Menggali Asal-Usul Bahasa Sansekerta: Warisan yang Terlupakan dari Nusantara
Sejak lama, bahasa Sansekerta dikenal sebagai salah satu bahasa kuno yang berasal dari India. Namun, terdapat berbagai fakta yang menunjukkan bahwa bahasa ini memiliki akar yang kuat di Nusantara. Sejarah kolonialisme dan propaganda yang terjadi di masa lalu telah menyebabkan peran penting Nusantara dalam perkembangan bahasa Sansekerta hampir terlupakan.
Pentingnya Nusantara dalam Sejarah Sansekerta
- Penggunaan Awal Bahasa Sansekerta: Bukti menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah menggunakan bahasa Sansekerta selama ribuan tahun, baik dalam konteks keagamaan, sastra, maupun pemerintahan. Istilah 'bhāṣa' yang berarti 'logat bicara' dalam Sansekerta bahkan telah melekat dalam bahasa daerah kita sebagai 'bahasa'.
- Pengakuan Para Ahli Bahasa: Sir William Jones, seorang filolog asal Inggris, mengakui dalam sebuah pidato pada tahun 1786 bahwa Sansekerta memiliki kesempurnaan luar biasa dan kaitan erat dengan bahasa Yunani serta Latin. Ia juga menyebutkan bahwa bahasa ini berasal dari sumber yang 'kemungkinan sudah tidak ada lagi', yang mungkin merujuk pada bahasa kuno Nusantara.
- Bukti Sejarah Pendidikan: Sebelum Universitas Nalanda di India didirikan pada tahun 427 M, Nusantara telah memiliki pusat pembelajaran besar bernama Dharma Phala yang terletak di Swarnadvipa (Sumatra). Tokoh terkemuka seperti Dharmapala, yang berasal dari Swarnadvipa, berperan dalam penyebaran ajaran Dharma ke India.
- Kata Sansekerta dalam Bahasa Indonesia: Bahasa Indonesia kaya akan kosakata yang berasal dari Sansekerta, termasuk kata-kata seperti 'agama' (āgama), 'cinta' (cintā), dan 'antariksa' (antarikṣa). Menariknya, bahasa Sansekerta tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari di India.
Kaitan Bahasa Sansekerta dan India
Sejarah konvensional sering kali mengaitkan Sansekerta dengan Pāṇini, seorang pakar tata bahasa dari wilayah yang kini dikenal sebagai Pakistan. Pāṇini menulis Aṣṭādhyāyī pada abad ke-5 SM, yang berisi aturan tata bahasa Sansekerta. Namun, tidak ditemukan bukti tertulis yang lebih tua di India, sementara aksara yang dianggap sebagai asal Sansekerta, seperti Brahmi dan Devanagari, baru muncul antara abad ke-3 SM hingga abad ke-11 M.
Sansekerta: Bahasa yang Terakumulasi?
Peneliti Shyama Rao mencatat bahwa Sansekerta tampaknya merupakan bahasa yang 'dirakit' dari berbagai bahasa lain. Ia menunjukkan beberapa kelemahan dalam tata bahasa Sansekerta, seperti kompleksitas dan ketidak konsistenan. Menarik untuk dicatat bahwa di India, jumlah penutur Sansekerta sangat kecil, dengan hanya sekitar 555 orang dari total 362 juta penduduk pada tahun 1951.
Pengaruh Budaya dan Bahasa Nusantara
Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa budaya dan bahasa Nusantara berkembang terlebih dahulu dan memengaruhi India. Misalnya, banyak nama raja di Kamboja memiliki akhiran 'Warman', seperti Adityawarman dari Majapahit, sementara nama raja modern Kamboja semakin jauh dari unsur bahasa Nusantara. Selain itu, bahasa-bahasa daerah di Nusantara, seperti Jawa, Sunda, dan Bali, memiliki banyak unsur Sansekerta, dan bahasa Melayu sendiri memiliki sekitar 50% kosakata yang berasal dari Sansekerta.
Kesimpulan: Mengakui Warisan Nusantara
Sejarah yang dipengaruhi oleh kolonialisme telah mengaburkan fakta penting tentang asal usul bahasa Sansekerta. Sudah saatnya kita mengakui bahwa Nusantara memiliki sejarah bahasa dan budaya yang kaya serta berkontribusi besar dalam perkembangan bahasa Sansekerta. Dalam konteks modern, nama 'JavaScript' sebagai bahasa pemrograman yang fleksibel pun mengacu pada kemampuan berbahasa masyarakat Jawa, menunjukkan relevansi warisan kita hingga saat ini.




