Risiko Kesehatan dalam Diet Karnivora untuk Penurunan Berat Badan
Diet karnivora kerap diklaim mampu menurunkan berat badan secara cepat. Pola makan ini mengandalkan konsumsi pangan hewani sepenuhnya tanpa sayur, buah, maupun sumber nabati lainnya.
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University Prof Sri Anna Marliyati membenarkan penurunan berat badan memang bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun, ia mengingatkan ada risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, penurunan berat badan pada fase awal diet karnivora umumnya disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen dan cairan tubuh, bukan pembakaran lemak yang optimal dan sehat. Pada tahap adaptasi, tubuh juga bisa mengalami berbagai keluhan, seperti kelelahan.
“Diet karnivora tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang. Jika pun dilakukan, harus dengan pengawasan medis ketat dan bersifat sementara,” ujar Sri Anna, dikutip dari ipb.ac.id, Senin (16/2/2026).
Sri menjelaskan diet ini menghilangkan kelompok pangan nabati yang justru penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serat, dan fitokimia. Padahal, tidak ada satu jenis makanan pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi tubuh.
Karena itu, pola makan beragam menjadi prinsip utama dalam gizi seimbang. Sri Anna pun menegaskan diet karnivora berpotensi menyebabkan defisit serat, vitamin C, folat, dan berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam menjaga kesehatan metabolik. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai, antara lain:
Kesehatan Jantung
Konsumsi tinggi lemak jenuh dan kolesterol berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), terutama pada individu dengan riwayat dislipidemia. Tidak adanya serat juga dapat mengganggu metabolisme lemak.
Beban Kerja Ginjal Meningkat
Asupan protein yang sangat tinggi memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring limbah nitrogen. Tanpa hidrasi cukup, risiko gangguan ginjal hingga gagal ginjal dapat meningkat, khususnya pada individu dengan riwayat penyakit ginjal.
Gangguan Saluran Cerna
Ketiadaan serat dapat menyebabkan konstipasi dan ketidakseimbangan mikrobiota usus. Konsumsi lemak tinggi juga memicu produksi asam empedu berlebih yang dalam jangka panjang berpotensi merusak mukosa usus dan meningkatkan risiko kanker kolorektal.
Selain itu, tidak adanya serat membuat tubuh kehilangan produksi asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/SCFA) seperti butirat, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan usus, sistem imun, dan metabolisme. Risiko ini kerap bersifat “silent” dan baru terasa dalam jangka panjang.
Sebagai alternatif, Prof Sri Anna merekomendasikan pola makan yang tetap tinggi protein tetapi seimbang, dengan komposisi protein sekitar 20–25% dari total energi dan tetap mengandung karbohidrat kompleks serta serat.
Pola lain yang telah banyak diteliti adalah Mediterranean diet, yang menyeimbangkan protein hewani dan nabati, tinggi serat, serta kaya lemak tak jenuh. Pola ini terbukti membantu menurunkan risiko penyakit tidak menular.
“Pola ini mudah diterapkan, sesuai budaya makan Indonesia, dan aman untuk populasi luas,” tutur Sri Anna.




