Eskalasi AS-Iran Ancam Pasokan Minyak dan Stabilitas Ekonomi Global
INTERNASIONAL
Ketegangan di antara dua kekuatan besar, AS dan Iran, kian memuncak.
Kompas/Supriyanto
Oleh Rangga Eka Sakti
05 Feb 2026 06:00 WIB · Internasional
Benturan dua kekuatan ini tidak hanya berpotensi menggoyang stabilitas Timur Tengah. Faktor geopolitik dan ekonomi bisa membuat seluruh dunia merasakan dampak dari perseteruan ini.
Kekhawatiran akan pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran ini mencuat sejak awal 2026. Di tengah gonjang-ganjing akibat agresivitas AS di Venezuela dan rencana Greenland, Presiden AS Donald Trump menyampaikan keinginannya untuk ”membela” warga Iran yang direpresi oleh rezim pemerintahan Iran.
Pesan Trump ini bukan hanya omongan semata. Pasalnya, sejak Trump menyampaikan pesan tersebut, AS secara aktif membangun kekuatan militernya di dekat kawasan Timur Tengah.
Hal ini terbukti dari USS Abraham Lincoln, kapal induk yang mampu menampung lebih dari 5.000 personel dan 80 pesawat dan helikopter perang, yang kini tengah terparkir di sekitar Samudra Hindia.
Pesan agresif Trump ini berbarengan dengan momentum melemahnya legitimasi pemerintahan Iran. Sejak akhir 2025, Iran memang tengah menghadapi rangkaian protes besar-besaran.
Singkatnya, gelombang demonstrasi diakibatkan dari represi serta pemerintahan yang dianggap korup menjadi sekam yang terbakar hebat ketika situasi ekonomi memburuk dalam waktu yang sangat singkat.
Situasi politik domestik di Iran ini semakin parah akibat respons yang diberikan pemerintah. Laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) pada akhir Januari 2026 menunjukkan bahwa lebih dari 5.500 pendemo tewas dan 17.000 orang lainnya luka-luka akibat respons represif yang diberikan otoritas Teheran.
Kompleksitas situasi di Iran ini bisa menjadi hal yang menguntungkan AS. Dalam konteks agresi, kekejaman Iran dalam menghadapi demonstrasi ini bisa memberikan legitimasi bagi pasukan AS. Artinya, bisa jadi komunitas memberikan pemakluman ketika Trump benar-benar melakukan serangan ke Iran.
Potensi dampak konflik terbuka
Kendati demikian, meski mungkin mendapat dukungan dari komunitas internasional, bisa dipastikan bahwa semua berharap eskalasi tidak meledak menjadi konflik terbuka.
Pasalnya, konflik antara AS dan Iran bisa menyebabkan dampak serius terhadap situasi ekonomi internasional. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari beberapa variabel.
Variabel pertama adalah harga minyak yang akan melejit akibat konflik tersebut. Per 2024, Iran mengekspor 1,5 juta barel minyak mentah atau setara dengan sekitar 4 persen dari kebutuhan pasar global.
Artinya, konflik ini akan secara langsung mengurangi suplai minyak mentah, terutama bagi China sebagai penampung terbanyak minyak produksi Iran.
Selain dari aspek produksi, hal lain yang juga bisa berdampak pada destabilisasi ialah akses di Selat Hormuz. Terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz bisa dibilang sebagai choke point paling penting di dunia. Pasalnya, selama 2023 sampai 2025, sebanyak 20 hingga 25 persen dari perdagangan minyak dunia melintasi selat tersebut.
Persoalannya, Selat Hormuz ini berada di wilayah laut teritorial Iran. Artinya, ketika perang meledak antara AS dan Iran, hampir bisa dipastikan Iran akan mengancam untuk memblokade selat ini sebagai bentuk retaliasi. Ketika hal ini terjadi, AS akan mendapat tekanan dari aliansinya di Timur Tengah karena matinya jalur perdagangan mereka.
