Kemunculan Genre Timurnesia: Identitas Musik Indonesia Timur yang Mengglobal
Sumber Foto: Tirto.id
Hiburan

Kemunculan Genre Timurnesia: Identitas Musik Indonesia Timur yang Mengglobal

tirto.id - Malam itu, suasana jamuan makan malam KTT ke-43 ASEAN awalnya berlangsung khidmat. Para kepala negara, diplomat, dan tamu undangan tingkat regional duduk rapi menikmati rangkaian acara resmi. Hingga tiba-tiba, Presiden Timor Leste, Xanana Gusmão, bangkit dari kursinya. Tanpa aba-aba, tanpa mengikuti protokol. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama lagu “Kaka Main Salah” yang dibawakan Silet Open Up, musisi asal Nusa Tenggara Timur.

Sekejap, atmosfer formal pun pecah. Goyangan Xanana menjadi pemantik. Para tamu undangan lain tersenyum, sebagian ikut mengangguk, bahkan larut menikmati lagu pop khas Indonesia Timur itu. Musik, malam itu, berhasil menembus batas-batas diplomasi.

“Nona pung belis mahal

Kaka main salah

Kaka main kaka main

Kaka main salah

Bapa mama suruh kaka mundu sa

Nona cari yang lain smoga bahagia,” lirik lagu Kaka Main Salah

“Kaka Main Salah” sejatinya bukan lagu baru. Diciptakan dan dipopulerkan oleh Kapthen Purek bersama Silet Open Up, lagu ini dirilis pada 2019. Namun gaungnya justru meledak beberapa tahun kemudian setelah viral di berbagai platform media sosial. Lagu yang berkisah tentang kandasnya hubungan asmara akibat mahar yang tak sanggup dipenuhi itu kini telah ditonton lebih dari 72 juta kali di YouTube dan diputar lebih dari 100 juta kali di Spotify.

Dua tahun berselang, di Istana Merdeka, Jakarta, lagu asal Indonesia Timur kembali mencuri perhatian. “Tabola Bale” menggelegar memecah sunyi istana negara usai upacara kenegaraan. Sejumlah pejabat negara tampak menikmati alunan lagu tersebut—mulai dari para menteri, Kapolri, Panglima TNI, awak media, tamu undangan, hingga Presiden Prabowo. Sulit menahan diri untuk tidak ikut bergoyang mengikuti irama yang tengah viral itu.

Popularitas lagu ini semakin menanjak sejak diunggah di kanal YouTube Silet Open Up dan dibawakan bersama para kolaborator seperti Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel. Di YouTube, video tersebut telah ditonton lebih dari 445 juta kali. Tak hanya viral, “Tabola Bale” juga mengukir prestasi dengan meraih AMI Awards 2025 untuk kategori Pencipta Lagu Pop Terbaik.

Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas lagu-lagu Indonesia Timur memang melesat tajam. Beat yang enerjik, irama yang menghentak, serta lirik berbahasa daerah yang khas membuatnya terasa segar dan membumi. Lagu-lagu ini seolah menghipnotis siapa saja yang mendengarnya—anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua, rakyat biasa, pejabat, bahkan presiden. Sulit menahan kaki untuk tidak ikut berdendang dan bergoyang.

Di Jakarta Selatan, sebuah ruang terbuka publik kerap menjadi saksi semangat tersebut. Sejumlah musisi Timur rutin menggelar acara bertajuk “ Timuran Jaksel ”. Dengan perlengkapan musik sederhana dan disc jockey seadanya, mereka menyanyikan lagu-lagu dari Timur Indonesia. Tak ada panggung megah—yang ada hanya euforia kolektif yang tumbuh dari musik.

