Mengenal Puskor Hindunesia: Upaya Mempertahankan Jati Diri dan Kearifan Lokal Umat Hindu di Indonesia
Sumber Foto: Jurnal Patroli News
Jurnal Nusantara

Mengenal Puskor Hindunesia: Upaya Mempertahankan Jati Diri dan Kearifan Lokal Umat Hindu di Indonesia

Di tengah dinamika perubahan zaman, mempertahankan jati diri dan kearifan lokal menjadi tantangan besar bagi umat Hindu di Indonesia. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pusat Koordinasi Hindu Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan Puskor Hindunesia, hadir sebagai lembaga swadaya nasional yang berkomitmen untuk menjaga kebhinekaan Hindu Nusantara dan memperkuat solidaritas sosial kemanusiaan.

Sejarah dan Latar Belakang

Puskor Hindunesia digagas oleh Ida Bagus K. Susena, seorang aktivis asal Jembrana, Bali. Lembaga ini muncul sebagai respons terhadap refleksi mendalam setelah tragedi Bom Bali pada tahun 2002. Pada saat itu, Ida Bagus K. Susena menyadari adanya kelemahan dalam sistem perlindungan adat dan koordinasi internal umat Hindu dalam menghadapi bencana. Berawal dari gerakan relawan informal, Puskor Hindunesia resmi berdiri dan berbadan hukum pada 12 Februari 2015.

Trilogi Hindunesia

Puskor Hindunesia beroperasi dengan pijakan pada Trilogi Hindunesia, yang meliputi tiga bidang utama: perjuangan keumatan, sosial kemanusiaan, dan pemberdayaan sumber daya Hindu. Visi besar lembaga ini adalah mewujudkan Hindunesia yang santih, kertha, dan jagadhita, atau Satkerta, dengan tetap berlandaskan pada keharmonisan konsep Tri Hita Karana.

Ekspansi Internasional dan Relawan

Keberadaan Puskor Hindunesia tidak hanya terbatas di wilayah domestik, tetapi juga telah merambah ke kancah internasional. Lembaga ini telah membentuk Dewan Koordinasi Khusus (Dekorsus) di berbagai negara, termasuk Jepang, Amerika Serikat, dan Australia, serta menjalin jaringan dengan pekerja kapal pesiar. Relawan yang dikenal sebagai Relawan Dharma Hindunesia menjadi tulang punggung dalam menyebarkan pesan loyalitas dan solidaritas umat.

Pilar Utama Pergerakan

Ketua Umum Puskor Hindunesia, Ida Bagus K. Susena, menjelaskan bahwa pergerakan ini ditopang oleh enam pilar utama, yaitu:

  • Manawa Dharma: untuk solidaritas sosial.
  • Gerakan Ekonomi Dharma: sebagai fondasi ekonomi swadaya.
  • Dermawan Dharma: dalam pengelolaan dana punia secara transparan.
  • Bala Hindu Dharma (BHIMA): untuk militansi umat.
  • Yowana Dharma (WANARMA): untuk kepemudaan.
  • Wanita Dharma (NITAMA): bagi pemberdayaan kaum perempuan.

Melalui pilar-pilar ini, Puskor Hindunesia berupaya mengedukasi umat agar tetap bangga akan jati diri tradisi Nusantara, sekaligus membentengi diri dari upaya-upaya konversi keyakinan yang agresif.

Konsistensi dalam Perjuangan

Fokus perjuangan Puskor Hindunesia tetap konsisten pada pemenuhan hak-hak warga Hindu dalam berbangsa dan bernegara tanpa adanya diskriminasi. Lembaga ini mengajak seluruh elemen umat Hindu untuk turut serta mengambil peran sesuai dengan konsep Desa, Kala, dan Patra.

Kehadiran Puskor Hindunesia diharapkan dapat menjadi motor penggerak bagi kebangkitan Hindu Dharma yang mandiri, tangguh, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur leluhur di tanah Dwipantara.