebih tinggi.
Secara keseluruhan, total dana yang keluar dari pasar kripto selama periode 100 hari tersebut mencapai US$730,59 miliar. Kontraksi ini tercermin dalam indikator on-chain seperti perbandingan kapitalisasi pasar serta rasio pertumbuhan market cap berbasis moving average 30 hari dan 365 hari.
Analisis Pasar
Analis menilai kondisi ini lebih dari sekadar koreksi biasa, melainkan fase kontraksi ekonomi kripto yang cukup dalam. Namun, di tengah tekanan tersebut, pelaku pasar profesional disarankan untuk tetap memantau fundamental on-chain, termasuk cost basis pemegang jangka pendek dan sinyal siklus pasar Bitcoin untuk mengidentifikasi potensi fase akumulasi.
Dalam situasi seperti ini, disiplin teknikal dan manajemen risiko dinilai menjadi kunci, terutama bagi investor yang menerapkan strategi dollar-cost averaging secara terukur.
Menurut Tim Research Tokocrypto, penurunan valuasi sebesar 30 miliar dalam waktu singkat menandakan pergeseran struktural di mana likuiditas keluar dari ekosistem kripto menuju aset tradisional atau cash.
“Fokus pada realized price pemegang jangka pendek (STH) menjadi krusial; selama basis biaya mereka belum direbut kembali, pasar tetap dalam mode kontraksi. Smart DCA disarankan hanya jika indikator Market Cycle memberikan sinyal akumulasi yang valid,” jelasnya.




