Laba Astra Turun 3,33% Jadi Rp32,76 Triliun, Dividen Tetap Diusulkan Rp390 per Saham
Jurnal Indonesia - Emiten Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk (laba bersih) sebesar Rp32,76 triliun per 31 Desember 2025. Angka ini turun 3,33% dibandingkan Rp35,40 triliun per 31 Desember 2024. Di tengah penurunan laba tersebut, perseroan mengusulkan dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp292 per saham.
“Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” jelas Presiden Direktur Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro, dari keterangan resmi yang diterima SWA.co.id pada Jumat dini hari (27/2/2026).
Sejalan dengan penurunan laba, laba per saham perseroan juga menyusut menjadi Rp810 pada 2025. Manajemen mencatat penurunan sekitar 3% dari Rp837 per saham pada tahun sebelumnya.
Dividen final Rp292 per saham tersebut akan diusulkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada April 2026. Jika digabungkan dengan dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025, maka total dividen yang diusulkan untuk tahun buku 2025 menjadi Rp390 per saham, dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48%.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat dini hari, pendapatan bersih ASII juga menurun menjadi Rp323,39 triliun pada 2025. Meski turun tipis 1,54%, pendapatan bersih pada 2024 tercatat sebesar Rp328,48 triliun.
Pendapatan bersih tersebut berasal dari segmen penjualan barang, jasa dan sewa, serta jasa keuangan. Rinciannya, segmen penjualan barang tercatat Rp216,48 triliun, jasa dan sewa Rp73,62 triliun, sementara segmen jasa keuangan meningkat menjadi Rp33,28 triliun.
Sebagai pembanding, pada 2024 perseroan membukukan pendapatan segmen penjualan barang Rp219,69 triliun, jasa dan sewa Rp78,35 triliun, serta jasa keuangan Rp30,43 triliun.
Di sisi biaya, perseroan menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp251,94 triliun pada 2025, turun 1,35% dari Rp255,42 triliun pada 2024. Namun, laba bruto tetap tergerus menjadi Rp71,44 triliun, turun 2,21% dari Rp73,05 triliun pada 2024.
Manajemen juga mencermati kenaikan sejumlah beban pada 2025. Beban penjualan meningkat menjadi Rp11,74 triliun dari Rp11,06 triliun, sementara beban umum dan administrasi naik menjadi Rp21,03 triliun dari Rp19,59 triliun.
Di sisi lain, penghasilan bunga meningkat menjadi Rp3,65 triliun dari Rp3,28 triliun, sedangkan biaya keuangan turun menjadi Rp3,73 triliun dari Rp3,80 triliun. Perseroan juga mencatat kerugian selisih kurs—bersih sebesar Rp70 miliar, membaik dari Rp532 miliar pada 2024.
Pos penghasilan lain-lain—bersih turun menjadi Rp1,15 triliun dari Rp1,36 triliun. Sementara itu, bagian atas hasil bersih ventura bersama dan entitas asosiasi menurun menjadi Rp9,61 triliun dari Rp10,29 triliun.
Dari sisi neraca, ASII mencatat total aset sebesar Rp507,36 triliun pada 2025, meningkat 7,61% dari Rp471,44 triliun pada 2024. Kenaikan ini salah satunya ditopang oleh aset lancar, khususnya kas dan setara kas yang meningkat menjadi Rp52,62 triliun dari Rp48,43 triliun.
“Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8 triliun pada 31 Desember 2024,” jelas manajemen perseroan pada keterangan resmi kemarin malam.
Sementara itu, total liabilitas meningkat 8,57% menjadi Rp216,55 triliun pada 2025, dari Rp199,44 triliun pada 2024. Kenaikan liabilitas antara lain dipengaruhi oleh utang bersih anak perusahaan jasa keuangan grup yang mencapai Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025, naik dari Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.
Di tengah kenaikan liabilitas, perseroan mencatat ekuitas sebesar Rp290,81 triliun pada 2025, naik 6,91% dari Rp272 triliun pada 2024.
Pada perdagangan Jumat (27/2/2026), saham ASII berada di level Rp6.700 pada pukul 10.26 WIB, melemah 0,37% dibandingkan level Rp6.725. Pada pembukaan pagi, saham ASII dibuka di Rp6.725, sempat menyentuh level tertinggi Rp6.750, dan bergerak turun hingga level terendah Rp6.650.
Nilai kapitalisasi pasar ASII tercatat sekitar Rp271 triliun. Volume transaksi setelah pembukaan mencapai 8,72 juta saham, dengan nilai transaksi Rp58,41 miliar dan frekuensi 3.311 kali. Dinamika tersebut masih berlangsung hingga jeda sesi pertama pada pukul 12.00 WIB. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.




