Literasi Sains Indonesia Paparkan Tiga Prinsip Penulisan Artikel untuk Jurnal Scopus
BSINews, Sukabumi — Upaya meningkatkan jumlah publikasi ilmiah Indonesia di jurnal internasional terus diperkuat melalui berbagai kegiatan edukasi. Salah satunya dilakukan oleh Literasi Sains Indonesia, yang memaparkan tiga prinsip utama penulisan artikel ilmiah untuk membantu peneliti meningkatkan peluang lolos seleksi jurnal terindeks Scopus. Paparan tersebut disampaikan melalui materi edukatif bertajuk “Tips Jurnal Terindeks Scopus” yang belakangan ramai diperbincangkan di kalangan akademisi.
Ketiga prinsip ini dinilai sederhana, namun sangat menentukan kualitas naskah ilmiah, khususnya dari sisi kebahasaan dan kejelasan penyampaian ide.
1. Menjaga Subjek Kalimat Tetap Singkat
Dalam penulisan artikel ilmiah, struktur kalimat menjadi aspek penting yang sering kali diabaikan. Literasi Sains Indonesia menekankan bahwa subjek kalimat sebaiknya dibuat sesingkat mungkin agar pesan utama mudah dipahami pembaca.
Kalimat dengan subjek terlalu panjang cenderung bertele-tele dan membingungkan, seperti contoh berikut:
“A full explanation of why the model cannot accommodate this particular case of omitted variable bias is given in the appendix.”
Struktur kalimat yang lebih efektif adalah dengan meletakkan subjek secara ringkas di awal, misalnya:
“The appendix explains in full why the model cannot accommodate this particular case of omitted variable bias.”
Prinsip ini membantu editor dan reviewer menangkap ide utama dengan cepat, terutama dalam proses seleksi awal jurnal internasional.
2. Menjadikan Kata Kerja sebagai Fokus Utama
Prinsip kedua adalah menghindari penggunaan nominalisasi, yaitu mengubah kata kerja menjadi kata benda. Kalimat dengan struktur terlalu abstrak sering membuat tulisan ilmiah terasa kaku dan kurang komunikatif.
Contoh kalimat yang kurang direkomendasikan:
“Their suggestion for us was a different analysis of the data.”
Bentuk kalimat yang lebih jelas dan dinamis adalah:
“They suggested that we analyze the data differently.”
Penggunaan kata kerja aktif membuat penjelasan riset lebih hidup, lugas, dan mudah dipahami oleh pembaca internasional.
Baca juga: Rahasia Lolos Publikasi Jurnal: Hindari 5 Kesalahan Klasik Ini!
3. Membuka Kalimat dengan Informasi Lama untuk Menjaga Kohesi
Kohesi antar kalimat juga menjadi faktor penting dalam penilaian artikel ilmiah. Literasi Sains Indonesia menyarankan penulis membuka kalimat dengan informasi yang telah disebutkan sebelumnya, kemudian memperkenalkan informasi baru di bagian akhir kalimat.
Contoh kalimat yang kurang kohesif:
“Yersinia contains several species. The cause of bubonic plague, also known as the ‘black death’, is one species, Y. pestis.”
Versi yang lebih mengalir dan logis:
“Yersinia contains several species. One species, Y. pestis, is the cause of bubonic plague.”
Dengan pola ini, alur paragraf menjadi lebih rapi dan mudah diikuti oleh pembaca.
Dorong Kualitas Tulisan Ilmiah Peneliti Indonesia
Melalui edukasi ini, Literasi Sains Indonesia berharap semakin banyak peneliti, dosen, dan mahasiswa Indonesia yang mampu bersaing di jurnal bereputasi global. Teknik penulisan yang sederhana namun tepat terbukti menjadi kunci penting dalam meningkatkan peluang publikasi di Scopus.
Pemahaman mengenai penulisan ilmiah yang baik juga terus didorong di lingkungan perguruan tinggi, termasuk di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif, agar sivitas akademika mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, sistematis, dan berdaya saing internasional. (Tiara Sari)




