Kiki Ucup: Menciptakan Pestapora sebagai Festival Musik Berbasis Pengalaman
Festival musik sering dipahami sebagai peristiwa yang hidup selama beberapa jam: panggung menyala, massa bersorak, lalu semuanya menguap.
Namun, bagi Rizky Aulia tidak demikian. Bagi lelaki yang biasa disapa Kiki Ucup ini, festival bergerak ke arah yang lebih “produk”: sesuatu yang didesain, diuji, lalu disempurnakan dari tahun ke tahun.
Perspektif itu membuat obrolan tentang Pestapora — sebuah festival musik yang hype dalam 4 tahun terakhir — tidak berhenti pada urusan lineup musisi yang manggung. Alhasil, pertanyaannya pun bergeser: kalau festival adalah produk, maka apa “value” yang sebenarnya dibeli penonton, selain akses menonton musisi?
Value dan sistem
Di sinilah Pestapora menjadi menarik. Ia lahir sebagai festival musik, tetapi diperlakukan seperti sistem. Musik tetap pusat gravitasi, namun pengalaman penonton — dari masuk hingga pulang — dianggap bagian inti dari produk, bukan aksesori.
Kerangka ini jadi semakin relevan ketika kita mundur ke titik awalnya: 2022. Tahun ketika lanskap festival Jakarta begitu padat, bahkan sebelum Pestapora menjejak panggung pertamanya.
Ucup — yang jabatan resminya adalah Program Director Boss Creator (pemilik Pestapora) — menyebut situasinya ekstrem: di Jakarta ada lebih dari 100 festival musik terselenggara pada 2022. Dalam keramaian seperti itu, festival baru biasanya sulit menempel di kepala publik.
Tetapi justru di keramaian itulah Pestapora muncul sebagai pendatang baru yang langsung dibicarakan. Dan ketika sebuah produk baru cepat “diadopsi”, biasanya ada dua kemungkinan: momentum sedang tepat, atau desain produknya berhasil menyentuh kebutuhan pasar — atau keduanya.
Secara target, tim Pestapora sendiri tidak sedang mengejar angka bombastis. Proyeksinya 15.000 orang per hari, atau 45.000 orang selama tiga hari.
Realisasinya ternyata melompat: total penonton mencapai sekitar 88.000 orang dalam tiga hari. Angka ini penting bukan sebagai pamer, melainkan sebagai indikator: produk yang ditawarkan langsung “ match ” dengan kerinduan publik pada pengalaman kolektif pascapandemi.
Namun angka besar selalu membawa konsekuensi: skala. Dan skala membuat festival tak bisa lagi dipikirkan hanya sebagai panggung dan talent. Ia harus diperlakukan sebagai operasional, pengalaman, dan manajemen risiko yang saling terkait.
Ketegangan itu terasa lebih nyata karena 2022 masih bersentuhan dengan protokol COVID-19: pembatasan, pemindaian, rekomendasi masker. Dalam kondisi seperti itu, kualitas pengalaman justru rawan turun jika produk tidak dirancang sebagai sistem.
Di titik inilah definisi Ucup tentang “produk” menjadi kunci. Ia tidak memulai dari gimmick, melainkan dari fungsi: festival sebagai wadah yang menjaga ekosistem musik tetap hidup.
Ia menegaskannya dengan sederhana. “Produk yang berbentuk wadah yang tujuannya biar meregenerasi dan bisa membuat industri musiknya sustain dengan fasilitas yang diberikan,” ujarnya dalam acara BizzComm Podcast, kerjasama SWA dengan LSPR Faculty of Business.
Dari kalimat itu, terlihat logika dasarnya: regenerasi dan keberlanjutan. Dan kalau tujuan produk adalah keberlanjutan, maka “nilai” tidak bisa berhenti di euforia satu edisi. Ia harus bisa diulang.
Karena itu, Pestapora sejak awal membangun pengalaman sebagai sesuatu yang bisa ditiru penonton lewat memori. Di sini, pengalaman bukan sekadar “enjoy” atau dapat dinikmati — melainkan alasan untuk kembali.
Supermarket
Maka desain pengalaman bekerja seperti benang yang mengikat semua elemen. Festival tidak hanya soal apa yang terjadi di atas panggung, tetapi juga suasana yang dirasakan penonton di sela-sela panggung.
Ucup menggambarkannya seperti taman bermain: mood penonton dijaga dari pintu masuk sampai mereka keluar. Bahkan yang ingin “rehat” dari musik tetap diberi hiburan lain agar pengalaman tidak putus.
Detail lalu menjadi bahasa produk. Signage, alur crowd, area makan, hingga atmosfer umum, semuanya disusun agar penonton merasa hadir dalam sebuah perayaan, bukan sekadar antre menonton artis.
Yang menarik, dari desain seperti itu muncul efek sosial: orang merasa tervalidasi ketika hadir. Namun bagi Ucup, efek itu bukan tujuan yang dicanangkan.
Ia berkata apa adanya. “Hal itu terjadi secara organik aja gitu,” akunya. Kalimat ini penting karena menegaskan satu prinsip: produk tidak dibangun untuk mengejar label sosial, melainkan sesuatu yang muncul karena pengalaman yang dirasakan banyak orang.
