Pola Kekuasaan Fir’aun dalam Konteks Politik Modern
Jurnal Indonesia - Penulis Richard Diamond dalam artikelnya mengaitkan pola kepemimpinan Fir’aun dengan fenomena politik kontemporer, khususnya melalui perilaku Presiden AS Donald Trump yang dinilai mencerminkan narsisme patologis.
Awal Kejadian
Selama tiga ribu tahun sejarah Mesir kuno, terdapat sekitar 180 raja yang menyandang gelar Fir’aun, yang lebih merupakan jabatan politik ketimbang nama pribadi. Al-Qur’an menyebut Fir’aun sebanyak tujuh puluh empat kali, menunjukkan bahwa kisah ini bukan hanya tentang individu, melainkan pola kekuasaan yang lebih luas.
Perkembangan
Diamond mengamati bahwa kepemimpinan Fir’aun muncul kembali dalam bentuk modern, seperti yang terlihat pada perilaku Trump. Ia melihat bahwa karakteristik narsisme patologis—ketidakmampuan menerima batas dan kecenderungan untuk menghancurkan segala ancaman—dapat ditemukan dalam reaksi Trump terhadap kekalahan dalam pemilu 2020. Penolakan Trump terhadap hasil pemilu dianggapnya sebagai penghinaan yang harus dibalas, tidak sebagai fakta politik.
Dalam konteks ini, reaksi Trump terhadap kritik dan kekalahan mencerminkan apa yang disebut sebagai narcissistic rage, di mana kemarahan bukanlah refleksi diri, tetapi serangan balik. Ini terlihat dari sikapnya terhadap media, hakim, dan bahkan mantan pejabat yang tidak lagi mendukungnya, yang berubah dari pujian menjadi serangan.
Kondisi Terakhir
Pola ini menyiratkan bahaya kepemimpinan narsistik yang tidak hanya mempengaruhi keputusan, tetapi juga menciptakan norma bahwa mengakui kesalahan adalah kelemahan. Al-Qur’an mengulang kisah Fir’aun untuk menunjukkan bahwa pola kekuasaan ini terus berulang di berbagai zaman, dengan akhir yang hampir selalu sama: kesombongan kekuasaan yang berujung pada kehampaan.




