Mengapa Kisah Sukses dari Kemiskinan Lebih Menginspirasi?
Jurnal Indonesia - Ringkasan Berita:
Cerita perjuangan dari kemiskinan terasa lebih “relate” dengan pengalaman banyak orang sehingga lebih menyentuh dan inspiratif.
Pola konflik besar dan kebangkitan setelah penderitaan memberi kepuasan emosional, membuat publik lebih mengapresiasi kisah “berangkat dari nol”.
Mengidentikkan sukses dengan penderitaan dapat mempersempit makna kerja keras dan mengabaikan fakta bahwa orang berprivilese juga tetap memerlukan usaha dan tanggung jawab.
SERAMBINEWS.COM - Kisah sukses yang berangkat dari kemiskinan lebih mudah mendapatkan simpati karena terasa lebih dekat dengan pengalaman mayoritas orang dan memenuhi pola cerita heroik yang penuh konflik serta kebangkitan.
Psikolog Fitri Jayanthi dan Shierlen Octavia menjelaskan bahwa publik cenderung terhubung secara emosional dengan narasi perjuangan “dari bawah”.
Namun, mengagungkan satu jenis cerita sukses saja berisiko mereduksi makna kerja keras, seolah-olah keberhasilan hanya sah jika lahir dari penderitaan ekstrem.
Padahal, individu dengan latar belakang privilese tetap membutuhkan usaha, disiplin, dan tanggung jawab untuk mencapai keberhasilan, meski dengan tantangan yang berbeda.
“Manusia biasanya cenderung lebih tersentuh dan lebih mengapresiasi cerita tentang perjuangan sulit seseorang dalam mencapai kesuksesan,” ungkap pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, MPsi, Psikolog, saat diwawancarai pada Selasa (24/2/2026).
Psikolog klinis ini menuturkan, cerita tentang kesulitan dan keterbatasan terasa lebih dekat dengan pengalaman mayoritas masyarakat.
Oleh karena itu, kisah tersebut lebih mudah membangkitkan empati dan kekaguman.
Sementara itu, kesuksesan yang diraih dengan dukungan privilese sering kali dinilai kurang mewakili realitas banyak orang, sehingga kurang menarik perhatian.
Narasi perjuangan dari kemiskinan menghadirkan konflik dan titik balik yang dramatis.
Perjalanan tersebut dianggap menunjukkan daya juang luar biasa, sehingga publik lebih mudah mengapresiasinya.
Meski demikian, Fitri menegaskan bahwa keberhasilan yang diraih dengan latar belakang privilege bukan berarti tanpa usaha.
“Padahal, kesuksesan yang dicapai dengan adanya privilese tertentu, bukan berarti orang tersebut tidak melakukan apa-apa,” tutur dia.
“Mereka perlu mengimbanginya juga dengan usaha, kedisiplinan dan tanggung jawab untuk mencapai kesuksesan,” lanjut Fitri.
Sementara itu, Shierlen Octavia, M.Psi., Psikolog, melihat ada faktor psikologis lain yang membuat kisah perjuangan dari bawah lebih diagungkan, yakni ketertarikan manusia pada cerita heroik.
“Karena kita suka dengan cerita-cerita heroik. Itulah sebabnya dari dulu (komik) Marvel dan DC laku, karena kita suka lihat ada konflik besar, ada yang menderita, tapi terus berhasil bangkit dari situasi itu,” papar psikolog klinis di NALA Mindspace itu, saat dihubungi pada Selasa.




