Islam Nusantara: Kontroversi dan Peringatan dari Jamaah Anshorusy Syariah
Sukoharjo - Juru bicara Jamaah Anshorusy Syariah, Ustaz Abdurachim Ba’asyir, mengemukakan bahwa istilah Islam Nusantara merupakan kelanjutan dari ide yang dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Menurutnya, meskipun ada perubahan tokoh dalam penyebaran konsep ini di Indonesia, inti ajarannya tetap sama.
"Secara akar idenya sebenarnya sama, orang-orangnya dibentuk beda karena ini kan dagangan baru. Contohnya, jika Anda menggunakan sales yang sama, nantinya Anda akan ketahuan," ujarnya saat berbicara di Gedung Salimah, Sukoharjo, pada hari Ahad, 8 Juli 2018.
Membongkar Jamaah Islam Nusantara (JIN)
Ustaz Iim, sapaan akrabnya, menyoroti pernyataan salah satu tokoh JIL, Ulil Abshar Abdalla, yang pernah menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak sesuai dengan konteks Indonesia. Ia berpendapat bahwa pemikiran tersebut kini dilanjutkan oleh tokoh-tokoh baru melalui ajaran Islam Nusantara.
"Memunculkan orang-orang baru, tetapi idenya sama, yaitu liberalisme. Intinya, ketika orang liberal sebelumnya secara terang-terangan mengatakan Al-Qur'an tidak relevan dengan kita dan Indonesia, pemikiran itu akan dilanjutkan melalui Islam Nusantara," paparnya.
Peringatan untuk Umat Islam
Ustaz Ba’asyir mengimbau umat Islam untuk mewaspadai ajaran Islam Nusantara, yang menurutnya berpotensi merusak akidah umat. Ia memperingatkan bahwa ajaran yang menekankan perlunya penyesuaian Islam dengan budaya Indonesia dapat menyesatkan kaum Muslimin.
"Inilah yang perlu diwaspadai oleh umat Islam. Ajaran ini sangat berbahaya dan dapat merusak akidah kaum Muslimin," tegasnya.