Secara global, data dari platform analisis Kpler menunjukkan bahwa penutupan Selat Hormuz bisa menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak hingga di rentang 120-150 dolar AS per barel.
Harga ini merupakan lonjakan dua kali lipat dari harga minyak mentah saat ini yang berada di kisaran 62-63 dolar AS per barel untuk WTI Crude dan 66,3-67,03 dolar AS untuk Brent Crude.
Preseden lampau
Kekhawatiran akan dampak penutupan Selat Hormuz ini bukanlah tanpa alasan. Sedari dulu, Iran paham betul seberapa penting keterbukaan akses perdagangan di selat tersebut. Maka dari itu, selat ini terus menjadi kartu as yang digunakan Iran untuk memberikan tekanan pada komunitas internasional.
Hal ini telah beberapa kali dilakukan Iran. Pada 2008, ketika terjadi insiden antara kapal Iran dan AS di sekitar Selat Hormuz, otoritas Iran memberikan ancaman untuk menutup selat ini. Langkah serupa pernah dilakukan pada 2011 ketika Iran mengalami tekanan sanksi ekonomi.
Di satu sisi, preseden sebelumnya menunjukkan bahwa ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz belum pernah termaterialisasi. Bisa jadi, hal ini disebabkan oleh pentingnya jalur Selat Hormuz bagi keberlangsungan perdagangan Iran. Namun, di sisi lain, ancaman ini bisa menjadi nyata ketika Iran sudah tidak memiliki pilihan lain ketika AS benar-benar melakukan invasi.
Dalam konteks eskalasi ketegangan terakhir, sinyal ancaman ini pun telah ditunjukkan oleh Iran. Pada 30 Januari 2026, menurut informasi yang didapatkan oleh US Central Command (Centcom), militer Iran atau Korps Garda Revolusioner Islam akan mengadakan latihan militer di Selat Hormuz pada awal Februari 2026.
Informasi ini pun dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Iran yang menyatakan jaminan keselamatan bagi kapal perdagangan yang melintas di Selat Hormuz ketika latihan militer berlangsung.
Dalam konteks diplomasi, apa yang dilakukan Iran perlu dibaca serius. Artinya, pada situasi yang mendesak, militer Iran siap untuk melakukan blokade di selat penting itu.
Bagi Indonesia, skenario ini bisa jadi mimpi buruk. Pasalnya, per 2024, Indonesia masih menjadi negara net impor, yang produksi minyak domestiknya di kisaran 579.000 barel per hari harus ditopang impor untuk memenuhi kebutuhan yang berada di kisaran 1,5 juta-1,6 juta barel per hari. Dalam keadaan perang dan penutupan Selat Hormuz, kenaikan biaya impor minyak yang mencapai hampir dua kali lipat bisa membuat APBN jebol.
Pada akhirnya, perkembangan ketegangan antara AS dan Iran perlu terus diperhatikan. Menilik insiden pada pertengahan 2025, yakni AS melakukan serangan militer langsung ke Iran melalui operasi Midnight Hammer, perang di antara dua raksasa ini bukanlah skenario yang mustahil.
Semoga saja, Indonesia yang kini tengah membangun kedekatan dengan AS bisa membantu mendinginkan suasana agar skenario terburuk tidak terjadi. (LITBANG KOMPAS)
AS terlibat perang Iran-Israel as iran AS - Iran ekonomi iran donald trump perang SDGs SDG07-Energi Bersih dan Terjangkau SDG06-Air Bersih dan Sanitasi Layak SDG09-Industri, Inovasi dan Infrastruktur SDG02-Tanpa Kelaparan SDG15-Ekosistem Daratan
Kerabat Kerja
Penulis:
Rangga Eka Sakti
|
Editor:
Yohan Wahyu
|
Penyelaras Bahasa:
Nur Adji




