Epidemiolog Minta Nama Vaksin Nusantara Diubah untuk Menghormati Orisinalitas Ilmiah
Sumber Foto: ANTARA News Megapolitan
Jurnal Nusantara

Epidemiolog Minta Nama Vaksin Nusantara Diubah untuk Menghormati Orisinalitas Ilmiah

Jakarta (ANTARA) - Dicky Budiman, seorang epidemiolog dari Griffith University Australia, mengungkapkan bahwa nama "Vaksin Nusantara" sebaiknya diubah. Ia menekankan bahwa vaksin berbasis sel dendritik yang dikembangkan di Indonesia bukanlah inovasi asli, melainkan merupakan bagian dari penelitian global yang telah dilakukan oleh banyak peneliti di seluruh dunia.

"Kalimat bahwa Vaksin Nusantara sudah dipublikasi dalam jurnal internasional perlu diluruskan. Ini adalah review dari vaksin sel dendritik, jadi jangan gunakan nama Vaksin Nusantara," jelas Dicky Budiman dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, penamaan Vaksin Nusantara telah menimbulkan beragam reaksi di masyarakat, mengingat banyak jurnal internasional yang telah memberikan ulasan mengenai sel dendritik. Dicky juga menegaskan bahwa Indonesia bukan pionir dalam penelitian vaksin berbasis sel dendritik. "Vaksin berbasis sel dendritik ini sudah banyak diteliti dan direview di luar negeri. Kita bukan pelopor dalam hal ini," tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam jurnal internasional yang membahas vaksin sel dendritik, tidak ada penyebutan terhadap nama Vaksin Nusantara. "Ini adalah vaksin sel dendritik. Tidak ada yang menyebutkan Vaksin Nusantara dalam literatur tersebut," ungkap Dicky.

Dicky juga menyatakan bahwa penamaan Vaksin Nusantara dapat dilakukan jika sudah ada pengesahan sebagai merek dagang. "Jika sudah ada nama dagangnya, ya, itu boleh. Kita harus fair, karena ini bukanlah inovasi Indonesia, melainkan inovasi dunia. Kita perlu menghargai orisinalitas dalam dunia ilmiah," tegasnya.

Melalui penelaahan terhadap jurnal internasional, Dicky menemukan bahwa data serta bukti efikasi dan efektivitas Vaksin Nusantara terhadap COVID-19 belum dimuat. Ia menekankan pentingnya bukti ilmiah yang didapat dari hasil uji klinis. "Sayangnya, hasil dari riset Vaksin Nusantara atau vaksin sel dendritik yang dilakukan belum muncul di literatur review ini," katanya.

Dicky menambahkan bahwa publikasi tentang vaksin berbasis sel dendritik Vaksin Nusantara di jurnal internasional merupakan langkah positif. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan besar di masa depan adalah biaya pengembangan yang tinggi, termasuk kebutuhan sumber daya manusia dan aspek lainnya. "Jika berbicara tentang strategi kesehatan masyarakat, hal ini menjadi sulit, karena harus mudah, murah, dan cepat, selain efektif," ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa vaksin berbasis sel dendritik memiliki potensi yang patut untuk terus dikembangkan. "Sejak awal, saya sudah menyampaikan bahwa potensinya memang ada, dan review sebelumnya juga menyatakan hal yang sama," tutup Dicky.