PBNU Apresiasi Peluncuran Jurnal Islam Nusantara, Diharap Jadi Rujukan hingga Solusi bagi Timur Tengah
Sumber Foto: NU Online
Jurnal Nusantara

PBNU Apresiasi Peluncuran Jurnal Islam Nusantara, Diharap Jadi Rujukan hingga Solusi bagi Timur Tengah

Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta meluncurkan Islam Nusantara Journal for Study of Islamic History and Culture pada Selasa (27/10) malam. Peluncuran digelar secara luring dan virtual serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube 164 Channel.

Peluncuran ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Dekan Fakultas Islam Nusantara Ahmad Suaedy. Potongan tumpeng diserahkan kepada Wakil Rektor II Unusia Jakarta H Juri Ardiantoro, Dosen Islam Nusantara Ulil Abshar Abdalla, dan Ketua Program Magister Islam Nusantara KH Ali M Abdillah.

PBNU: Islam Nusantara bukan sekte atau mazhab baru

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengapresiasi peluncuran jurnal tersebut. Ia menyatakan bangga dan bersyukur karena jurnal itu diharapkan dapat memperkuat Islam Nusantara.

Menurut Said Aqil, Islam Nusantara kerap dipahaminya sebagai tipologi Islam yang harmonis, santun, dan ramah terhadap siapa pun dan apa pun. Ia menegaskan Islam Nusantara bukan sekte, aliran, maupun mazhab baru dalam agama.

Ia juga mengajak untuk membangun kebesaran Islam Nusantara dan berharap gagasan tersebut dapat ditawarkan kepada dunia. Said Aqil menilai Islam Nusantara dapat diterima sebagai solusi bagi Timur Tengah dalam memahami keharmonisan antara agama dan negara.

Said Aqil menyebut banyak tamu dari Timur Tengah yang datang ke PBNU, antara lain dari Lebanon, Suriah, Turki, Arab Saudi, dan Mesir, dan ia kerap menceritakan Islam Nusantara kepada mereka. Ia juga mengaku pernah menyampaikan gagasan Islam Nusantara di hadapan Raja Maroko serta di sejumlah negara lain, seperti Aljazair, Tunisia, Mesir, Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan Jepang.

Dalam berbagai kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang wasathiyah dan tasamuh, serta menyinggung falsafah bangsa Pancasila. Ia berharap umat Islam Indonesia, terutama intelektual Nahdlatul Ulama, menjadikan Islam Nusantara sebagai kiblat dalam mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang baik.

Said Aqil mengatakan pengenalan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Islam Nusantara diterima oleh para ilmuwan di luar negeri. Ia juga berharap jurnal yang diluncurkan dapat dibaca berbagai kalangan dan tersedia di perpustakaan perguruan tinggi.

Jurnal terbit dalam tiga bahasa

Dekan Fakultas Islam Nusantara Ahmad Suaedy menyampaikan bahwa jurnal tersebut diterbitkan dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Ia menyebut penerbitan jurnal menjadi bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya kajian dan pengajaran Islam Nusantara di Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta.

Suaedy menjelaskan program magister (S2) Fakultas Islam Nusantara telah meluluskan lebih dari 125 orang sejak 2013. Sementara program doktor (S3) disebut telah meluluskan tiga angkatan dalam satu setengah tahun terakhir.

Ia menambahkan, sebagian angkatan pertama program doktor telah menyelesaikan proposal disertasi dan memasuki tahap penelitian lapangan. Proposal yang telah lolos antara lain membahas sejarah Aceh, sejarah Palembang, serta kajian tentang Ratu Adil pada abad ke-19 dan abad ke-20.

Riset meluas hingga Asia Tenggara dan jalur rempah

Suaedy mengatakan pihaknya mengembangkan penelitian tentang Islam Nusantara di kawasan Asia Tenggara, termasuk kajian mengenai jalur rempah di Asia, India, dan Timur Tengah pada masa lalu. Ia menyebut jurnal ini tidak hanya menjadi ruang pergulatan ilmiah tentang Islam Nusantara dan Indonesia, tetapi juga mengembangkan interaksi kajian dengan wilayah lain seperti Asia Tenggara, Timur Tengah, India, Asia, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Ia menegaskan Islam Nusantara yang dimaksud tidak diposisikan sebagai ilmu yang bersifat instrumental, apalagi politis. Menurutnya, Islam Nusantara disajikan secara paradigmatik dengan melihat berbagai perubahan dunia dari perspektif Islam damai.

Suaedy juga menekankan keterbukaan terhadap siapa pun dan dari mana pun, serta pentingnya perspektif kritis termasuk terhadap diri sendiri. Karena itu, tema peluncuran jurnal diangkat sebagai “Islam Nusantara and the challenge of world peace”. Ia menyebut tujuan tema tersebut adalah untuk belajar dari berbagai sumber pengetahuan tanpa memandang asal-usulnya, sekaligus memberi kontribusi bagi tata kelola dunia demi perdamaian.

Mengaitkan Islam Nusantara dengan isu kontemporer

Dalam jurnal tersebut, Islam Nusantara juga dikaitkan dengan sejumlah isu kontemporer. Suaedy menyebut beberapa di antaranya:

  • Urbanisasi
  • Pergerakan transnasional
  • Perubahan iklim dan lingkungan hidup
  • Pertanahan
  • Pengungsi internasional
  • Perdagangan manusia
  • Aspek lalu lintas pada era globalisasi

Menurut Suaedy, Islam Nusantara memiliki kekayaan khazanah yang besar namun belum digali secara baik dan sistematis. Ia berharap pengembangan kajian tersebut dapat bermanfaat sebagai acuan dan petunjuk bagi masa depan.