Gaung lagu-lagu Indonesia Timur bahkan telah melampaui batas nasional. Lagu Stecu Stecu karya Faris Adam, musisi asal Ternate, Maluku Utara, mencetak sejarah sebagai lagu Indonesia pertama yang masuk dalam TikTok Global Top 20 Songs of 2025, bertengger di peringkat ke-8 dunia. Dalam daftar tersebut, Stecu Stecu mengungguli lagu-lagu internasional seperti Anxiety (Doechii), Sparks (Coldplay), Ocean Eyes (Billie Eilish), hingga That’s So True (Gracie Abrams).

Musik Timur Asik, Mudah Diterima Semua Kalangan

Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, Ikwan Setiawan, menilai bahwa jika menengok kembali ke era 1990-an, musik dari Indonesia timur sebenarnya sudah sangat populer dan digemari oleh masyarakat Indonesia dari berbagai etnis.

Salah satu contohnya adalah lagu Poco-Poco yang diciptakan oleh Ferry Sapulette dan dinyanyikan oleh Yopie Latul. Lagu tersebut dilengkapi dengan tarian yang kerap dijadikan gerakan senam dan sempat sangat populer di berbagai kalangan.

Hal ini menunjukkan bahwa musik dari Indonesia timur memiliki nuansa serta keunikan musikal tersendiri yang mampu dinikmati oleh masyarakat dari berbagai daerah. Musiknya cenderung rancak dengan atmosfer ceria. Karakteristik musikal inilah yang kini kembali populer melalui lagu-lagu terbaru seperti Tabola Bale, Stecu Stecu, Orang Baru Lebe Gacor, dan lainnya.

“Setidaknya, karakteristik musikal itu kini semakin populer melalui lagu-lagu terbaru seperti Tabola Bale, Stecu Stecu, dan lain-lain. Para musisi saat ini juga semakin kreatif dalam menyerap pengaruh musikal yang ritmis, rancak, dan dinamis, serta memadukannya dengan lirik-lirik yang ceria. Mereka melakukan kreativitas hibrid dengan tetap mendasarkan pada karakter lokal,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Sabtu (7/2/2026).

Ikwan menyebut faktor lain yang membuat lagu-lagu Indonesia timur semakin populer adalah pesatnya perkembangan media baru seperti TikTok, Reels, YouTube, Instagram, dan platform lainnya. Tidak bisa dipungkiri, banyak konten video di media sosial yang menggunakan lagu-lagu timur karena lirik dan komposisi musikalnya yang menarik.

“Bahkan, konten kreator luar negeri pun menggunakan lagu-lagu timur. Media baru dengan keluasan jangkauannya mempermudah musik timur untuk going national sekaligus going global. Dalam konteks ini, musik timur menjadi salah satu produk ‘glokal’, yakni karya lokal yang mengglobal,” jelasnya.

Secara sosiologis dan kultural, musik yang rancak, nge- beat, dan menghadirkan suasana gembira relatif mudah diterima oleh masyarakat yang tengah menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Musik timur, menurut Ikwan, menyentuh struktur rasa masyarakat yang membutuhkan kegembiraan dan kebahagiaan di tengah ketidakpastian kondisi bangsa akibat beragam persoalan.

Muncul Genre Baru #Timurnesia?

Dari panggung rakyat hingga forum internasional, dari ruang publik hingga istana negara, lagu-lagu Indonesia Timur kini menemukan momentumnya. Seiring dengan geliat tersebut, sejumlah musisi Indonesia Timur mengusulkan lahirnya genre musik baru bernama “Timurnesia”.

Usulan ini disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan pada 27 Januari 2026, dalam rangka penyusunan Peta Jalan Ekosistem Musik Indonesia Timur sebagai bagian dari Kebijakan Kebudayaan Nasional.

FGD tersebut dihadiri oleh para musisi Indonesia Timur serta sejumlah perwakilan pemerintah, di antaranya Menteri Kebudayaan, Fadli Zon; Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha; Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto; serta Staf Khusus Kementerian Pertahanan Bidang Komunikasi Sosial dan Publik; Deddy Corbuzier.

Dikutip dari akun resmi Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Timur (NTT), Kementerian Kebudayaan memang telah merencanakan pertemuan dengan para musisi Indonesia Timur sejak awal tahun 2026.

