Tragedi YBS: Kemiskinan Ekstrem Menghapus Harapan Anak di Ngada
Sumber Foto: Islami[dot]co
Sosial

Tragedi YBS: Kemiskinan Ekstrem Menghapus Harapan Anak di Ngada

Membacanya benar-benar membuat kelu. Dada sesak. Perasaan bercampur aduk antara sedih, marah, prihatin, dan juga kecewa. Sebuah surat pendek, ditulis dengan tangan anak kecil, di secarik kertas biasa. Namun isinya mematahkan logika kebijakan, meruntuhkan data-data statistik, dan program-program yang disebut ideal digaungkan di podium-podium terhormat.

Surat buat Mama Reti

Surat itu ditulis oleh seorang anak kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Namanya YBS. Usianya belum genap dua belas tahun. Ia pergi, bukan karena perang, bukan karena bencana alam, melainkan karena sesuatu yang bagi banyak orang di kota mungkin terasa sepele: buku dan pena seharga kurang dari sepuluh ribu rupiah.

Namun bagi YBS dan keluarganya, sepuluh ribu rupiah bukan sekadar uang. Ia adalah batas tipis antara bisa dan tidak bisa, antara sekolah dan tertinggal, antara harapan dan putus asa.

Ibunya, MGT (47 tahun), adalah seorang janda dengan lima anak. Ia bekerja serabutan—kadang sebagai petani, kadang buruh harian—mengais rupiah di tanah yang kerap lebih kering dari harapan. Untuk mengurangi beban, YBS diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Tapi rupanya, yang terjadi justru sebaliknya. Dalam kesunyian dan rasa tak ingin merepotkan siapa pun, YBS memilih jalan paling sunyi: mengakhiri hidupnya sendiri.

Di titik ini, kata-kata Menteri Sosial, Saifullah Yusuf seperti menemukan wajahnya yang paling tragis. Dalam sebuah kolom di Detik.com, ia menulis: “kemiskinan yang sunyi, kemiskinan yang bekerja dalam diam, menghapus keberanian seseorang untuk bermimpi, lalu perlahan membuat mereka seolah tiada.”

Itulah yang menimpa YBS. Ia bukan tidak ingin bermimpi. Ia hanya tidak punya cukup ruang untuk mempertahankan mimpi itu.

Dan Presiden Prabowo Subianto, dalam Sidang Kabinet Merah Putih pada 20 Oktober 2025, pernah menyebut mereka sebagai “the invisible people” —orang-orang paling bawah yang sering tidak terlihat dan tidak dirasakan penderitaannya. Peristiwa di Ngada ini membuktikan bahwa istilah itu bukan sekadar retorika. Mereka benar-benar ada, benar-benar hidup, dan benar-benar bisa hilang tanpa suara.

Kemiskinan yang Membunuh Perlahan

Kemiskinan ekstrem seperti yang dialami keluarga YBS adalah jenis kemiskinan yang paling berbahaya. Ia tidak selalu meledak menjadi kerusuhan atau kriminalitas. Ia bekerja dalam diam, merayap masuk ke batin anak-anak, menumbuhkan rasa bersalah hanya karena mereka ingin belajar.

Bagi YBS, meminta uang untuk buku dan pena mungkin terasa seperti dosa. Ia tahu ibunya sudah terlalu lelah. Ia tahu neneknya terlalu renta. Maka ia memilih menyingkir, seolah keberadaannya sendiri adalah beban.

Padahal, guru-gurunya menyebut YBS sebagai anak yang pintar dan berprestasi. Ia bukan anak yang malas. Ia hanya lahir di keluarga yang terlalu miskin untuk bermimpi dengan aman.

Di sinilah pertanyaan tentang pendataan dan kehadiran negara menjadi tak terelakkan. Apakah keluarga seperti MGT benar-benar sudah terjangkau oleh sistem bantuan sosial? Apakah perangkat desa, RT/RW, dan kelurahan benar-benar mengetahui kondisi warganya? Jika mereka terdata sebagai penerima bantuan, mungkinkah tragedi ini bisa dicegah?

Kemiskinan tidak boleh dibiarkan menjadi tak terlihat. Sebab ketika ia tak terlihat, ia juga tak tertangani.

Sekolah Bukan Sekadar Bangunan

Tragedi YBS juga memanggil dunia pendidikan untuk bercermin. Sekolah bukan hanya tempat transfer pengetahuan. Ia adalah ruang di mana anak-anak seharusnya merasa aman, dikenali, dan dilindungi.

Seorang budayawan, Goenawan Mohamad, pernah menulis bahwa pendidikan sejatinya adalah “usaha untuk membuat manusia tidak merasa sendirian di dunia.” YBS justru merasa sendirian—di tengah sekolah, di tengah keluarga, di tengah masyarakat.

Jika sekolah lebih peka, jika ada mekanisme cepat untuk membantu siswa yang tak mampu membeli alat tulis, barangkali surat perpisahan itu tak perlu pernah ditulis.

Dana bantuan operasional sekolah, solidaritas guru, dan kepekaan lingkungan sekolah seharusnya bisa menjadi jaring pengaman pertama. Harga sebuah buku dan pena tidak pernah sebanding dengan harga sebuah nyawa.

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda

Di titik inilah program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda menemukan urgensinya. Kedua program ini dirancang Presiden Prabowo sebagai bentuk kehadiran negara bagi anak-anak dari keluarga paling rentan—mereka yang sering terlewat oleh sistem reguler.

Sekolah Rakyat, dengan pendekatan berbasis komunitas dan keberpihakan pada anak miskin ekstrem, seharusnya menjadi tempat pertama yang menjangkau anak seperti YBS. Sekolah Garuda, dengan misi membuka akses pendidikan bermutu bagi anak-anak dari latar belakang paling sulit, seharusnya menjadi jembatan agar bakat tidak dikalahkan oleh nasib.

Namun program, betapa pun mulianya, tidak akan berarti tanpa data yang akurat dan kepekaan di tingkat akar rumput. Negara harus tahu di mana YBS-YBS lain berada—sebelum mereka menulis surat terakhirnya.

Tragedi di Ngada bukan hanya kisah duka satu keluarga. Ia adalah cermin bagi kita semua: betapa mudahnya seorang anak hilang di antara celah-celah kebijakan dan ketidakpedulian.

Kemiskinan yang sunyi, seperti ditulis Gus Ipul, memang bekerja dalam diam. Tetapi negara, sekolah, dan masyarakat tidak boleh ikut diam. Karena di suatu tempat, mungkin saat ini, ada anak lain yang sedang menatap buku kosong tanpa pena. Dan di dalam dadanya, mungkin sedang bertarung antara bertahan dan menyerah. Kita tidak boleh membiarkan harga sebuah pena kembali menjadi harga sebuah nyawa. []