Kemenkeu Ungkap Ketahanan Ekonomi Indonesia di Akhir 2025
Sumber Foto: Infobanknews
Catatan Indonesia

Kemenkeu Ungkap Ketahanan Ekonomi Indonesia di Akhir 2025

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia di akhir tahun 2025 menunjukkan ketahanan yang signifikan, meskipun di tengah tantangan global. Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, yang menyatakan bahwa industri manufaktur yang berkembang pesat, inflasi yang terkendali, dan neraca perdagangan yang surplus menjadi pilar utama ketahanan ekonomi nasional.

Menurut Febrio, kinerja sektor manufaktur Indonesia pada akhir tahun 2025 berada dalam fase ekspansif, dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur mencapai 51,2. Ini menandakan bahwa sektor ini telah mengalami pertumbuhan selama lima bulan berturut-turut, didorong oleh permintaan domestik yang kuat, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku yang meningkat.

Secara global, negara-negara mitra utama Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan dalam sektor manufaktur, seperti Amerika Serikat dengan PMI sebesar 51,8, China sebesar 50,1, dan India sebesar 55,7. Di kawasan ASEAN, Thailand dan Malaysia juga mencatatkan PMI yang menguat, yang memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Neraca Perdagangan yang Positif

Neraca perdagangan Indonesia pada bulan November 2025 mencatat surplus sebesar USD2,66 miliar, melanjutkan tren surplus yang sudah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif, sepanjang periode Januari hingga November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencapai surplus USD38,54 miliar, meningkat USD9,30 miliar dibandingkan periode sebelumnya.

Ekspor selama periode tersebut tercatat sebesar USD256,56 miliar, meningkat 5,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar. Sementara itu, impor tercatat mencapai USD218,02 miliar, mengalami kenaikan 2,03 persen, terutama disebabkan oleh peningkatan barang modal yang berkaitan dengan aktivitas produksi.

Inflasi yang Terkendali

Di sisi inflasi, Kemenkeu melaporkan bahwa tingkat inflasi di Indonesia tetap terjaga pada angka 2,92 persen (tahun ke tahun). Meskipun terdapat kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan, inflasi inti dan inflasi harga yang diatur (administered price) tetap stabil. Inflasi volatile food, yang dipengaruhi oleh cuaca dan distribusi, tercatat mencapai 6,21 persen, sedangkan inflasi administered price sedikit meningkat menjadi 1,93 persen.

Febrio menambahkan bahwa inflasi inti berada di level 2,38 persen, didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan. Kebijakan intervensi harga dan pasokan diharapkan dapat menjaga keterjangkauan harga pangan di pasaran.

Peningkatan Indikator Ekonomi Domestik

Indikator-indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan yang signifikan pada akhir tahun 2025. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) meningkat menjadi 124, sementara Indeks Penjualan Riil tumbuh sebesar 5,94 persen, dengan peningkatan penjualan di sektor makanan, minuman, dan juga mobilitas masyarakat.

Aktivitas ekonomi yang menguat juga terlihat dari peningkatan penjualan listrik di sektor bisnis yang tumbuh sebesar 6,2 persen. Kemenkeu menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat momentum pertumbuhan melalui kebijakan fiskal yang mendukung program pembangunan nasional.