“Gayung bersambut ini bermula ketika Mas @mastercorbuzier menghubungi Mas Wamen Kebudayaan @giring dalam momen Natal bersama keluarga, menyampaikan aspirasi teman-teman musisi Indonesia Timur agar memiliki ruang dan genre musik sendiri yang merepresentasikan identitas mereka. Hingga akhirnya, satu bulan kemudian, aspirasi tersebut dipertemukan dalam ruang dialog, dimusyawarahkan, dan disepakati bersama. Dari proses inilah lahir penamaan genre baru #Timurnesia,” tulis keterangan dalam unggahan Instagram tersebut.

Salah satu musisi yang hadir dalam FGD itu juga menyampaikan bahwa penamaan Timurnesia merupakan hasil kesepakatan bersama.

“Ini adalah masukan dari Silet Open Up, dan nama ini kami rasa merepresentasikan identitas kami sebagai orang Timur. Ada ‘rasa’ kami yang tercatat di dalam nama ini. Jadi, nama yang sudah kami sepakati adalah #Timurnesia,” ujar musisi tersebut, dikutip dari unggahan Instagram @bpkxvintt.

Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, menyebut lahirnya Timurnesia masih merupakan draf awal dari sebuah genre baru. Ia menegaskan bahwa dalam proses ini, Kementerian Kebudayaan berperan sebagai fasilitator untuk menaungi, mendengarkan, dan membina ekosistem kebudayaan Indonesia.

“Kita, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, harus hadir untuk seluruh budayawan,” ujar Giring dalam kesempatan yang sama.

https://www.instagram.com/kemenkebud/reel/DUDWW7AEuwQ/?hl=hr

Dzulfikri Putra Malawi, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif sekaligus Founder Wara Musika, mengapresiasi langkah Kementerian Kebudayaan yang memfasilitasi dialog ini sebagai bentuk perhatian terhadap aspirasi para pelaku industri musik dari Indonesia Timur. Menurutnya, salah satu keresahan utama yang muncul adalah ketiadaan genre khusus bagi musik Timur di berbagai platform digital.

“Ada yang mengkategorikannya sebagai genre acara atau event, ada yang masuk ke dansa, ada pula yang ke hyperlocal. Ada juga yang masih ditempatkan di kategori tradisional, padahal musiknya sudah sangat modern, dan lain sebagainya,” ujar Dzulfikri kepada Tirto, Jumat (6/2/2026).

Ia menjelaskan, para musisi Indonesia Timur khawatir bahwa tanpa kategori genre yang tepat, karya mereka akan sulit dipasarkan dan memperoleh panggung yang layak. Selain itu, absennya genre yang sesuai juga berpotensi membuat monetisasi karya tidak berjalan optimal. Padahal, dalam praktiknya, seluruh ekosistem industri, mulai dari platform streaming digital, festival, ajang penghargaan, hingga brand, selalu menggunakan genre sebagai rujukan utama dalam setiap aktivitasnya.

“Sementara musik dari Timur yang kini viral hingga ke Istana Negara justru masih luput dari struktur genre. Musiknya sudah terlanjur viral dan bahkan menembus pasar global. Akibatnya, keberlangsungan ekosistem musik ini menjadi rapuh karena hanya bergantung pada keberuntungan algoritma dan momentum viral semata. Ini bisa disikapi sebagai krisis kategori pasar dan hilirisasi ekonomi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dzulfikri menegaskan bahwa terlepas dari penamaan yang digunakan, hal terpenting adalah bagaimana genre dipahami sebagai alat kategorisasi untuk kepentingan pemasaran, bukan untuk mengerdilkan atau menyederhanakan keragaman musik Indonesia Timur.

Dalam konteks ini, Timurnesia dapat berfungsi sebagai genre utama untuk mengidentifikasi musik dari Timur, yang ke depannya akan melahirkan berbagai subgenre sesuai kebutuhan pasar dan pendengar—sebuah keniscayaan dalam praktik tools marketing di platform streaming digital.

