Strategi Sehat Atasi Obesitas Anak Tanpa Diet Ketat
Jurnal Indonesia - JAKARTA, KOMPAS.com - Masalah obesitas pada anak kini menjadi perhatian serius bagi banyak orangtua di Indonesia selain isu kekurangan gizi.
Tak jarang, pola asuh nutrisi yang kurang tepat, seperti pemberian asupan susu yang berlebihan karena dianggap dapat menunjang pertumbuhan tinggi badan, justru menjadi pemicu utama melonjaknya berat badan anak melampaui batas ideal.
Menanggapi hal tersebut, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, mengatakan bahwa proses penurunan berat badan anak harus dilakukan secara sehat dan bertahap, tanpa memaksa dan mengabaikan aspek psikologis si kecil.
"Paling sering kan obesitas pada anak-anak sudah usia sekolah. Nah, nomor satu yang harus dibatasi adalah jangan dikasih susu," ujar dr. Ian dalam acara Health Corner bertajuk "Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat" di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).
Cara mengatasi anak obesitas
Batasi konsumsi susu dan pilih jenis yang tepat
Menurut dr. Ian, batasan maksimal 450 ml susu per hari adalah aturan yang penting untuk diterapkan pada anak yang sudah mengalami obesitas.
Ia mengungkapkan, banyak orangtua masih salah kaprah dengan memberikan susu dalam jumlah berlebih, padahal kelebihan asupan ini justru memperburuk kondisi berat badan anak.
"Karena banyak banget pasienku minum susu bisa sampai satu liter, katanya buat jadi tinggi badannya jadi bagus atau berat badannya jadi bagus, itu salah ya. Justru tidak boleh kalau gitu," ungkap dr. Ian.
Selain membatasi jumlah, jenis susu yang dikonsumsi pun harus diperhatikan. Misalnya, orangtua tidak memberikan susu tinggi kalori atau sutingkal.
"Kalau sudah obesitas ya pasti susu yang biasa saja, yang fresh milk saja gitu istilahnya," jelas dokter spesiais anak yang berpraktik di Tzu Chi Hospital PIK itu.
Sebagai informasi, sutingkal termasuk dalam kategori Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK). Berbeda dengan susu formula biasa, sutingkal memiliki kepadatan energi yang jauh lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan kalori anak yang tertinggal pertumbuhannya.
Dengan memilih susu segar atau fresh milk, orangtua dapat menekan asupan kalori tambahan yang biasanya ditemukan pada sutingkal.
Ganti camilan manis dengan buah
Selain pengaturan susu, dr. Ian juga menyoroti kebiasaan ngemil pada anak. Orangtua disarankan untuk lebih selektif dalam menyediakan camilan di rumah.
Ia menyarankan agar orangtua tidak memberikan makanan ringan yang memiliki kadar gula tinggi karena dapat memicu lonjakan energi yang tidak diperlukan dan penimbunan lemak.
"Jangan camilan yang tinggi gula. Gunakanlah camilan-cemilan yang buah saja kalau bisa," tutur dr. Ian.
Transisi dari camilan olahan ke buah-buahan segar dianggap lebih aman bagi kesehatan fisik anak, sekaligus membantu membentuk selera makan yang lebih sehat sejak dini.




