Refleksi Pendiri MAK Terhadap Posisi Industri Manufaktur Indonesia
Sumber Foto: SWA.co.id
Catatan Indonesia

Refleksi Pendiri MAK Terhadap Posisi Industri Manufaktur Indonesia

Jurnal Indonesia - Dalam sebuah percakapan di Kantor Mega Andalan Technopark, Yogyakarta, Buntoro, pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK), menyampaikan keprihatinan terhadap posisi industri manufaktur Indonesia di pasar domestik. Meski perusahaannya berhasil memproduksi peralatan rumah sakit dan menembus pasar ekspor, ia merasa industri lokal masih tertekan oleh arus barang impor yang deras.

Awal Kejadian

MAK beroperasi sebagai perusahaan manufaktur peralatan rumah sakit dengan pengalaman 29 tahun, lebih dari 700 karyawan, dan kapasitas produksi hingga 150.000 bed per tahun. Namun, Buntoro mencermati adanya kontradiksi antara potensi besar industri lokal dan kenyataan pasar yang didominasi oleh produk asing. Ia merasakan dampak langsung dari barang impor yang memenuhi pusat-pusat perbelanjaan, menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan dan kebanggaan produk dalam negeri.

Perkembangan

Buntoro menjelaskan bahwa fenomena ini tidak hanya terlihat di pasar, tetapi juga di kawasan industri yang banyak diisi oleh perusahaan asing. Dengan perizinan yang rumit, biaya produksi yang meningkat, dan persaingan harga yang tidak seimbang, ia mencemaskan keberlangsungan industri lokal. Ia menekankan ketidaknyamanan ketika Indonesia, dengan sumber daya besar dan populasi ratusan juta, masih bergantung pada barang impor, yang berimplikasi pada terbukanya lapangan kerja di negara lain dan terbatasnya peluang bagi generasi muda di Indonesia.

Kondisi Terakhir

Meski begitu, Buntoro menolak untuk melihat situasi ini sebagai jalan buntu. Ia mengusulkan pemanfaatan lahan industri yang lebih produktif dan terencana, serta pengembangan ekosistem yang mendukung industri dan UMKM. Ia menegaskan pentingnya industrialisasi untuk menciptakan rantai nilai ekonomi yang saling terhubung dan meningkatkan lapangan kerja formal. Menurutnya, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan, Indonesia harus mengisi pasarnya dengan produk lokal, bukan sekadar berfungsi sebagai pasar bagi produk asing.