Sekolah Rakyat: Jembatan Emas untuk Pendidikan Anak-anak Miskin di Bali
Jurnal Indonesia - Pendidikan menjadi kunci untuk mengatasi kemiskinan di Bali, di mana masih terdapat 28.000 anak yang tidak dapat mengakses pendidikan formal. Program Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi untuk memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Awal Kejadian
Kemiskinan di Bali telah mengalami fluktuasi, dengan angka turun menjadi 3,61% pada September 2019. Namun, pandemi Covid-19 yang melanda Bali pada tahun 2020 berdampak negatif pada sektor pariwisata, yang merupakan tulang punggung perekonomian daerah. Hal ini menyebabkan peningkatan angka kemiskinan menjadi 4,72% pada September 2021. Meskipun perekonomian mulai pulih, ketimpangan antara kaya dan miskin tetap menjadi isu yang mendesak.
Perkembangan
Kemiskinan tidak hanya mempengaruhi aspek ekonomi, tetapi juga akses terhadap pendidikan, makanan bergizi, dan kesehatan. Terdapat 4 juta anak di Indonesia dan 28.000 anak di Bali yang terhambat dalam pendidikan. Biaya pendidikan yang mencakup buku, seragam, dan transportasi menjadi penghalang bagi anak dari keluarga miskin untuk tetap bersekolah. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat muncul sebagai program yang bertujuan untuk menyediakan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kondisi Terakhir
Saat ini, hanya ada satu Sekolah Rakyat permanen di Bali, yaitu di Desa Tulamben, Kabupaten Karangasem, dengan kapasitas 276 peserta didik. Namun, masih ada sekitar 27.791 anak di Bali yang tidak bersekolah, sehingga satu sekolah rakyat dianggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Diperlukan lebih banyak sekolah rakyat di berbagai kabupaten dan kota untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi kemiskinan melalui pendidikan.




