Dampak Kemiskinan Menstruasi Terhadap Perempuan di Indonesia
Sumber Foto: Mojok.co
Sosial

Dampak Kemiskinan Menstruasi Terhadap Perempuan di Indonesia

Jurnal Indonesia - Perempuan dari keluarga miskin di Indonesia sering kali dihadapkan pada pilihan sulit antara membeli pembalut saat menstruasi atau memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Fenomena ini dikenal dengan istilah period poverty atau kemiskinan menstruasi, yang mencakup bukan hanya ketidakmampuan untuk membeli pembalut, tetapi juga keterbatasan akses terhadap air bersih, fasilitas sanitasi, dan pengetahuan tentang pengelolaan menstruasi yang sehat.

Awal Kejadian

Pengalaman seorang ibu yang menggunakan handuk bekas saat menstruasi menggambarkan realitas yang masih dialami banyak perempuan di Indonesia. Meskipun situasi ini terlihat sebagai bagian dari masa lalu, kenyataannya, banyak perempuan hingga saat ini masih kesulitan mendapatkan pembalut yang layak.

Perkembangan

Berdasarkan analisis BBC News, perempuan di Indonesia menghabiskan sekitar 1,7 persen dari pendapatan bulanan mereka untuk kebutuhan menstruasi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata di negara Asia lainnya. Bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah, pembalut dianggap bukan sebagai kebutuhan prioritas, sehingga sering kali dibeli setelah kebutuhan pangan terpenuhi. Kondisi ini memaksa sejumlah perempuan untuk menggunakan bahan seadanya, seperti kain atau tisu, yang dapat memicu masalah kesehatan.

Selain masalah biaya, stigma sosial terhadap menstruasi berperan dalam memperburuk kemiskinan menstruasi. Banyak perempuan yang merasa malu untuk membicarakan kebutuhan mereka, sehingga mereka kesulitan mendapatkan informasi dan dukungan saat menghadapi masalah terkait menstruasi.

Kondisi Terakhir

Di sekolah, dampak dari kemiskinan menstruasi terlihat jelas. Penelitian menunjukkan bahwa banyak siswi yang merasa cemas hingga memilih untuk tidak masuk sekolah saat menstruasi. Keterbatasan fasilitas sanitasi di sekolah, seperti toilet yang kotor dan kurangnya air bersih, juga menjadi faktor penghambat. Untuk mengatasi masalah ini, program Kotak KASIH diusulkan sebagai solusi untuk menyediakan produk menstruasi gratis di tempat-tempat umum dan pendidikan tentang kesehatan reproduksi perlu diperluas untuk menghilangkan stigma seputar menstruasi.