Kondisi Ekonomi Indonesia di Akhir 2025: Tangguh dan Berdaya Saing
Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan ketahanan yang signifikan di tengah berbagai tantangan global. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, yang menilai bahwa kondisi ini menjadi fondasi yang kuat untuk kinerja ekonomi nasional di masa mendatang.
Pertumbuhan Ekonomi yang Resilien
Febrio menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung oleh aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali pada tingkat 2,92% (yoy), serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. Menurutnya, faktor-faktor ini menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada tahun 2026.
Aktivitas Manufaktur yang Positif
Pada akhir tahun 2025, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja yang positif. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur pada bulan Desember tercatat di level 51,2, menandakan fase ekspansif selama lima bulan berturut-turut. Kinerja ini didukung oleh permintaan domestik yang kuat, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku.
Optimisme pelaku usaha juga mengalami peningkatan, mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, yang mencerminkan keyakinan mereka terhadap prospek sektor manufaktur ke depan. Di tingkat global, aktivitas manufaktur di negara mitra utama Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan, seperti di Amerika Serikat (51,8), China (50,1), dan India (55,7). Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) ikut menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.
Neraca Perdagangan yang Mencatat Surplus
Febrio juga mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan November 2025 mencatat surplus sebesar USD2,66 miliar, melanjutkan tren surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif, neraca perdagangan dari Januari hingga November 2025 membukukan surplus sebesar USD38,54 miliar, meningkat USD9,30 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
Adapun total ekspor sepanjang Januari-November 2025 tercatat sebesar USD256,56 miliar, meningkat 5,61% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor industri pengolahan memberikan kontribusi signifikan sebesar 10,41%. Sementara itu, total impor tercatat sebesar USD218,02 miliar, naik 2,03%, didorong oleh peningkatan permintaan barang modal yang sejalan dengan aktivitas produksi yang semakin ekspansif.
Strategi Ke Depan
Febrio menekankan pentingnya keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama sebagai langkah strategis untuk mengantisipasi berbagai dinamika global yang mungkin terjadi di masa depan.




