Tradisi Membeli Baju Baru Saat Lebaran di Indonesia: Catatan Sejarah dari Snouck Hurgronje
Jurnal Indonesia - Tradisi membeli baju baru menjelang Idulfitri di Indonesia telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, dengan catatan sejarah yang menunjukkan kebiasaan ini telah mengakar kuat di masyarakat Muslim Nusantara jauh sebelum kemerdekaan.
Awal Kejadian
Salah satu catatan penting berasal dari orientalis Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, yang melakukan pengamatan di Aceh pada awal abad ke-20. Ia mencatat bahwa masyarakat lebih memprioritaskan pembelian pakaian baru dibandingkan dengan daging saat menyambut Lebaran. Dalam buku Aceh di Mata Kolonialis (1906), Snouck menjelaskan bahwa pasar pakaian menjelang akhir Ramadan dipenuhi oleh pembeli, sementara penjualan daging tidak sepadat perdagangan pakaian.
Perkembangan
Menurut Snouck, kebiasaan membeli pakaian baru saat Idulfitri memiliki makna sosial yang kuat, di mana ungkapan kasih sayang seorang suami kepada istri dan anak sering kali diukur dari barang yang dibeli di pasar menjelang hari raya. Fenomena serupa juga ditemukan di Batavia pada masa yang sama, di mana perayaan Lebaran di kota tersebut identik dengan pesta keluarga, hidangan khas, silaturahmi, serta pembelian pakaian baru dan berbagai hiburan. Snouck juga mencatat peningkatan tajam dalam pengeluaran masyarakat saat Lebaran, di mana biaya perayaan menjadi jauh lebih besar dibandingkan hari-hari biasa.
Respons
Beberapa pejabat kolonial Belanda menganggap tradisi tersebut sebagai bentuk pemborosan. Stienmetz dan De Wolff mengkritik kebiasaan masyarakat yang menggelar pesta Lebaran besar-besaran, menilai bahwa sebagian pegawai pribumi membiayai perayaan dengan meminjam uang. Mereka juga menyoroti praktik penyelenggaraan pesta oleh pejabat lokal di kantor pemerintahan yang menggunakan kas negara dan mengusulkan pembatasan perayaan Idulfitri berdasarkan aturan kolonial. Namun, usulan ini tidak didukung oleh Snouck Hurgronje, yang dalam Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Jilid IV (1991) menilai bahwa pelarangan tidak memiliki alasan kuat dan justru berpotensi menimbulkan masalah baru di masyarakat.
Kondisi Terakhir
Tradisi membeli pakaian baru, memasak hidangan khas, berbagi rezeki, dan mudik ke kampung halaman terus bertahan hingga kini, menjadi bagian penting dari perayaan Idulfitri di Indonesia hingga abad ke-21.