“Selain itu, yang tak kalah penting adalah pemahaman bahwa musik ini merupakan aset soft power yang harus dirawat dan dikembangkan. Dan pemerintah sudah mulai menyadari hal tersebut,” ujarnya.

Timurnesia Bukan Upaya Menyeragamkan Genre

Kelahiran Timurnesia langsung memicu perbincangan publik. Sejumlah pihak menyuarakan kekhawatiran bahwa wilayah Indonesia Timur memiliki keragaman musikal yang sangat luas, sehingga pengelompokan dalam satu genre berpotensi menimbulkan generalisasi dan penyederhanaan berlebihan.

Menanggapi hal tersebut, Dzulfikri Putra Malawi menegaskan agar Timurnesia tidak buru-buru dimaknai sebagai upaya menyeragamkan genre musik. Menurutnya, inisiatif ini justru ditujukan untuk memperkuat identitas musik yang lahir dan berkembang dari tradisi serta budaya setempat, sekaligus menjawab kebutuhan pemasaran dalam industri.

“Yang perlu digarisbawahi, ini adalah upaya penguatan identitas. Identitas menjadi hal yang penting agar bisa bertahan di industri. Dan ini juga terkait kebutuhan marketing,” ujarnya.

Ia mencontohkan genre K-Pop yang kini mendunia dan merepresentasikan musik Korea Selatan. Sementara itu, musik yang kini kerap dilekatkan dengan Timurnesia, menurutnya, berada di wilayah antara—terlalu modern untuk disebut tradisi, namun terlalu etnik untuk masuk ke pop arus utama.

“Musik Timurnesia ini terlalu modern untuk disebut tradisi, dan terlalu etnik untuk disebut pop mainstream,” katanya.

Sementara itu, Ikwan Setiawan dari Universitas Jember (UNEJ) menilai bahwa usulan penamaan genre musikal baru, Timurnesia, dari sudut pandang kreatif sejatinya tidak menjadi persoalan karena dapat mempermudah identifikasi dan pemahaman publik terhadap kekhasan musik tersebut.

“Namun, tanpa penamaan genre tertentu pun, sebenarnya publik tanah air sudah memahami bahwa ‘oh, kalau musiknya seperti ini, bahasanya seperti ini, berarti musik dari timur’. Karakteristik itu sudah melekat dalam ingatan publik,” ujarnya.

Meski demikian, Ikwan menilai bahwa jika para musisi Indonesia Timur kemudian bersepakat menggunakan istilah Timurnesia, hal itu sah-sah saja, asalkan tidak menjadi batasan yang kaku bagi kreativitas musikal baru. Menurutnya, ketika ada musisi baru dari timur yang menyuguhkan gaya musikal berbeda dari apa yang selama ini disebut Timurnesia, mereka tetap perlu diberi ruang untuk berkembang.

“Jika kita melihat potensi musikal wilayah Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan daerah lainnya, potensi itu luar biasa. Mereka memiliki ragam alat musik dan sistem nada lokal yang bisa dijadikan basis penciptaan, dengan tema dan isu yang juga sangat beragam,” jelasnya.

Ikwan menilai, ke depan bisa saja muncul karya-karya musikal baru yang menonjolkan instrumen tradisional dengan tema lagu yang mengangkat isu lingkungan, pertambangan, hingga romantisme yang lebih variatif. Ia menyebut, hal tersebut dapat dipandang sebagai kemunculan subgenre baru dari Timurnesia.

“Atau bahkan muncul genre yang benar-benar baru—tidak masalah. Publiklah yang pada akhirnya akan memberikan penilaian,” tutupnya.

Timurnesia sebagai Genre, Tergesa-gesa Kah?

Meski demikian, kehadiran Timurnesia sebagai sebuah genre baru tetap menuai beragam perdebatan, termasuk di kalangan musisi Indonesia Timur sendiri. Aden Firman, musisi asal Labuan Bajo, menilai bahwa Timurnesia terkesan terlalu tergesa-gesa ditetapkan sebagai genre.

