Oasis Rayakan 30 Tahun 'Don't Look Back in Anger' dengan Rilis Visualiser Baru
Sumber Foto: Hypeabis
Hiburan

Oasis Rayakan 30 Tahun 'Don't Look Back in Anger' dengan Rilis Visualiser Baru

Tiga dekade telah berlalu sejak Oasis merilis anthem legendaris mereka, Don’t Look Back in Anger. Lagu yang pertama kali dirilis pada 19 Februari 1996 ini kini genap berusia 30 tahun, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu tonggak penting dalam katalog musik Britpop yang terus relevan lintas generasi.

Melalui akun Instagram resminya, Oasis mengumumkan rencana perilisan sebuah visualiser terbaru untuk single tersebut sebagai bagian dari perayaan tiga dekade perjalanannya di industri musik global. Visualiser ini dijadwalkan tayang perdana di YouTube pada Kamis (19/02/26) pukul 21.00 WIB, dan diharapkan menghadirkan pengalaman visual yang memperkaya nostalgia sekaligus menjangkau pendengar baru di era digital.

View this post on Instagram

A post shared by Oasis (@oasis)

Dirilis sebagai bagian dari album monumental (What’s the Story) Morning Glory?, lagu ini menandai momen berbeda dalam perjalanan Oasis. Jika biasanya vokal utama dipegang oleh Liam Gallagher dengan gaya khasnya yang tajam dan penuh sikap, kali ini sang kakak, Noel Gallagher, mengambil alih mikrofon.

Menurut American Songwriter, lagu ini bermula dari progresi akor yang dimainkan Noel saat soundcheck di Paris. Dari gumaman tak sengaja lahir frasa “So Sally can wait”, yang kemudian menjadi salah satu lirik paling dikenang dalam sejarah musik ’90-an. Menariknya, Noel mengakui bahwa ia tidak benar-benar mengenal siapa pun bernama Sally.

Nama itu hadir semata karena terasa pas secara musikal, namun justru di situlah letak magisnya. Sally menjelma menjadi simbol universal tentang seseorang yang menunggu, tentang kesempatan yang terlewat, dan tentang keputusan untuk melangkah tanpa menoleh penuh amarah.

Secara musikal, lagu ini tak lepas dari pengaruh besar era ’60-an. Intro pianonya yang mengingatkan pada Imagine karya John Lennon kerap menjadi bahan perbincangan. Oasis memang sering dibandingkan dengan The Beatles, dan Noel sendiri tak pernah menampik pengaruh tersebut.

Namun alih-alih dianggap sebagai tiruan, Don’t Look Back In Anger justru berhasil berdiri sebagai identitasnya sendiri dengan perpaduan nostalgia klasik dan semangat generasi ’90-an. Lebih dari sekadar lagu patah hati, karya ini membawa pesan tentang berdamai dengan masa lalu.

Dalam sebuah wawancara, Noel pernah menjelaskan bahwa lagu ini berbicara tentang tidak terus-menerus terjebak pada masa lalu. Ia membenci sikap yang selalu menyesali apa yang telah terjadi. Don’t Look Back in Anger adalah ajakan untuk menatap ke depan.

Pesan itu terasa relevan lintas zaman. Di tengah dunia yang kerap dipenuhi penyesalan dan konflik, lagu ini menawarkan semacam penghiburan bahwa hidup terus berjalan, dan tidak semua hal layak disesali selamanya.

Tak heran jika selama bertahun-tahun, Don’t Look Back In Anger menjadi lagu wajib di hampir setiap konser Oasis hingga mereka bubar pada 2009 dan kembali reuni pada 2024. Lebih dari sekadar lagu Britpop, Don’t Look Back in Anger menjelma menjadi pernyataan generasi tentang harapan, nostalgia, dan keberanian untuk melangkah tanpa amarah.

)