Peningkatan Kesadaran Kesehatan Pasca Lebaran: Dari Cek Kolesterol hingga Gangguan Pencernaan
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Peningkatan Kesadaran Kesehatan Pasca Lebaran: Dari Cek Kolesterol hingga Gangguan Pencernaan

Jurnal Indonesia - KOMPAS.com - Perayaan Idul Fitri identik dengan momen kebersamaan bersama keluarga sekaligus menikmati beragam hidangan khas hari raya.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat perubahan pola kesehatan masyarakat yang cukup menarik.

Laporan terbaru Halodoc menunjukkan adanya peningkatan keluhan kesehatan, sekaligus kesadaran masyarakat untuk memantau kondisi tubuh setelah perayaan Idulfitri.

Tren ini terlihat dari meningkatnya pemeriksaan kesehatan, konsumsi produk diet, hingga konsultasi terkait gangguan pencernaan.

Data pada perayaan Idul Fitri 2025 menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin proaktif dalam memeriksa kondisi tubuhnya, terutama setelah periode makan berlebih selama Ramadan dan Lebaran.

Tren masalah kesehatan pasca Lebaran

Peningkatan kesadaran memeriksa kesehatan

Salah satu tren yang paling mencolok adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan metabolik.

Dalam laporan tersebut, satu minggu setelah Idul Fitri, jumlah tes laboratorium untuk kolesterol dan gula darah meningkat hingga 95 persen dibandingkan rata-rata mingguan biasa.

Lonjakan ini menunjukkan, bahwa masyarakat mulai lebih sadar pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara mandiri setelah menikmati berbagai hidangan tinggi lemak dan gula selama perayaan.

Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria mengatakan, perayaan Idul Fitri memang menjadi momen penting bagi masyarakat untuk berkumpul dan menikmati hidangan bersama keluarga.

Ia menambahkan, laporan tersebut menunjukkan adanya perubahan pola perilaku masyarakat yang mulai lebih seimbang dalam merayakan hari raya.

“Kami memahami betapa berartinya momen kebersamaan ini dan laporan kami menunjukkan masyarakat mulai menerapkan cara yang lebih seimbang dalam merayakannya,” jelasnya, seperti disadur dari siaran pers Halodoc, Rabu (11/3/2026).

Lihat Foto

Selain pemeriksaan kesehatan, tren lain yang terlihat adalah meningkatnya minat masyarakat dalam mengelola berat badan dan nutrisi setelah Lebaran.

Dalam periode yang sama, pembelian produk kesehatan untuk diet tercatat naik hingga 62 persen.

Produk yang paling banyak dicari antara lain minuman serat, teh detoks, suplemen pengendali kolesterol, hingga kapsul herbal pelangsing.

Fenomena ini menunjukkan bahwa setelah menikmati berbagai hidangan tinggi kalori selama Lebaran, masyarakat cenderung mulai memperbaiki pola makan mereka.

Keluhan sembelit dan diare ikut meningkat

Di sisi lain, laporan tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan keluhan terkait gangguan pencernaan.

Keluhan sembelit mulai meningkat sejak minggu pertama Ramadhan dengan kenaikan sekitar 20 persen dan mencapai puncaknya pada minggu Idul Fitri dengan kenaikan hingga 37 persen.

Menariknya, konsultasi terkait sembelit pada waktu subuh meningkat drastis hingga 593 persen, tertinggi dibandingkan periode waktu lainnya.

Selain sembelit, keluhan diare juga mengalami peningkatan setelah perayaan Idulfitri.

Tercatat terdapat kenaikan rata-rata keluhan diare sebesar 13 persen dalam dua minggu setelah Lebaran. Gejala yang paling sering dilaporkan meliputi sakit perut, muntah, demam, hingga rasa lemas dan pusing.

Fibriyani menilai kondisi ini merupakan bentuk adaptasi tubuh terhadap perubahan pola makan selama Ramadan dan Lebaran.

“Meskipun ada tantangan fisik dan mental seperti adaptasi tubuh seperti peningkatan pada keluhan sembelit dan diare, peningkatan pemeriksaan kesehatan mandiri menunjukkan bahwa masyarakat sudah lebih siap dan berdaya dalam memitigasi risiko,” ujarnya.

Pentingnya memilih bahan pangan yang lebih sehat

Hidangan khas Lebaran seperti gorengan dan kue kering umumnya mengandung lemak yang memberikan cita rasa gurih. Namun, konsumsi lemak tertentu secara berlebihan dapat berdampak pada kesehatan.

Apical turut memberikan perspektif mengenai pentingnya memilih bahan pangan yang berkualitas, khususnya terkait kandungan lemak seperti trans fat dan lemak jenuh.

Trans fat merupakan jenis lemak yang terbentuk ketika minyak cair diproses menjadi lebih padat agar lebih tahan lama.

Proses ini dikenal sebagai partial hydrogenation yang sering digunakan dalam pengolahan makanan untuk menghasilkan tekstur lebih renyah dan memperpanjang masa simpan produk.

Head of Apical Innovation Centre (AIC) Global Farhana June Jamil menekankan pentingnya memilih bahan pangan secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

“Tantangannya adalah memilih bahan pangan secara bijak, terutama dalam mengendalikan konsumsi asupan trans fat yang berisiko bagi kesehatan,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi industri pangan kini memungkinkan penggunaan bahan yang lebih sehat.

“Saat ini, kemajuan teknologi industri pengolahan minyak memungkinkan kami menyediakan bahan pangan berkualitas tinggi yang bebas lemak trans industri,” katanya.

Farhana menambahkan, inovasi tersebut bertujuan untuk menjaga cita rasa hidangan khas hari raya sekaligus memperhatikan aspek kesehatan.