Menurutnya, fenomena yang belakangan disebut sebagai “lagu timur” seharusnya diberi ruang waktu yang lebih panjang dan organik untuk bertumbuh. Terlebih, musik tersebut telah lebih dulu viral secara alami, bahkan sejak lama mengalun dari tenda-tenda pesta.

“Usulan Timurnesia tampaknya lebih memberi kesan menandai dirinya sebagai kumpulan dilema lama dari kawasan timur Indonesia yang serba terbatas, ketimbang benar-benar hadir sebagai sebuah genre,” ujar Aden saat dihubungi Tirto, Jumat (6/2/2026).

Ia menilai jutaan pendengar yang menikmati “lagu timur” merupakan kabar menggembirakan sekaligus penanda posisi tawar yang kuat—bahwa berkarya di lini musik bisa lahir dari mana saja. Viralitas tersebut, menurutnya, tidak semata diukur dari jumlah like, share, atau comment, melainkan sebagai pengakuan terhadapnya sebagai fenomena, bahkan peristiwa kebudayaan di kepulauan timur Indonesia.

Meski kritis, Aden tetap menaruh harapan terhadap Timurnesia sebagai sebuah wadah. Ia berharap momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mendampingi musisi serta komunitas kreatif yang telah lama tumbuh di wilayah timur Indonesia melalui pendekatan yang relevan dengan konteks dan kebutuhan mereka.

Tanggapan lain datang dari penyanyi asal Nusa Tenggara Timur, Andmesh Kamaleng. Penyanyi lagu Anugerah Terindah–yang telah didengarkan lebih dari 282 juta kali di Spotify-menyarankan agar para penggagas Timurnesia kembali duduk bersama dan melibatkan lebih banyak musisi Indonesia Timur dalam diskusi.

“Ini sebenarnya hanya saran. Mungkin ada baiknya para pencetus ‘genre’ bisa duduk lagi bersama dan mengajak musisi-musisi lain dari timur untuk berembuk bareng,” tulis Andmesh melalui akun Instagram-nya, seperti dikutip Tirto, Jumat (6/2/2026).

Terkait gagasan Timurnesia, Andmesh menilai masih terdapat ruang dan waktu untuk berdialog guna menemukan solusi terbaik, agar ke depannya tidak menimbulkan kesalahpahaman atau perpecahan. Ia pun berharap industri musik Indonesia, khususnya dari wilayah timur, dapat terus berkembang dengan menjunjung tinggi semangat kebersamaan.

“Pada dasarnya kita menginginkan yang terbaik untuk semuanya, khususnya insan musik di tanah timur. Cinta dan kasih harus melingkupi semua pihak,” tutup Andmesh.

Timurnesia Ditegaskan sebagai Wadah, Bukan Genre

Di tengah perdebatan yang berkembang, Silet Open Up dan Ecko Show turut memberikan klarifikasi bahwa Timurnesia bukanlah genre musik. Kepada akun Instagram @nttnetworks, Silet menyebut Timurnesia sebagai rumah besar atau wadah yang menaungi seluruh musik Indonesia Timur, sekaligus menjadi identitas kolektif kawasan tersebut.

“Misalnya dangdut. Dangdut itu rumah besar yang di dalamnya ada koplo, dangdut klasik, dan lain-lain. Begitu juga hip-hop, yang di dalamnya ada old school, new school, trap, swag, dan sebagainya,” ujar Silet, dikutip Tirto, Jumat (6/2/2026).

Senada dengan itu, Ecko Show menegaskan bahwa Timurnesia merupakan wadah yang menaungi berbagai jenis musik dari Indonesia Timur, dengan beragam subkategori—mulai dari lagu pesta timur, rakyat, disko tanah, pop selatan, lagu acara, lagu daerah, etnik, urban, hingga genre lainnya.

