Bank Indonesia Lakukan Empat Kali Pemangkasan Suku Bunga, Ekonom Berikan Beragam Pandangan
Sumber Foto: CNBC Indonesia
Catatan Indonesia

Bank Indonesia Lakukan Empat Kali Pemangkasan Suku Bunga, Ekonom Berikan Beragam Pandangan

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) telah melakukan pemangkasan suku bunga acuan sebanyak empat kali sepanjang tahun 2025, dengan penurunan terkini sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5% pada bulan Agustus. Langkah agresif ini diambil sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi inflasi yang terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan bahwa keputusan pemangkasan suku bunga dalam rapat dewan gubernur pada 20 Agustus 2025 merupakan langkah yang tepat. Menurutnya, dengan inflasi yang berada di level 2,37% year-on-year (yoy) dan kurs rupiah yang menguat, BI memiliki ruang untuk lebih fokus dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Keputusan pemotongan ini konsisten dengan kebijakan moneter yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan sambil tetap menjaga stabilitas," jelas Josua.

Ia juga menambahkan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut hingga akhir tahun masih memungkinkan, tergantung pada inflasi inti dan stabilitas rupiah. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Josua memprediksi setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga acuan BI hingga akhir tahun, dengan skenario dasar berupa pemangkasan tambahan 25 bps pada kuartal IV.

David Sumual, Kepala Ekonom BCA, juga berpendapat bahwa setelah penurunan total 100 bps sejak awal tahun, BI masih memiliki ruang untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga. Ia mencatat bahwa likuiditas ekonomi yang melimpah menjelang akhir tahun dapat mendorong pertumbuhan lebih cepat, didukung oleh realisasi belanja pemerintah yang lebih baik.

Global Market Economist dari Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpendapat bahwa daya tarik investasi Indonesia yang kuat serta cadangan devisa yang solid memberikan peluang bagi BI untuk terus menurunkan suku bunga. Menurutnya, aliran masuk investasi portofolio ke Surat Berharga Negara (SBN) terus berlanjut, dengan net inflow sebesar 1,0 miliar dolar AS tercatat pada bulan Juli dan Agustus 2025.

Namun, Kepala Ekonom BSI, Banjaran Indrastomo, memperingatkan bahwa agresivitas BI dalam memangkas suku bunga dapat menimbulkan tekanan pada perekonomian, terutama dengan ketidakpastian di pasar keuangan global yang masih tinggi. Ia mencatat bahwa nilai tukar rupiah saat ini bergerak di kisaran Rp 16.400 per dolar AS dan memperkirakan inflasi akan meningkat ke level 3% pada kuartal III-2025.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, menyampaikan pandangan serupa dengan menyoroti pentingnya memantau fluktuasi harga pangan seiring dengan penurunan suku bunga acuan. Beliau menekankan bahwa kesiapan pemerintah dalam rantai pasok pangan akan diuji, terutama untuk memenuhi kebutuhan sembako di tengah peningkatan belanja pemerintah.