Dari sini kita bisa memahami mengapa Pestapora cenderung menolak gaya branding “satu-satunya”. Alih-alih mengunci diri pada diferensiasi, ia memilih strategi yang lebih fungsional: memastikan semua orang bisa menemukan sesuatu di dalam produk.
Ucup memakai analogi yang sangat membumi. “Orang datang ke Pestapora tuh kayak datang ke minimarket atau supermarket gitu,” katanya. Di minimarket atau supermarket, orang jarang pulang dengan tangan kosong. Bukan karena dipaksa, tetapi karena pilihannya banyak.
Analogi itu menjelaskan keputusan penting: lineup yang masif. Banyak penampil bukan sekadar “besar-besaran”, melainkan cara memastikan produk relevan bagi banyak selera: nostalgia, yang sedang happening, sampai newcomer.
Di level produk, ini adalah value proposition. Pestapora bukan satu pengalaman tunggal, melainkan spektrum pengalaman. Penonton bebas merangkai “versi Pestapora” mereka sendiri.
Kebebasan itu juga yang membuat motivasi penonton sangat beragam. Ada yang datang untuk idola, ada yang datang untuk eksplorasi, ada yang datang untuk piknik keluarga. Produk menyiapkan menu; pasar memilih cara mengonsumsinya.
Konsistensi
Setelah 2022 yang meledak, tantangan berubah: konsistensi. Ucup sendiri mengakui 2022 banyak dibantu momentum kerinduan publik untuk berkumpul setelah dipaksa meringkuk di rumah saat pandemi.
Tapi momentum tidak bisa dijadikan satu-satunya mesin pertumbuhan. Karena itu, keberlanjutan tidak dicari lewat gimmick yang wajib diulang. Kejutan dan kolaborasi boleh hadir, tapi tidak dijadikan utang kepada penonton.
Bahkan ketika ekspektasi publik naik — “tahun depan ngapain lagi?” — Pestapora tetap menjaga haknya untuk berjalan wajar. Jika ada ide, dieksekusi. Jika tidak ada ide, festival tidak harus memaksakan diri.
Sikap itu berkaitan langsung dengan risiko produk: kepuasan penonton sering kali ditentukan oleh hal-hal di luar musik. Toilet, akses, alur keluar, kemacetan parkir. Semua itu bisa mengganggu pengalaman (customer experience).
Karena itu, SOP dan evaluasi tahunan bukan pelengkap. Ia justru bagian inti dari desain produk, karena produk festival pada dasarnya adalah kombinasi pengalaman + keselamatan + kenyamanan.
Pembelajaran juga datang dari isu yang tidak selalu bisa diprediksi, misalnya terkait sponsor. Bagi Ucup, itu menjadi catatan untuk memperketat komunikasi dan detail kontrak di tahun berikutnya—bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki sistem.
Jika pengalaman adalah “wajah” produk, maka cashflow adalah “tulang” produk. Ucup melihat banyak event gagal bukan karena konsep, melainkan karena manajemen uang yang naif.
Ia menekankan perlunya plan B: uang tiket tidak selalu bisa cepat dicairkan, sementara artis butuh DP di depan. Tanpa pengelolaan kas yang profesional, festival bisa tumbang bahkan sebelum hari-H.
By data
Prinsip profesionalisme itu juga terlihat dalam cara Pestapora berbicara pada sponsor: by data, bukan by klaim. Produk yang baik harus bisa menunjukkan bukti konkret tentang traction.
Maka penjualan tiket menjadi semacam bahasa bisnis. Bukan “target kita segini”, tetapi “kita sudah dapat segini”. Di sini, produk festival dibuktikan sebelum sepenuhnya “diceritakan”.
Masuk ke tahun 2026, strategi itu terlihat jelas. Penjualan tiket dibuka pada 1 Januari, dan kuota awal dibatasi 5.000 tiket per hari, yang kemudian terserap.
Dari sisi kapasitas, Pestapora kini berada di rentang 35.000–40.000 penonton per hari. Angka ini memberi gambaran skala produk: bukan lagi eksperimen kecil, melainkan platform besar yang butuh desain pengalaman dan operasi yang presisi.
Lalu ada satu keputusan desain yang sering dianggap sepele, padahal sangat strategis: waktu penyelenggaraan. Pestapora konsisten hadir di paruh akhir tahun, dan untuk edisi ini dijadwalkan pada 25, 26, dan 27 September.
Pemilihan September bukan romantisme tanggal, melainkan pembacaan perilaku: menjelang akhir tahun, orang cenderung lebih longgar untuk belanja hiburan. Ditambah faktor ketersediaan venue, akhirnya September menjadi pola yang berulang.
Yang menarik, ketika produk sudah mapan, nilai turunannya biasanya muncul: scaling. Pestapora pun mulai bergerak sebagai IP. Pada 2025, Ucup menambah revenue stream melalui lisensi IP — bukan roadshow, melainkan model “franchise” dengan blueprint dan approval.
Tetapi apa pun bentuk scaling -nya, cara berpikir Ucup tetap sama: eksekusi dulu, lalu perbaiki. Ia menutupnya dengan kalimat yang seperti prinsip produk sekaligus prinsip hidup: “Kalau mau ngelakuin apa-apa ya lakuin aja dulu. Kalau salah minta maaf, kalau benar lanjutin.” (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.