“Maaf, kawan-kawan, perlu diralat. #Timurnesia bukanlah genre, melainkan sebuah wadah yang didukung oleh banyak pihak, baik pemerintah, platform, maupun pihak lainnya. Di dalamnya menaungi berbagai genre yang berasal dari Indonesia Timur,” ujar Ecko Show. Tirto telah meminta izin langsung kepada @nttnetworks untuk mengutip pernyataan tersebut.

Lalu, langkah apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk memfasilitasi perkembangan musik dari Indonesia Timur maupun musik daerah yang kini tengah bergeliat?

Dzulfikri menilai sudah tepat apabila pemerintah ikut ambil bagian dalam menyusun peta jalan musik nasional, selama tidak terjebak semata pada penamaan genre. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah membangun kerangka berpikir yang mampu menempatkan genre dalam relasi yang selaras dengan kultur, pasar, industri, serta kepentingan nation branding —sebagaimana yang telah lama dilakukan Korea Selatan melalui strategi Korean Wave.

“Awalnya berangkat dari tradisi dan budaya, lalu dikemas menjadi sebuah brand global. Selain itu, musisi juga harus sadar bahwa mereka merupakan bagian dari value chain. Dengan begitu, level tertinggi musik dari Indonesia Timur sebagai soft power Indonesia bisa diraih dan memiliki peran penting dalam geopolitik budaya,” ujarnya.

Ia berharap ke depan segera lahir kebijakan yang mampu mengakomodasi empat pilar utama sebagai fondasi masa depan musik yang bertumpu pada akar tradisi dan budaya—tidak hanya untuk Indonesia Timur, tetapi juga sebagai momentum pemantik bagi daerah-daerah lain yang tak kalah potensial.

Pertama, Genre & Brand Architecture. Struktur ini dapat dimulai dengan pembentukan genre utama yang kemudian berkembang menjadi berbagai subgenre yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar musik. Kedua, Talent & Production Hub, yang berfungsi untuk meningkatkan standar kualitas, memperkuat ekosistem produksi, serta menciptakan ruang tumbuh yang berkelanjutan bagi musisi dan pelaku industri kreatif.

“Langkah ini bisa dibangun semacam “music lab” yang mengakomodir lini ekosistem produksi musik dengan membuat berbagai macam program seperti producer pool, songwriting camp, visual director, branding coaching, dan DSP optimizer,” ujarnya.

Ketiga, Distribution & Monetization Engine. Pilar ini menjadi bagian krusial di sisi hilir, yang berfokus pada strategi distribusi dan optimalisasi platform serta skema monetisasi agar karya musik dapat berkelanjutan secara ekonomi.

Keempat, Narasi dan Diplomasi. Pilar ini berfungsi sebagai ujung tombak untuk mengamplifikasi pengalaman dan kualitas sonik musik dari Indonesia Timur ke tingkat global.

“Musik ini bisa digunakan dalam program-program expo luar negeri, misi kebudayaan, promosi pariwisata, hingga berbagai agenda diplomasi lainnya, dengan platform dan strategi monetisasi yang dimaksimalkan,” katanya.

Dzulfikri menilai, peta jalan tersebut idealnya direalisasikan dalam jangka menengah, minimal tiga tahun, agar memungkinkan proses pemantauan dan evaluasi industri secara berkelanjutan. Pada tahun pertama, fokus dapat diarahkan pada penetapan genre, pemilihan 10–20 flagship artist, pembentukan satu playlist nasional, serta penyelenggaraan satu festival besar.

Memasuki tahun kedua, strategi dapat diperluas melalui scaling berupa pembentukan merek dagang, brand partnership, serta pelaksanaan tur Asia.

“Di tahun ketiga, sebagai ajang pembuktian, ekspor musik bisa dilakukan dengan komitmen yang tinggi. Bentuknya bisa berupa kolaborasi lintas negara, masuk ke tangga lagu internasional di DSP dan media musik global, hingga komersialisasi lisensi kekayaan intelektual,” ujarnya.