Musikal Inklusif 'Jemari Kecil' Tampilkan Kolaborasi Seniman Tuli dan Dengar
Sumber Foto: Tempo.co
Hiburan

Musikal Inklusif 'Jemari Kecil' Tampilkan Kolaborasi Seniman Tuli dan Dengar

Gusti membuka kisahnya dengan nyanyian. Ia seorang musisi, pencipta lagu yang kondang. Ia memperkenalkan keluarganya, istri dan putri kecilnya, seorang Tuli. “Mentari punya cara berbeda untuk bernyanyi,” ujar Gusti, dia melanjutkan bernyanyi.

Gusti yang diperankan oleh Nino Prabowo kemudian mengantarkan Lestari, istrinya yang diperankan Adela Hermawan dan Mentari kecil yang diperankan oleh El-Shani Naira Shaim, aktris cilik yang seorang Tuli. Cerita melompat ketika Mentari telah beranjak dewasa bersama ibunya setelah Gusti meninggal.

Mereka didatangi oleh Agus, bos penyelenggara acara yang akan membuat konser untuk karya-karya Gusti. Di sanalah kemudian Mentari (diperankan Hanna Aretha O-aktor Tuli) dipertemukan dengan Awan (Jonah Gabriel-aktor dengar), produser musik anak buah Agus. Mentari yang kehilangan semangat menari sejak meninggalnya sang ayah, menjadi bersemangat kembali.

Pertunjukan musikal “Jemari Kecil” ini dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada Sabtu, 31 Januari 2026. Jemari Kecil merupakan pertunjukan teater musikal oleh komunitas Fantasi Tuli. Pada pertunjukan ini menjadi ruang kolaborasi antara seniman Tuli dan dengar dalam satu panggung pertunjukan. Dengan pertunjukan ini juga membuka cara pandang baru tentang bagaimana seni dapat dirasakan secara inklusif. Pentas ini hadir dari perpaduan sutradara, Hasna Mufidah yang merupakan seniman tuli dan Dhea Seto dari kalangan dengar menghadirkan pendekatan artistik yang saling melengkapi.

"Jemari Kecil" mengisahkan perjalanan Mentari, seorang penari Tuli yang kehilangan semangatnya untuk menari setelah kepergian sang ayah yang merupakan seorang musisi. Dalam proses pencarian kembali kecintaannya terhadap tari, Mentari bertemu dengan Awan, seorang produser musik yang membantunya menemukan kembali makna gerak, ritme, dan ekspresi. Kisah ini disampaikan selama kurang lebih 90 menit melalui perpaduan bahasa isyarat, musik, dan teater yang menghadirkan pengalaman emosional tanpa batas bahasa lisan.

Pertunjukan ini ditonton kalangan dengar dan komunitas Tuli. Di panggung juga disediakan dua layar monitor untuk menayangkan teks untuk mempermudah penonton memahami dialog dari pemain. Sehingga ketika pemain dengar berbicara maupun pemain Tuli bicara dengan bahasa isyarat, sama-sama mengerti maksud dari ‘perkataannya’. Sejak awal sebelum pertunjukan dimulai, para penonton tuli sudah didampingi juru bahasa isyarat kemudian dikuatkan dengan layar di kiri kanan atas panggung. Penonton dengar juga bisa mendapatkan pengalaman merasakan sebagai seorang Tuli dengan penutup telinga yang dibagikan panitia sebelum acara dimulai dan mencoba mengerti bahasa isyaratnya dari gerak tangan dan teks di layar.

Hasna dan Dea membangun konflik dalam kisah ini dari teman-teman Mentari dan bos Awan. Si bos ternyata juga punya niat buruk mengeksploitasi Mentari dan teman-teman Tulinya untuk pertunjukan itu. Hasna juga menyelipkan sekelumit bumbu percintaan anak muda dan adegan lucu yang mengundang tawa kecil penonton.

Kisah ini disampaikan selama kurang lebih 90 menit melalui perpaduan bahasa isyarat, musik, dan teater. Melibatkan sembilan aktor Tuli, delapan aktor dengar dan menampilkan 17 lagu yang dinyanyikan cukup bagus olah vokalnya oleh aktor dengar untuk menghidupkan kisah ini. Cerita ini selain menghadirkan kolaborasi antara aktor dengar dan Tuli juga memberikan pesan kepada penonton. Pesan untuk kesetaraan, penghargaan, apresiasi, kerjasama dan empati terutama agar tidak mengeksploitasi komunitas difabel.

Hasna menjelaskan tantangan menggarap musikal ini karena mengkolaborasikan aktor dengar dan Tuli. Para aktor harus mengetahui budaya dengar dan Tuli yang berbeda dan harus saling menyesuaikan. “Harus pahami budaya masing-masing, komunikasi dan kami buat inisiatif, latihan bersama dan adaptasinya. Butuh waktu yang cukup untuk itu,”ujar Hasna kepada Tempo didampingi juru bahasa isyaratnya, 31 Januari 2026 di Galeri Indonesia Kaya.

Dalam proses produksi aktor dengar harus memahami bahasa isyarat dari aktor Tuli dan pemain Tuli pun memahami dunia dengar. “Jadi saling bertukar pengalaman, tapi yang paling penting komunikasinya,” ujarnya lagi.

Hasna mengatakan dia memfokuskan para aktor dengar untuk bisa masuk terlebih dulu ke dunia Tuli, mempelajari ‘budaya’ Tuli, bahasa isyaratnya sehingga pertunjukan ini bisa menghadirkan lakon dengan pemain dengar yang memahami pemain Tuli yang sesungguhnya.

Untuk aktor Tuli, kata Hasna, mereka memfokuskan pada dialog untuk memahami karakternya. Terkait musik karena pentas ini pertunjukan musikal, maka aktor Tuli mempelajari lirik dari lagu-lagu dan mengubahnya menjadi bahasa isyarat dan menyesuaikan dengan tempo dan koreografinya. Setelah itu mereka berlatih dengan merasakan getaran musik dan menyesuaikan dengan koreografinya bersama aktor dengar. Para aktor Tuli merasakan getaran, tempo musik di panggung dari dua subwoofer yang diletakkan di kiri dan kanan panggung. Dengan merasakan getaran, mereka bisa mengekspresikan emosi, karakter saat adegan. Mereka menyiapkan pentas ini selama satu bulan. Tetapi sebelumnya mereka sudah pernah mementaskan lakon ini sebelumnya saat peringatan hari Disabilitas Internasional Desember tahun lalu setelah berlatih selama lebih kurang empat bulanan.

Pascal Meliala, pimpinan produksi sekaligus penulis naskah "Jemari Kecil" bersama dengan Palka Kojansow melihat pertunjukan ini sebagai wujud kolaborasi yang dibangun secara setara sejak awal proses kreatif. Menurut Pascal kata kata ‘musikal’ dan ‘tuli’ seharusnya tidak berada di kalimat yang sama. Hal yang paling sulit dari proses produksi ini bukanlah mengajarkan teman tuli menari atau menjelaskan tentang musik, melainkan membuat sebuah cerita yang baik dan menghibur. “Teman-teman tuli mempunyai keinginan belajar dan semangat yang tinggi selama proses produksi ini. Hal itu membuat kami sadar bahwa kolaborasi di Fantasi Tuli ini menunjukan bahwa dengan akses yang tepat, di lingkungan yang tepat, bersama orang orang yang tepat, semua hal bisa dilakukan,” ujar Pascal Meliala.