Laxmy Saraswati: Rocker yang Menggunakan Musik sebagai Terapi Sosial untuk Lansia
Jurnal Indonesia - DENPASAR, NusaBali - Di balik tugasnya sebagai Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Denpasar, I Gusti Ayu Laxmy Saraswati memiliki sisi lain yang tak banyak diketahui publik. Dia adalah seorang rocker yang sejak kecil akrab dengan dunia panggung dan musik.
Perempuan yang akrab disapa 'Ibu Rocker' ini mengaku mengenal musik sejak taman kanak-kanak pada 1977. Dia sudah berlatih balet, organ, dan menyanyi.
Sang ayah yang dikenal disiplin dalam bermusik mendorong ketiga anaknya Dananjaya, Laxmy, dan Airlangga untuk menjadi penyanyi. “Bagi ayah saya, penyanyi itu harus mampu menguasai panggung, berarti juga menguasai karakter,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Sejak kecil dia sudah akrab dengan lagu-lagu rock dan pop. Musik, menurutnya, bukan sekadar hiburan, tetapi energi yang membentuk karakter dan semangat hidup. Kebahagiaan selalu dia rasakan setiap kali tampil di hadapan publik.
Kini, kecintaannya pada musik tak hanya menjadi passion pribadi, tetapi juga diintegrasikan dalam tugas sosialnya. Melalui Komunitas Pejalan Lapangan Puputan (KAPLUT) Band binaan Dinas Sosial Denpasar, dia kerap menghibur para lansia, single mother, hingga kelompok rentan lainnya. Lagu-lagu nostalgia menjadi pengikat memori masa silam sekaligus menghadirkan suasana bahagia.
“Bernyanyi itu melepaskan ketegangan. Tapi lebih dari itu, bisa menjadi inovasi untuk membahagiakan banyak orang,” katanya.
Menurutnya, seni dan kesejahteraan sosial memiliki hubungan erat. Musik dapat menjadi terapi sosial, membantu mereka yang merasa sendiri, putus asa, atau kehilangan semangat. Bahkan, dia menyebut sejumlah anak berkebutuhan khusus menunjukkan perkembangan positif melalui pendekatan musik.
Tak hanya KAPLUT Band, Dinsos Denpasar juga membentuk Swara Dinsos Jaya sebagai bagian dari program gerak dan lagu untuk masyarakat. Musik kerap dihadirkan dalam berbagai kegiatan sosial sebagai medium rehabilitasi sekaligus pendekatan emosional.
Sebagai pejabat, Laxmy memilih tampil apa adanya. Dia tidak ingin terlalu formal ketika melayani masyarakat. Baginya, jabatan adalah amanah, tetapi yang lebih penting adalah kehadiran yang tulus.
“Saya tidak ingin sekadar menjadi pejabat. Ketika melayani masyarakat, saya lebih merasa sebagai relawan,” tegasnya.
Dia mengaku sering menerima curhat warga, baik yang datang langsung ke kantor maupun menghubungi secara pribadi. Baginya, mendengarkan adalah bagian dari terapi agar masyarakat tidak merasa sendiri menghadapi persoalan hidup.
Di panggung musik, dia terinspirasi oleh vokalis dunia seperti Tina Turner, Taylor Dayne, Whitney Houston, hingga Nicky Astria. Genre rock, menurutnya, membentuk karakter kuat dan semangat pantang menyerah.
Semangat 'rock and roll' itulah yang juga dia bawa dalam kehidupan pribadinya. Sebagai single mother, dia pernah mendampingi sang suami yang sakit kanker otak hingga mengalami kebutaan. Dalam situasi sulit itu, dia memilih tetap kuat dan menjadi sandaran bagi keluarga.
“Perempuan harus punya jiwa rock and roll. Rock itu kuat dalam kondisi apa pun, roll itu siap bergerak dan bangkit,” tandasnya.
Baginya, seni adalah semesta empati, dan kepemimpinan adalah amanah untuk membahagiakan masyarakat. Ketika jiwa bahagia, menurutnya, pelayanan sosial pun akan berjalan lebih manusiawi.




