Ketidakpercayaan Global terhadap Amerika Serikat dalam Diplomasi Internasional
Sumber Foto: Aktual.com
Catatan Indonesia

Ketidakpercayaan Global terhadap Amerika Serikat dalam Diplomasi Internasional

Jurnal Indonesia - Ketidakpercayaan global terhadap Amerika Serikat (AS) dalam konteks diplomasi internasional semakin mengemuka, terutama terkait dengan kepatuhan terhadap hukum internasional dan komitmen terhadap perjanjian yang dibuat. Skeptisisme ini muncul akibat berbagai tindakan AS yang dinilai tidak konsisten dan merugikan negara lain.

Awal Kejadian

Contoh nyata dari ketidakpercayaan ini terlihat dalam kebijakan AS terhadap Venezuela. Upaya untuk melengserkan pemerintahan yang sah, seperti pengakuan terhadap Juan Guaido, menunjukkan bahwa AS cenderung mengabaikan hukum internasional demi kepentingan politiknya. Tindakan ini menciptakan preseden berbahaya terkait campur tangan dalam kedaulatan negara lain.

Perkembangan

Pergeseran fokus ke Timur Tengah menunjukkan pola serupa, terutama dalam hubungan AS dengan Iran. Kesepakatan nuklir JCPOA yang dibangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun dibatalkan oleh tindakan sepihak presiden AS, menegaskan bahwa perjanjian dengan AS dapat berakhir sewaktu-waktu. Selain itu, serangan mendadak terhadap target di Iran tanpa konsultasi dengan sekutu semakin memperlihatkan bahwa AS bertindak sendiri di panggung internasional.

Kondisi Terakhir

Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, AS dikategorikan sebagai mitra strategis. Namun, hubungan ini sering kali disertai dengan ancaman tarif yang dapat mengganggu perekonomian negara mitra. Hal ini menciptakan kesan bahwa diplomasi AS bersifat transaksional dan menguntungkan pihak tertentu saja. Selain itu, ketidakadilan dalam dukungan AS terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Palestina menunjukkan standar ganda yang dipegang oleh AS, merusak kredibilitas moralnya. Dengan kondisi ini, kepercayaan dunia terhadap AS sebagai mitra dalam diplomasi internasional dipertanyakan, dan hal ini menjadi tantangan bagi negara-negara untuk menavigasi hubungan diplomatik dengan bijak.