Ahli Soroti Jurnal Vaksin Sel Dendritik yang Disebut Terawan: Bersifat Hipotesis dan Tanpa Pembuktian
Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengungkapkan adanya publikasi yang ia sebut menjadi acuan terkait vaksin Nusantara berbasis sel dendritik. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah diskusi yang videonya diunggah di akun YouTube Josie Chyntia pada Minggu (26/5/2021).
Dalam video tersebut, Terawan mengatakan bahwa pembahasan mengenai vaksin sel dendritik sedang ramai dibicarakan di dunia, termasuk di New York, dan telah terbit dalam jurnal kesehatan yang terindeks di National Library of Medicine (Pubmed). Ia menyebut artikel berjudul Dendritic cell vaccine immunotherapy; the beginning of the end of cancer and COVID-19.
Terawan menyatakan, isi publikasi itu membahas dendritic cell vaccine immunotherapy atau vaksin Nusantara, dan menafsirkan bahwa dunia memiliki hipotesis bahwa pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan masalah kanker dan Covid-19.
Tanggapan peneliti vaksin: publikasi bukan validasi mutlak
Peneliti vaksin sekaligus doktor di bidang Biokimia dan Biologi Molekuler di Universitas Adelaide, Australia, dr Ines Atmosukarto, menanggapi jurnal yang dipublikasikan di Pubmed pada 9 November 2020 itu. Melalui akun Twitter-nya, ia menekankan bahwa publikasi di jurnal tidak otomatis menjadi validasi sepenuhnya, dan diskusi ilmiah setelah publikasi tetap diperlukan.
Saat dihubungi pada Jumat (28/5/2021), dr Ines menjelaskan bahwa makalah tersebut merupakan tulisan yang memuat hipotesis, bukan laporan hasil penelitian.
“Jadi sifatnya spekulatif tidak didukung pembuktian,” kata dr Ines.
Dinilai bukan rujukan pelaporan penelitian vaksin
Menurut dr Ines, makalah tersebut bukan jurnal acuan untuk pelaporan penelitian vaksin. Ia juga menilai ketiga penulis artikel itu tidak memiliki rekam jejak di bidang vaksin sel dendritik.
Ia mencontohkan pernyataan dalam abstrak yang berbunyi, “We hypothesize that DC (Dendritic Cell) vaccine therapy may provide a potential treatment strategy to help combat COVID-19,” yang menunjukkan bahwa tulisan tersebut berupa hipotesis.
dr Ines menambahkan, fokus ulasan dalam makalah itu sebenarnya membahas vaksin sel dendritik untuk kanker. Sementara pembahasan mengenai Covid-19 muncul di bagian akhir abstrak tanpa penjelasan rinci.
Ia menyebut hipotesis penulis adalah kemungkinan menggabungkan pembuatan sel dendritik untuk kanker dengan virus SARS-CoV-2 agar pasien kanker yang menjalani imunoterapi berbasis vaksin sel dendritik berpotensi memperoleh perlindungan terhadap keduanya.
Namun, dr Ines menegaskan makalah tersebut tidak menyertakan bukti eksperimen, uji pada hewan, maupun uji klinis.
“Saya tidak mengerti mengapa artikel ini dipakai sebagai validasi. Artikel ini tidak membuktikan apa-apa,” ujarnya.
Konteks kontroversi dan rencana penelitian di RSPAD
Vaksin Nusantara sebelumnya menuai kontroversi dan memunculkan pro-kontra. Terapi ini disebut dikembangkan untuk pasien kanker.
Dalam pemberitaan sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, serta Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito menandatangani nota kesepahaman terkait penelitian berbasis pelayanan sel dendritik. Kesepakatan itu disaksikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, penelitian bersifat autologus akan dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto. Artinya, penelitian vaksin sel dendritik itu hanya dipergunakan untuk diri pasien sendiri, sehingga tidak dapat dikomersialkan dan tidak diperlukan persetujuan izin edar.
Sementara itu, Andika Perkasa menyatakan dukungannya terhadap penelitian berbasis pelayanan sel dendritik untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap Covid-19. “Saya berpikir bahwa penelitian ini adalah sesuatu yang sifatnya saintifik. Bagi saya, sesuatu yang sangat mungkin didukung,” ujar Andika, dikutip dari Antara, Kamis (27/5/2021).




